Wednesday, November 25, 2009

Yang Paling Berharga Dalam Hidup

Mengutip kata-kata Bertrand Russel;

"yang paling berharga dalam hidup TIDAK DIUKUR oleh pertimbangan keuangan. hal-hal yang sebetulnya penting BUKANLAH rumah, tanah, mobil, real estate, MELAINKAN persahabatan, kepercayaan, keyakinan, empati, cinta, kasih sayang, dan iman."

Selamat berpuasa Arafah bagi sobat-sobat yang menunaikannya,
hari ini dan besok...



Wednesday, November 11, 2009

♫♪ THE GREATEST SONG VERSES TO ME ♫♪

1. aku kembali terduduk di atas kebekuan bara hati...
2. coba bawakan dia, meski hanya lewat mimpi...
[Asmara Satu Ketika, EBIET G. ADE]

 

3. ku menatap dalam kelam, tiada yang bisa kulihat, selain hanya nama-Mu yaa Allaah...
4. saat Kaulimpahkan karunia-Mu, dalam sunyi aku bersujud...
[Kepada-Mu Kubersujud, AFGAN]

 

5. letih, meski mencoba melabuhkan rasa yang ada...
6. Cinta 'kan membawamu kembali di sini, menuai rindu, membasuh perih...
[Cinta 'kan Membawamu Kembali, DEWA 19]

 

7. betapa banyak kanvas kugores lukisan wajah-Mu... namun tak pernah dapat kureka keteduhan-Nya...
[Rindu Kehadiran-Mu, EBIET G. ADE]

 

8. aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa Kaurindu...
[Dealova, ONCE]

 

9. tajuk bak permata, siratan bintang kejora...
[Melati Suci, GSP]

 

10. maumu jadi mauku, pahitpun itu kutersenyum.
11. mauku tak penting lagi, biar kubuat bahagiamu.
[Masih Cinta, KOTAK]





Tuesday, November 3, 2009

[Specific] Phobia

SELAMAT kepada Anda yang terus menuangkan gagasan di dunia maya, sebab di luar pengetahuan awam ada sebagian orang yang ternyata mengalami gangguan psikis yg disebut  

PHRONEMOPHOBIA [ketakutan berpikir]
&
LOGOPHOBIA [ketakutan atas kata2],

dan rasa takut tersebut sungguh-sungguh besar serta irrasional. Ada ribuan rasa takut dlm diri stiap orang, dan mereka yang sukses adalah yg mampu mengelolanya dgn baik...


Apa phobia Anda?




Saturday, September 19, 2009

Memorabilia of Journey

Personal note in correspondence with the journey to Iedul Fithr;
 

Mahasuci ALLAH dari kepentingan terhadap makhluk.
Apapun yg qta lakukan takkan memberi manfaat maupun mudharat thdp-NYA. Namun IA akan "tersenyum" ridha jika mendapati makhluk-NYA yg beriman kpd-NYA berbuat baik & memberi manfaat bagi sesama. Jika IA mendapati makhluk-NYA bertaubat kpd-NYA pun demikian. KASIH SAYANG-NYA Mahaluas, sangat jauh lebih luas drpd kasih sayang seorang ibu yg paling pengasih & penyayang kpd anak yg paling dikasihi & paling disayangi. Jangan pernah enggan tuk mohon kemaafan & pengampunan dari-NYA, sekotor dan sejahat apapun adanya kita , ketika pinta terucap dan niat baik tertancap dalam dada maka IA akan melimpahkan kemahaluasan kasih-sayang-NYA. DIA menginginkan makhluknya hidup damai, seiring sejalan saling membantu, mengingatkan, dan mengajari, demi kelangsungan & keselamatan hidup makhluk-NYA sendiri.

Adalah sangat sulit untuk mengawal hati dan perbuatan kita agar kedamaian hidup dapat teraih. Tanpa mengasah hati maka akan sulit bagi kita untuk membedakan mana kebaikan sejati dan mana kebaikan palsu yang menipu. Seperti mengasah pemotong yg harus menghadapkan, dan memerangkan alat pemotong dengan sebuah gerinda, lalu dengan apakah hati kita akan diasah? Mungkin tiap makhluk akan menemukan gerindanya masing-masing, namun pada sifatnya tentu akan menyakitkan.. Ya ALLAH, hamba tunduk & pasrah kepada-Mu...


--------------
 
Yaa ALLAH, hamba tunduk dan pasrah kepada-Mu... Hamba jelas-jelas tak mampu melukai-Mu, ataupun memberi mudharat, keburukan apapun terhadap-Mu. dan hamba pun tak mampu membuat-Mu lebih mulia, lebih bermartabat, ataupun memberi mashlahat, kebaikan apapun untuk-Mu. Apapun yang hamba lakukan, ENGKAU tetap berkuasa atas segala sesuatu di bumi yang kecil ini, di angkasa yg begitu luas hingga tak mampu kami jangkau, serta di semua tempat lain yg takkan pernah kami ketahui.

Yaa ALLAH.., ampunilah sgala dosa & ksalahan hamba yang sering kali menyerupakan sifat diri dengan sifat-sifat-Mu, padahal sedikit sekali yg hamba tahu dan sdikit skali yg hamba kuasai, itupun pemberian dari-Mu.


Yaa ALLAH.., sungguh hamba ingin mewujudkan damai di bumi, namun hamba hanya unsur kekuatan kecil dari makhluk-Mu. Begitu banyak pula tantangan dan hambatan dari makhluk-makhluk-Mu yang lain. Yaa ALLAH.., ENGKAU Mahatahu tentang diri hamba, tentang berbagai pinta hamba, tentang apa yg mereka lakukan di depan dan di belakang hamba.


Yaa ALLAH.., dengan segala keterbatasan ini sering kali hamba mempermalukan diri, sering pula menjadi bahan cemooh dan permainan hamba-hamba-Mu yg lain. Mereka hanya tidak mengetahui apa yang hamba lakukan dan hamba lewati. Yaa ALLAH.., perkara-perkara kecil juga snantiasa menyibukkan diri hamba, di saat hamba berpikir atas perkara-perkara yang jauh lebih besar. Sgalanya hamba pasrahkan pada-Mu, yaa ALLAH.., hamba hanya meminta kepada-Mu karena hamba hanya menyembah kepada-Mu.


Yaa ALLAH.., apapun yg harus hamba jalani, hamba berusaha selalu ikhlas, sebagai ketentuan dari-Mu.. ENGKAU Yang Mahatahu. Mungkin smua ini takkan memberi hamba kebaikan sebagai balasan, namun hamba berusaha takkan mengeluh.


Yaa ALLAH.., masukkanlah hamba melalui jalan masuk yg benar, keluarkanlah hamba melalui jalan keluar yg benar, dan anugerahkanlah kepada hamba kekuatan yg mampu menolong makhluk-makhluk-Mu yg lain.. Aamiin...

Holunthalo, 29 bulan 9 (Ramadhan) 1430H,

atau tanggal 19 bulan 9 (September) 2009M.




 

Friday, September 4, 2009

Dzat ﺍﷲ Tidak Bisa Dibayangkan

Al Imam asy-Syafi'i -semoga Allah meridlainya– berkata: 
"Barang siapa yang berusaha untuk mengetahui pengatur-Nya (Allah) hingga meyakini bahwa yang ia bayangkan dalam benaknya adalah Allah, maka dia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), kafir. Dan jika dia berhenti pada keyakinan bahwa tidak ada tuhan (yang mengaturnya) maka dia adalah mu'aththil, atheis (orang yang meniadakan Allah). Dan jika berhenti pada keyakinan bahwa pasti ada pencipta yang menciptakannya dan tidak menyerupainya serta mengakui bahwa dia tidak akan bisa membayangkan-Nya maka dialah muwahhid (orang yang mentauhidkan Allah); muslim".
(Diriwayatkan oleh al Bayhaqi dan lainnya)




Tuesday, September 1, 2009

Tidur Adalah Kiasan (Satu Memorabilia)

Suatu malam seorang ibu mengantar puteri kecilnya tidur. Bersama sang ibu ia membaca doa tidur singkat بسمك ١ﻟﻟﮭﻤﺎ ١حيٵ و بسمك ١موٺ diikuti lafal tarjamahnya dengan nama-Mu yaa ١لله aku hidup, dan dengan nama-Mu aku mati…. Tanpa diduga anak empat tahun itu mengajukan pertanyaan, “Bunda, besok Dhe2 mati ya?”. “Bunda, ayah, dan yang lainnya, semua akan mati”, ibunya mulai penjelasan. “Tapi nanti ketemu lagi di syurga karena kita saling menyayangi..”, lanjut sang ibu. Entah apa yang ada di alam pikiran anak kecil itu, tapi kemudian ia menangis

HARUSKAH MERANA?
Tak lama kemudian pembicaraan beralih ke topik tentang jantung dan darah. “Kalau Dhe2 jatuh, biar berdarah, tapi gak nangis…”, katanya. Kemudian tiba-tiba ia mengatakan sesuatu yang membuat ibunya tersentak. Besok kalau gak ada Bunda, gak ada Tante –pengasuhnya (karena mati), Dhe2 mau jadi pengemis aja!. Kemudian ia menangis, sang ibu memeluknya dengan hangat. Entah apa yang dirasakannya, takut, sedih, atau cinta yang hilang? Hanya ia yang tahu imaginya sendiri. “Dhe2 masih punya Ayah, Kakak, Eyang, Oom, dan lainnya yang sayang sama Dhe2…”, ibunya mencoba menenangkannya. “Jadi gak boleh mengemis…”, lanjut ibunya. “Dhe2 anak pinter, nanti bisa bekerja untuk cari uang. Bunda pingin lihat Dhe2 besar dan punya anak…”. Pikiran putri kecil itu kemudian menerawang entah ke mana.

Sang ibu membiarkannya sesaat sampai putrinya bertanya kembali, dulu waktu Dhe2 kecil Bunda kasih nama Lauren, ya?. Sang ibu menjawab bahwa ayahnya yang memberi nama putrinya itu Lauren. Ketika ibunya bertanya kenapa, putri kecilnya tak menjawab. “Dhe2 suka (nama itu)?”, tanya ibunya. Yang ditanya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Lauren itu artinya mahkota, supaya Dhe2 jadi putri yang cantik…”, ibunya menambahkan. Pembicaraan pun terus berlanjut, tentang keinginannya memiliki adik laki-laki, dan seterusnya hingga kegelapan malam mengantarkannya ke alam mimpi…

TIDUR ADALAH KIASAN
Ya, dari doa yang telah diajarkan dan kita panjatkan, tampaknya tidur adalah sebuah kiasan. Sebuah potret kecil dari gambaran peristiwa besar yang akan dialami semua ciptaan. Bagaimana laku kita sebelum tidur, akan menentukan bagaimana situasi tidur kita dan setelahnya. Jika sebelum tidur laku kita baik, saat tidurpun kita akan tenang, nyaman, dan tak jarang sambil mengulum senyum. Begitupun ketika mata hendak terpejam, perjalanan hari yang indah akan menyusup ke dalam ingatan. Sambil menerawang menembus langit-langit, hati terasa lega, semua terasa indah... Begitupun kurang lebih ketika peristiwa besar kematian kita pada saatnya menjelang... Wallahu a'lam bis shawwab...

"wahai nafs (diri/jiwa) yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang ridha lagi diridhai. maka masuklah ke dalam kumpulan hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku!" (QS Al-Fajr (89) : 27-30)

"O (thou) soul, in (complete) rest and satisfaction. "come back thou to thy Lord well pleased (thyself), and well-pleasing unto Him! enter thou, then among My devotees! Yea, enter thou My heaven!" (The Dawn: 27-30)



Friday, July 31, 2009

SETITIK CINTA KASIH


”Biarkanlah saja dulu
kita jalan berdua,
merekapun pernah muda,
saatnya Kau dan aku sekarang...”


Pada suatu kesempatan santai di rumah, penggalan lagu yang bertajuk Pernah Muda ini (sejatinya dilantunkan oleh Bunga Citra Lestari) tiba-tiba keluar dari mulut putri saya yang hendak menginjak usia empat tahun. Hal ini membuat saya geli dan selalu menggugah saya untuk tersenyum setiap kali mengingatnya...

CINTA MEMBUAT SEMUA NISCAYA
Sebelumnya tidak pernah menggandrungi lagu-lagu BCL, panggilan Bunga Citra Lestari, dan saya sebenarnya kurang suka dengan materi lagu yang dinyanyikan putri kecil saya tadi. Namun entah mengapa ada yang berubah sejak saya mendengar alunan lagu itu dari mulut mungil putri saya. Setidaknya saat ini saya jadi menyukai lagu itu. Saya punya secuil keyakinan bahwa lagu ini akan tetap dinyanyikan anak-anak muda hingga mungkin penyanyinya sendiri kelak telah tiada. Petikan gitar akustik dan sentuhan nada akordion yang padu menguatkan dugaan saya. Tapi kali ini saya tidak hendak membahas teknik instrumentalia ini, namun kearifan yang terkandung dalam cinta. Gambarannya, saya tidak menyukai lagu itu, namun ketika saya tahu bahwa putri saya menyukainya, saya jadi suka. Saya pernah membaca kata-kata seorang bijak, bahwa mencintai seseorang atau sesuatu berarti harus ikut mencintai apa yang dicintai oleh orang atau entitas yang kita cintai itu.

Dari sudut pendidikan putri saya, mungkin saya kurang suka bahwa putri saya yang masih kecil menyanyikan lagu remaja. Di sisi lain, saya bangga bahwa ia sudah berusaha belajar komunikasi verbal melalui pengenalan kata dan kalimat yang cukup kompleks. Adiknya sendiri meski telah mencapai usia 2 tahun belum memiliki perbendaharaan kata yang cukup untuk merangkai sebuah kalimat lengkap. Yang terjadi atas adiknya bagi saya pun tidak menjadi masalah karena kendatipun demikian ia tetap mampu memahami makna kalimat yang disampaikan oleh orang-orang di sekitarnya yang lebih tua. Saya yakin Sang Kuasa akan memberinya kemampuan yang memadai suatu saat nanti karena ia pun memiliki semangat belajar yang tinggi. Saya sangat menghargai setiap upaya belajar dari seseorang, apalagi jika hal itu dilakukan oleh anak-anak dan kaum tua. Mungkin seperti yang dialami setiap orang tua, tidak sekadar suka, namun juga bangga atas segala pencapaian putra-putrinya. Mungkin begitu pula yang terjadi dengan rasa suka saya terhadap lagu Pernah Muda itu. Saya mencintai apa yang dicintai oleh orang yang saya cintai, dalam hal ini putri saya, ketika sebelumnya saya mengira bahwa menyukai lagu BCL hampir tidak mungkin terjadi pada diri saya.

CINTA KASIH SEJATI PUN DIMILIKI ORANG-ORANG SEDERHANA
Dalam suatu perjalanan dengan seorang sahabat yang saya hormati baru-baru ini, saya mendapat cerita yang sangat menarik mengenai cinta kasih sejati. Awalnya saya punya dugaan bahwa cinta kasih semacam itu hanya terjadi pada orang-orang berpendidikan tinggi atau menguasai ilmu agama yang sedemikian luas. Bukan saja karena hal itu membutuhkan pengorbanan yang besar, namun juga kearifan tinggi yang hanya mudah dicapai jika syarat-syarat tersebut terpenuhi. Namun tampaknya dugaan saya salah! Ternyata di dusun terpencil di sekitar tempat pengabdian saya sekarang pun hal itu adalah sebuah keniscayaan.

Tersebutlah seorang pemuda, sebut saja si A, yang sangat dicintai ibunya. Bukan ibu kandungnya (karena kini sudah wafat), tapi ibu tiri, dan bukan sekadar ibu tiri satu-satunya, namun ibu tiri yang kesekian karena ayahnya beberapa kali menikah. A inipun sudah tidak lagi remaja, namun telah memiliki isteri dan anak. Ditambah lagi, si A ini tidak juga manis-tampan (meminjam istilah sahabat saya “gak ada imutnya...!”), yang biasa menjadi alasan untuk menyukai seseorang. Ibu tiri ini sangat menyayanginya, begitu pula terhadap isteri dan anak-anak si A. Anak-anak kandungnya tidak lebih istimewa daripada si A ini. Sebuah kamar tidur di rumah mereka disiapkan khusus untuknya, anak-anak lain tidak boleh mengambilnya. Begitu pula makanan kesukaan, akan beliau buatkan jika si A menginginkannya. Ketika si A sakit, beliau akan memijit, mengipasi dan menungguinya hingga si A terlelap. Bahkan sekadar untuk menyampaikan sesuatu yang sensitif, sang ibu bijak ini lebih dulu bertanya kepada isteri si A demi memastikan bahwa hati si A sedang lapang. Sang ibu sangat menghargai privasinya, menjaga perasaannya, sesuatu yang sangat jarang kita temui di era tayangan-tayangan beraroma domestic violence (kekerasan dalam rumah tangga) dewasa ini.

Ketika sahabat saya bertanya kepada si pemuda tentang alasan cinta kasih sang ibu ini, ia menjawab bahwa ibu (tiri)nya sangat menghargai ayahnya. “Kita sekarang bisa seperti ini, kamu semua ada, tak lain karena bapak si A”, demikian kata sang ibu bijak kepada anak-anak kandungnya. Luar biasa! Meskipun ditinggalkan dengan sejumlah anak, penghargaannya sebagai seorang isteri kepada ayah dari anak-anaknya tak pernah berubah. Pengabdiannya pun tetap wujud selamanya dengan turut mencintai anak-anaknya, meskipun dari isteri-isteri yang lain. Ya, bagaimanapun, dari rahim manapun dilahirkan, setiap anak adalah permata hati ayahnya. Mungkin di situlah ibu bijak ini menambatkan kearifan. Cinta kasih yang dimiliki beliau bukan didapatkan dari pendidikan yang tinggi, tidak juga dari keluasan ilmu agama. Mungkin tidak semua ilmu harus dikuasai seseorang sekadar untuk mengerti esensi cinta kasih. Ibu bijak ini tampaknya hanya berusaha mencintai orang-orang yang dicintai oleh orang yang dicintainya. Sebuah akar cinta sejati yang kadang sangat sulit kita capai.

Kisah ini selengkapnya sangat menyentuh. Untuk saya pribadi hal ini sangat berkesan dan menjadi semacam nostalgi karena saya memiliki pengalaman serupa dengan ibu (angkat) saya, ibu saya yang Jakal (Jawa Kalimantan). Ibu kandung dan ibu (angkat) saya memberikan perwujudan cinta kasih yang serupa yang tiada banding. Saya yakin, saya takkan pernah mampu membalas cinta kasih beliau berdua. Namun itu cerita yang lain, untuk saat ini... saya ingin beristirahat, sambil berharap bisa berjumpa dengan beliau berdua dan semua orang yang saya cintai, meski hanya dalam mimpi. Semoga alunan lembut BCL dalam nomor Pernah Muda akan mengantarkan saya ke sana...


Selamat Ulang Tahun, my Princess..., moga usiamu senantiasa barokah, Sayangku...

Selamat buat BCL atas penghargaan yang diterima di ajang Planet Muzik Award 2009, meski belum beruntung di 2 ajang lain yaitu Dahsyat Award 2009 dan Kid’s Choice Award 2009!

Bilang papamu
ku takkan buat Kau berubah
menjadi anak yang nakal,
Bilang mamamu
kucinta padamu
dan aku tak pernah main-main,

Biarkanlah saja dulu
kita jalan berdua,
merekapun pernah muda
pernah muda...

Bilang papamu berhenti urusin
semua urusan kau dan aku,
Bilang mamamu tak perlu
khawatir ataupun curiga kepadaku,

Biarkanlah saja dulu
kita jalan berdua,
merekapun pernah muda
saatnya Kau dan aku sekarang...

Biarkanlah saja dulu
kita jalan berdua,
merekapun pernah muda
saatnya Kau dan aku sekarang
saatnya Kau dan aku sekarang
saatnya Kau dan aku sekarang...

Written by Dewiq, sung by Bunga Citra Lestari, from album “Tentang Kamu” [2008]




Thursday, July 30, 2009

For What is Life

Kalo ALLAH Yang Mahasuci lagi Mahatinggi menginginkan kita CERDAS untuk kebaikan diri sendiri,

KAYA untuk kepentingan diri sendiri,

KUAT untuk kejayaan diri sendiri,

BAHAGIA untuk kepuasan diri sendiri,

tentulah DIA tidak akan menciptakan MANUSIA-MANUSIA dan MAKHLUK-MAKHLUK lainnya...



Sunday, July 5, 2009

Ajari Anak Kita Al-Quraan,
atau Kita Akan Tergolong Orang Tua Durhaka!


"Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu" (HR Bukhari dan Muslim)
”Ajarilah anak-anakmu berkuda, berenang dan memanah” (HR Ad-Dailamy)

UMAR IBNU KHATTAB

Seorang lelaki datang menghadap Amirul Mukminin, Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu, ia melaporkan kepada Khalifah Umar bin Khattab tentang kedurhakaan anaknya. Khalifah Umar lantas memanggil anak yang dikatakan durhaka itu dan mengingatkannya terhadap bahaya durhaka kepada orang tua. Saat ditanya sebab kedurhakaannya, anak itu mengatakan ;
"Wahai Amirul Mukminin, tidakkah seorang anak mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh orang tuanya?" "Ya," jawab Khalifah. "Apakah itu?" tanya anak itu. Khalifah menjawab, "Ayah wajib memilihkan ibu yang baik untuk anak-anaknya, memberi nama yang baik dan mengajarinya Al Qur'an." Lantas sang anak menjawab, "Wahai Amirul Mukminin! Tidak satupun dari tiga perkara itu yang ditunaikan ayahku. Ibuku Majusi (penyembah berhala), namaku Ja'lan, dan aku tidak pernah diajarkan membaca Al Qur'an."
Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu lalu menoleh kepada ayah dari anak itu dan mengatakan, "Anda datang mengadukan kedurhakaan anakmu, ternyata Anda telah mendurhakainya sebelum ia mendurhakaimu. Anda telah berlaku tidak adil baik terhadapnya sebelum ia berlaku tidak baik kepada Anda."



UMAR IBNU 'ABDUL 'AZIZ

“Siapa yang menjaminmu hidup sampai setelah waktu zuhur?” pertanyaan itu terlontar dari mulut seorang pemuda kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz, tokoh pemimpin bergelar khulafah rasyidin yang kelima. Ketika itu, khalifah yang terkenal keadilannya itu sangat tersentak dengan perkataan sang pemuda. Terlebih saat itu, ia tengah merebahkan diri beristirahat usai menguburkan khalifah sebelumnya, Sulaiman bin Malik.

Tapi baru saja ia merebahkan badannya, seorang pemuda berusia tujuh belasan tahun datang menghampirinya dan mengatakan, “Apa yang ingin engkau lakukan wahai 'Amirul Mukminin?” Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Biarkan aku tidur barang sejenak. Aku sangat lelah dan capai sehingga nyaris tak ada kekuatan yang tersisa. “Namun pemuda itu tampak tak puas dengan jawaban tersebut. Ia bertanya lagi, “Apakah engkau akan tidur sebelum mengembalikan barang yang diambil secara paksa kepada pemiliknya, wahai 'Amirul Mukminin? Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Jika tiba waktu zuhur, saya bersama orang-orang akan mengembalikan barang-barang tersebut kepada pemiliknya.” Jawaban itulah yang kemudian ditanggapi oleh sang pemuda, “Siapa yang menjaminmu hidup sampai setelah zuhur, wahai 'Amirul Mukminin?”

Pemuda itu bernama Abdul Aziz. Ia, putera 'Amirul Mukminin sendiri, Umar bin Abdul Aziz. Semoga ALLAH merahmati keduanya.
Info Buku :
- Fenomena Orang Tua Durhaka, Idrus Hasan, Pustaka Hidayah, Bandung, 2009
- Cinta di Rumah Hasan Al Banna, M Lili Nur Aulia, Pustaka Da'watuna, Jakarta, 2007




Tuesday, June 30, 2009

Kita Sangat Cerdas di Mata Bangsa Malaysia

Do you Malaysians hate us?” “We? Hate you?” “Of course we don’t…. Kata-kata dari kenalan saya di Penang, satu dari sembilan kesultanan Malaysia, itu makin meneguhkan visi dan harapan saya tentang hubungan baik antara Republik Indonesia dan Diraja Malaysia di masa depan. Kenalan saya itu adalah seorang sarjana teknik kimia di negerinya, yang menurut saya cukup representatif untuk mencerna pertanyaan-pertanyaan saya dan memiliki kapabilitas untuk memandang masalah-masalah yang lebih luas. Dari jawaban yang diberikannya dapat disimpulkan bahwa tidak sepenuhnya benar bahwa orang Malaysia membenci Indonesia, dan saya yakin demikian pula sebaliknya. Dikotomi hubungan antara masyarakat dari 2 negara memang kerap terjadi dewasa ini, ranah sosiokultural kadang berada pada kutub yang berbeda dengan ranah politik. Hal itu tidak hanyak terjadi antara dua negara yang saling berbatasan, namun juga terjadi antara dua negara yang berjauhan. Yang paling mudah dilihat adalah hubungan antara kita dengan negara-negara tetangga terdekat yaitu Australia, Singapura, dan Malaysia.

DIKOTOMI HUBUNGAN ANTARNEGARA
Ketika Timor Timur (sekarang Republik Timor Leste) berjuang keras untuk memisahkan diri dari Republik Indonesia sekitar tahun 1998 hingga merdeka tahun 2002, hubungan diplomatik RI – Australia memanas. Australia mendukung mati-matian upaya disintegrasi masyarakat Timor Timur, sementara di pihak lain Republik Indonesia berusaha mati-matian mempertahankan keutuhan Negara. Hal ini menimbulkan efek yang kurang menguntungkan di ranah sosiokultural, sebagian rakyat Indonesia yang berada di Australia menerima perlakuan yang tidak sewajarnya dari rakyat negeri kanguru itu. Begitu pula rakyat Australia yang berada di tanah air, sebagian mendapat perlakuan yang kurang bijak dari warga Indonesia, sweeping warga Australia terjadi di beberapa tempat, cukup mengerikan! Namun tampaknya hubungan sosiokultural itu lebih mudah dan lebih cepat kembali normal dibandingkan dengan perbaikan hubungan politik-diplomatik.

 

Jika kita menengok sedikit lebih jauh ke belakang, kita akan melihat keruntuhan Tembok Berlin pada 9 November 1989 telah membuka sekat hubungan politik dan sosiokultural bangsa Jerman selama 28 tahun. Bangsa yang pernah menyatakan diri sebagai bangsa terunggul dengan sesanti Deutschland uber alles –German above all (nations) itu terkurung dalam 2 wadah berseberangan berupa Republik Demokrasi Jerman (Jerman Timur, didukung Uni Soviet) dan Republik Federasi Jerman (Jerman Barat, didukung AS, Inggris, dan Perancis). Lagi-lagi hubungan sosiokultural merupakan korban dalam wujud hubungan seperti itu. Keluarga dipisahkan oleh tembok beton yang tinggi lagi kokoh, orang tua - suami - isteri - anak tercerai berai, tentara selalu siaga dan tega menembak di tempat siapa pun yang nekad melintasi tembok. Sebuah suasana yang membuat miris, dan mengerikan!

DI LUMBUNG PADI SENDIRI MATI, DI LUMBUNG ORANG PUN SENGSARA
Saya selalu berpikir ulang setiap kali melihat atau mendengar perubahan negatif dari situasi hubungan antara Republik Indonesia dan Diraja Malaysia dari masa ke masa. Saya merasa bahwa semua hal itu tidak perlu terjadi. Tentu masih lekat dalam ingatan kita wacana perebutan dua pulau indah Sipadan dan Ligitan di perbatasan RI – DM pada sekitar tahun 2000. Kedua Negara ngotot mengajukan klaim kepemilikan atas dua pulau tersebut hingga ke ruang sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York dan Mahkamah Internasional di Den Haag. Betapapun teguhnya kita bertahan pada klaim tersebut, namun masyarakat internasional (apapun alasannya) menilai bahwa Malaysia lebih berhak untuk memiliki kedua pulau tersebut. Kita pun akhirnya harus merelakannya berdasarkan keputusan Mahkamah Internasional tanggal 17 Desember 2002 yang memutuskan pulau tersebut menjadi bagian negara Malaysia. Salah satu dasar penilaian masyarakat internasional itu terletak pada kepedulian kedua bangsa ini, yang menurut catatan mereka ternyata Malaysia jauh lebih peduli. Malaysia telah sekian lama menjadikan pulau-pulau tersebut tourism resort yang worthvisiting, ketika kita lebih fokus ke Pulau Bali yang memang sudah puluhan tahun tersohor, serta pulau-pulau lain di wilayah Barat Indonesia.

Pemerataan, kebersamaan, itulah kata-kata hebat yang sering kita sisihkan. Ketika saya ajukan pertanyaan kepada kenalan saya tersebut mengenai penglihatannya terhadap Indonesia, ia menjawab I heard that the gap between the rich and the poor is so wide in Indonesia…. Jawabannya membuat saya sempat berpikir lama tentang banyak hal yang selama ini saya temui dan harus saya akui kebenarannya. Ya, ketimpangan itu pula yang harus membawa sebagian bangsa kita mengais rejeki di negeri jiran itu. Kalau dipikir-pikir, hal yang cukup irrasional bahwa banyak dari bagian bangsa ini sekarat, kelaparan di lumbung padi sendiri sehingga harus menyeberang ke lumbung padi tetangga demi mempertahankan hidup.
Pertumbuhan tanpa pemerataan tidak lebih daripada berlatih binaraga hanya sekadar untuk membesarkan otot bisep tangan kanan saja. Pasti lebih cepat berhasil, tapi jangan tanyakan kualitas tubuh kita seluruhnya. Kita pun dapat membayangkan penilaian orang lain jika memandang keadaan kita itu! Lucu, ngawur, sa’ karepe dhewe’, dan tak mustahil orang lain pun bisa menjadikan kita bahan olok-olokan, cemoohan. Saya melihat fakta seperti itulah yang menimpa warga Negara kita tercinta yang mencari nafkah di negeri orang. Mereka adalah para pejuang yang berada pada strata sosial bawah bangsa kita, yang semestinya kita lindungi, kita penuhi hak-haknya, dan kita junjung martabatnya. Namun malang, niat melanjutkan kelangsungan hidup terbentur kenyataan yang sudah terlanjur tidak berpihak kepada mereka.

RI – DM DI MATA SAYA
Secara pribadi saya memandang bangsa Malaysia sebagai adik yang memerlukan bimbingan kita. Sekali-kali cobalah amati saluran-saluran televisi atau radio negeri-negeri tetangga. Sekali-kali di waktu luang saya memantau RTM (Radio Television Malaysia); TV1, TV2, atau (Duniamu) TV3. Atau jika beruntung, juga bisa memantau TVTL (Televisaun de Timor Leste), TV Brunei, Thailand, Singapura, Australia, atau yang lain. Masa kerja saya selama 7 tahun di dekat wilayah perbatasan RI – Malaysia membuat saya memiliki akses untuk memantau saluran-saluran radio atau televisi negara-negara tetangga terutama Malaysia, Brunei, dan Australia. Setiap menyaksikan siaran TV Malaysia (terutama TV1 dan TV2) dan Brunei, saya serasa bernostalgia ke masa lalu ketika kita hanya memiliki televisi saluran tunggal TVRI di negeri ini. Hampir semua programnya masih sederhana seperti siaran TVRI kita. Sedangkan dari TV3 tampaknya kita dapat menyaksikan wajah Malaysia sesungguhnya yang telah terbentuk hingga saat ini. Di sana sering kali dapat kita saksikan entertainer-entertainer Indonesia unjuk kebolehan atau menerima penghargaan ini dan itu di panggung meriah negeri tetangga.

Di sisi lain, siaran radio lebih merepresentasikan kedekatan kita dengan bangsa satu rumpun itu. Saluran radio yang sering saya nikmati bermarkas di negeri Sabah (Malaysia Timur). Baik radio FM favorit saya maupun radio-radio lainnya di Malaysia memberikan apresiasi yang luar biasa besar terhadap karya musik anak negeri, Indonesia. Katon Bagaskara, Ruth Sahanaya, Kris Dayanti, Sheila on 7 dan banyak lagi musisi Indonesia lainnya, tidak asing di telinga audiens radio-radio Malaysia di tahun 1998-an. Bahkan menurut pengamatan saya, frekuensi kemunculan musisi kita lebih sering jika dibandingkan dengan frekuensi kemunculan musisi-musisi lokal Malaysia. Simpulan saya tentang hal ini, pada tataran seni bangsa Malaysia pun merasa sebagai satu keluarga dengan bangsa Indonesia.

Jika kita lebih sering berinteraksi dengan mereka atau setidaknya dengan cara mereka, seolah-olah tidak ada perbedaan besar antara kita dan mereka. Di wilayah perbatasan dan sekitarnya, penduduk terbiasa menggunakan dua mata uang dari kedua negara di pasar tradisional. Barang-barang kebutuhan harian dari negeri jiran lebih mudah didapatkan daripada hasil produksi dalam negeri, masih lengkap dengan label harga asli dalam mata uang RM -Ringgit Malaysia. Sejak jaman dulu kita sudah melakukan hal ini dan begitupun yang terjadi di sana hingga hari ini. Tidak ada yang aneh, semua menambah warna dan pengetahuan dalam hubungan sosial budaya antara dua negara satu rumpun.

Jika kita amati apalagi berinteraksi dengan mereka, tak tampak lagi mana yang warga Malaysia dan mana warga Indonesia. Mereka memiliki warna kulit sama dengan warna kulit kita. Mereka berpakaian seperti pakaian yang melekat di badan kita. Mereka pun berlaku santun seperti karakter dasar masyarakat kita. Dari sisi kepercayaan, mereka adalah warga Negara Islam, agama yang dipeluk oleh mayoritas warga negara kita menjadi dasar negara mereka. Tidak ada yang berbeda, begitupun dengan pluralisme yang juga mewarnai kehidupan kedua negara. Kita memiliki banyak kesamaan, kita memang berasal dari rumpun yang sama. Betapa indah jika kita hidup rukun sebagai tetangga, bahkan sebagai keluarga yang sekadar dibatasi oleh entitas yang disebut sebagai negara.

HARUS INTROSPEKSI
Ketika akhir tahun 2001 saya ditugaskan mengabdi di Pulau Nunukan (ibukota kabupaten Nunukan yang juga menaungi Pulau Sebatik yang berbatasan langsung dengan Malaysia), beberapa pertanyaan saya tentang masalah-masalah hubungan industrial kedua Negara terjawab di sana. Pertama adalah masalah perlakuan yang kurang layak terhadap tenaga-tenaga kerja kita di Malaysia yang masuk melalui Negeri Sabah, Malaysia Timur. Saya melihat fenomena yang saya sebut memakan bangsa sendiri. Betapa tidak, ketika tanpa sengaja saya mendapati ratusan KTP (Kartu Tanda Penduduk) Nunukan baru ternyata dipegang oleh ratusan pencari kerja yang berasal dari suatu daerah di Sulawesi. Dengan memegang KTP yang dikoordinasikan oleh pihak tertentu tersebut (yang sudah pasti bangsa sendiri), mereka akan masuk ke Malaysia sebagai warga Nunukan sehingga tidak diwajibkan untuk memegang passport. Cukup dengan pass lintas batas mereka dapat masuk sebagai wisatawan atau pedagang, namun tujuan sebenarnya adalah untuk bekerja. Lebih parah lagi, tampaknya penyelundupan atau pengiriman gelap tenaga kerja pun tampaknya terjadi di sana! Semua itu tentu menjadi terlihat mencolok ketika terlalu banyak orang yang terlibat. Kenyataan itu membuat Polis Diraja Malaysia pun makin memperketat pengawasan.

Di pelabuhan laut Tawau (pelabuhan laut yang menjadi pintu gerbang masuk Negeri Sabah) beberapa kawan pernah menyaksikan betapa bangsa kita diperlakukan kurang manusiawi. Turun dari kapal yang membawa mereka dari Pelabuhan Sebatik atau Pelabuhan Tunon Taka di Nunukan, puluhan warga Negara kita diharuskan berbaris jongkok dengan melepas pakaian mereka, tak beda dengan buronan polisi yang baru tertangkap di tanah air kita. Mereka akan ditanyai tentang surat-surat perjalanan dan sebagainya. Yang kurang beruntung akan masuk kurungan, dan kelihatannya banyak yang harus mengalami kenyataan pahit itu. Begitu pula di dalam kota, gerak-gerik mereka diawasi. Kawan-kawan yang berada di sana harus tetap dalam rombongan, atau petugas reserse setempat akan mencegat dan menginterogasi. Intinya, warga kita kurang nyaman jika berada di sana.

Kenyataan pahit kedua yang harus dilalui banyak warga Negara kita yang mencari penghidupan di sana adalah ketidakadilan. Sudah menjadi praktik bertahun-tahun bahwa bagi pekerja perkebunan (kebanyakan kelapa sawit) atau pekerja konstruksi (tukang) tidak menerima upah yang layak untuk beberapa bulan pertama. Menurut informasi, penghasilan mereka pada bulan-bulan pertama menjadi hak pihak yang memasukkan mereka ke sana (penyalur tenaga kerja illegal). Perjanjian itu dibuat sepihak antara pengusaha dengan pihak penyalur TKI dimaksud. Pekerja yang tidak kuat atas perlakuan itu akan lari pulang ke tanah air dengan bekal seadanya. Jika pihak-pihak yang memasukkan dan mempekerjakan mereka tidak menerima pengunduran diri itu dengan lapang dada, pengejaran pun akan terjadi, mereka pun berubah status menjadi buronan. Tidak aneh jika di kota-kota perbatasan itu banyak kita temui orang-orang yang mengalami gangguan jiwa. Sungguh kejam orang-orang yang menjerumuskan bangsa sendiri...

Kenyataan serupa ternyata juga terjadi di Semenanjung Malaysia (Malaysia Barat). Kita tidak asing dengan berita-berita gaji di bawah standar atau penyiksaan pembantu rumah tangga yang terjadi di sana. Banyak keputusan pengadilan yang merugikan pekerja strata bawah kita. Pelecehan seksual dan kehilangan nyawa pun tak ayal lagi sering terjadi. Sudah jatuh, tertimba tangga pula, begitulah fakta yang banyak menimpa warga kita tercinta di negeri orang. Tidak semua bisa kita selamatkan, tidak semua mendapat bantuan sebagaimana mestinya. Saya hanya mampu bertanya-tanya, tidak adakah wakil pemerintah yang ditugaskan khusus untuk masalah-masalah seperti itu? Seberapa besarkah kepedulian kita dan pemerintah kita terhadap hak-hak hidup warga negaranya di negeri orang? Bukankah kita memiliki kedutaan besar dan konsulat-konsulat sebagai wakil pemerintah RI di wilayah-wilayah itu? Kenapa semua ini menjadi tampak begitu rumit?

SATU HAL YANG MEMBAGIAKAN
Ketika saya bertanya mengenai kesan yang ditangkap kenalan saya dari Penang tentang bangsa Indonesia, ia menjawab “you are genius!”. Menurut pengamatannya di kampus, pelajar-pelajar Indonesia di sana adalah pelajar-pelajar yang berada di puncak prestasi, brilian, sangat cerdas. Dibandingkan dengan pelajar-pelajar dari negara lain yang menuntut ilmu di sana, kebanyakan pelajar kita lebih unggul. Hal ini tentu membahagiakan saya. Apapun alasannya, saya kira begitulah seharusnya saat kita menimba ilmu di negeri orang. Namun hal ini tentu jangan sampai menjadikan kita sombong dan berpuas diri. Yang lebih penting daripada prestasi akademis tersebut adalah aplikasinya bagi kemajuan bangsa Indonesia. Selain itu tentu adalah integritas moral. Orang pintar sudah bejibun di negeri kita, namun kehidupan kita masih tetap tertinggal. Tampaknya kita masih banyak berharap akan lahirnya orang-orang pinter dan bener untuk mengantarkan kita ke gerbang kehidupan yang lebih baik. Semoga dari antara teman-teman sebangsa senegara yang sedang belajar di manapun saat ini akan muncul pemimpin-pemimpin baru seperti yang kita dambakan selama ini. Semoga kita semua pun akan lebih bijak memandang, lebih jernih berpikir dalam setiap pengambilan keputusan, dan lebih ikhlas dalam berjuang. Semoga Allah yang Mahasuci lagi Mahatinggi mengangkat derajat kita...

Everyone says victory in battle is good, but it is not. A general who wins every battle is not really skillful. To make your enemy helpless without battle is the secret. To overcome rivals without fighting is the summit of skill.
Setiap orang mengatakan bahwa menang dalam pertempuran adalah hebat, namun sesungguhnya tidaklah demikian. Seorang Jenderal yang memenangkan semua pertempuran bukanlah jenderal yang benar-benar terampil. Membuat musuh Anda tak berdaya tanpa pertempuran adalah rahasianya. Mengatasi musuh tanpa pertempuran merupakan puncak keahlian. [Sun Tzu]

Akibat adanya keterlibatan aktor negara maupun nonnegara dalam proses internasionalisasi isu domestik, serta adanya faktor perkembangan dan pertumbuhan persenjataan dunia yang meningkat, sedikit banyak kondisi tersebut mampu mendorong pengerahan kekuatan persenjataan. Kekuatan militer digunakan oleh aktor eksternal untuk menjaga stabilitas keamanan di wilayah konflik atau bahkan sebagai alat ancaman ( means of threat ) untuk ditujukan kepada pihak-pihak yang dianggap tidak mendukung upaya penyelesaian konflik. Alhasil, intervensi kemanusiaan yang disertai intervensi kekuatan militer tidak terelakkan. [Stanley Hoffman]




Saturday, June 27, 2009

IF LIFE GIVES YOU A LEMON, THEN MAKE LEMONADE!



Kurang lebih demikian tulisan di selembar kartu dalam sebuah film yang saya lihat sekilas beberapa waktu lalu. Jika kehidupan hanya memberi Anda buah lemon, buatlah minuman limun. Atau sering juga kita dengar orang di sekitar kita mengatakan “Nasi sudah jadi bubur, jadi bikin aja bubur ayam yang enak…”. Muatan kedua kalimat itu mungkin kurang lebih sama, bahwa tidak ada yang perlu disesali dari kehidupan dan masa lalu. Yang bisa senantiasa membuat diri kita tegar adalah kita tidak meratapi hal-hal yang tidak sesuai harapan dalam perjalanan hidup ini.

Duka dan kesedihan memang tidak akan dapat kita hindari dalam arus kehidupan. Namun, kita selalu dihadapkan pada dua pilihan; meratapi hal itu hingga menghancurkan diri kita, atau kita akan belajar darinya, mengambil hikmah, dan terus melangkah maju dengan bekal yang lebih banyak. Orang bijak mengatakan, bahwa ketika kita gagal pada suatu hal sesungguhnya secara simultan kita telah berhasil pada satu hal lain; yaitu bahwa kita mengetahui satu lagi cara untuk menghindari kegagalan. Maka cobalah untuk selalu memilih jalan kegembiraan daripada larut dalam arus kesedihan karena jalan itu akan mendekatkan diri kita ke arah kebahagiaan.


Hal lain yang tersirat dari tajuk catatan ini adalah bahwa penerimaan yang baik, penerimaan dengan pikiran positif, atas sebuah ketentuan Sang Kuasa merupakan jalan terbaik untuk terhindar dari masalah dan membuat kehidupan lebih bermakna. Artinya, ketika kehidupan hanya memberi kita buah jeruk, kita tidak layak menuntut buah apel, alpukat, atau lainnya. Mimpi dan harapan tentu sah-sah saja, namun sikap menerima apa yang ada pada saat itu merupakan sebuah kemuliaan. Bayangkan bahwa kita adalah anak-anak yang akan melakukan suatu perjalanan, dan orang tua kita membekali diri kita masing-masing dengan satu buah segar. Ketika giliran kita tiba untuk menerima buah dari tangan beliau, bukannya kata terima kasih yang keluar dari bibir kita, malah kata-kata protes. Kira-kira penilaian apa yang akan beliau berikan? Bagaimana jadinya skenario pembagian buah yang telah beliau rencanakan dan susun sebelumnya? Kiasan tersebut mungkin tidak sepenuhnya tepat untuk menggambarkan pemberian dalam kehidupan, namun tetap ada esensi yang sama.

Cerita akan menjadi lain jika kita mengungkapkan ketidakcocokan atas bagian buah itu dengan lemah lembut, penuh penghormatan, dan argumen yang logis. Orang tua kita tentu cukup bijak untuk menerima argumen logis kita dengan lapang dada. Dalam kehidupan, hal itu diejawantahkan melalui berbagai doa. Namun kehidupan tidak selalu ramah, dan yang terbaik bagi kita akhirnya adalah membuat limun segar dari buah lemon masam yang telah kita terima. Yang kita perlukan hanya memberi sedikit “bumbu” yang akan membuat air masam itu berubah menjadi manis menyegarkan!

Didedikasikan untuk Anda yang selalu berusaha berpikir positif, tidak mengeluh, selalu tegar dan tabah dalam mengarungi arus kehidupan. TTSM, McPrie [SP]


Wednesday, June 17, 2009

Ketika Kehidupan Masih Sederhana

Jika kita mengingat-ingat kembali kehidupan kita di masa silam, segala yang terbayang sering membuat kita tak kuasa menahan senyum. Begitu banyak hal di sekitar kita telah berubah. Berbagai peralatan yang menyertai keseharian kita mengalami perkembangan yang sangat jauh, pun jalan pemikiran dan perilaku manusia berubah banyak dalam waktu, yang boleh dikatakan, cukup singkat.

NONTON TV JADUL
Hingga sekitar awal 1990-an, kita di Indonesia umumnya sudah cukup puas dengan televisi siaran tunggal, Televisi Republik Indonesia (TVRI). Selama beberapa dekade, tidak terjadi banyak perubahan yang berarti, mungkin hanya logo dan animasi pembuka berita yang terus diperbaharui. Saya sendiri tentu tidak melihat yang terjadi pada kurun waktu antara tahun 1961 (tahun pendirian TVRI) hingga paruh akhir tahun 1970-an karena saya baru lahir pada pertengahan 1970. Pada tahun 1980-an, yang bisa kita saksikan hanya siaran TVRI pkl.17.00 - 00.00 WIB pada hari Senin sampai Sabtu, sedangkan di hari Minggu siaran dimulai pada pkl.07.00. Jadwal siarannya jelas (karena memang bertahun-tahun tidak banyak berubah), dan juga terdapat beberapa iklan yang (boleh dikatakan) oligopolis, hanya ada beberapa produk yang bisa dihitung dengan jari. Jadwal tayang dan materi iklan pun selama bertahun-tahun tidak berubah. Yang membuat geli, sering kali terjadi, ketika kita berada di puncak ketegangan tontonan tiba-tiba layar tv menyempit, perlahan-lahan terus menyempit dan mati… Aki habis! Maklumlah saat itu jaringan listrik masih sangat terbatas.

Yang paling lekat di pikiran kita tentu 2 iklan produk perintis, yaitu pasta gigi Pepsodent dan anggur cap Orang Tua. Setiap pukul setengah 8 malam sebentuk bibir akan muncul di layar tv yang masa itu kebanyakan masih hitam-putih (color tv masih jarang ditemui). Pelan namun pasti, bibir itu akan menebar senyum hingga baris-baris gigi yang putih dan rapi akan terpapar memenuhi layar tv. Visual klan tersebut diakhiri dengan kilauan sinar kecil dari satu sudut gigi. Tak mau kalah, Mbak Ira Maya Sopha pun secara rutin menceriakan suasana dengan mendendangkan sebuah lagu sambil menawarkan barang dagangan berlabel “Supermie”. Seingat saya ketika itu belum ada lahir kata “Indomie”, brand product mie instan itu tampaknya belum lahir. "Orang Tua" lebih sering “menyapa” di hari Minggu siang. Langgam Jamu yang dipopulerkan Bu Waljinah akan menebarkan kesejukan di hati kita menyertai kemunculan si "Orang Tua". Biasanya, lantunan lagu merdu itu menjadi pertanda bahwa film bagus akan segera muncul di layar kaca. Dalam ingatan saya, sekuel The Six Million Dollar Man adalah film yang paling lama menghiasi layar kaca kita di masa itu.

ANAK TAHUN 70-AN
 
Sebagai anak prasekolah, saya pribadi lebih menyukai film kartun (misalnya Defenders of The Earth, atau Si Huma, produk lokal yang kemudian mengikuti), atau film boneka seperti The Puppet Show (Peggy & Kermit) atau Si Unyil (Unyil, Ucrit, & Usro’), dan kurang menyukai film-film "dewasa". Jadi ketika tv menayangkan film selain yang saya sukai, saya lebih suka keluar rumah untuk bermain kelereng, lempar uang, atau tiup karet gelang. Sesekali pergi ke sungai-sungai sekitar rumah untuk memancing atau mengail belut. Sungai-sungai kecil pun di tahun-tahun itu masih selalu mengalirkan air jernih dan "kaya ikan". Perang-perangan juga sering digelar, dengan perlengkapan tempur senapan pelepah pisang dan granat dari bentukan tanah liat, serta pakaian ghillie suit ala sniper modern yang dirangkai dari dedaunan kering. Jika pertempuran begitu sengit, begitu banyak lemparan "granat", rengek tangis pun kadang terdengar dari tengah-tengah kerumunan "pasukan". Indah, lucu, mendebarkan, dan tanpa kita sadari hal itu membentuk jiwa dan kedewasaan.

Kehidupan memang masih begitu sederhana, begitu pula yang tampak pada jalan pikiran manusia Indonesia pada umumnya. Rumah-rumah masih banyak yang berdinding gedhek, anyaman bambu belah, kebun dan pekarangan masih terbentang luas penuh pepohonan. Anak-anak kapan saja dengan leluasa dapat menyelinap masuk kebun dan bermain-main di antara semak belukar dan pepohonan tanpa terlihat. Namun siapa pun yang bermain di sana harus ekstra hati-hati, binatang liar seperti ular dan kucing kebun (blacan) masih banyak berkeliaran. Makhluk angkasa seperti burung rajawali besar & kalong, kelelawar buah, raksasa (kendho) masih sering terlihat. Kalau anak-anak sekarang bermain anak itik imitasi dari karet berwarna kuning dan berparuh oranye, anak-anak 70-an bermain langsung dengan anak itik sungguhan! Biasanya anak-anak itik tersebut sengaja dibeli dan diternakkan hingga besar dan menghasilkan telur.

Konflik di antara anak-anak di tahun-tahun itu tentu juga terjadi, namun tidak pernah menjadikannya bibit permusuhan dan dendam. Tampaknya semua konflik anak-anak akan terselesaikan dalam waktu singkat tanpa menyulut masalah yang lebih luas. Hampir semua konflik berpangkal pada permainan. Mungkin sebatas kecurangan dalam perang-perangan, atau jatuh tersungkur akibat jegalan kaki tanpa sengaja ketika bermain bentheng. Wujud konflik hanya sebatas menjaga jarak, mengejek fisik, atau saling adu-ejek nama orang tua! Setelah beberapa waktu semua itu pun akan padam seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Sangat disayangkan bahwa pada dekade ini semua konflik sederhana semacam itu dapat melahirkan tindak pidana.

MUSIK
Bagaimana dengan musik, adakah band seperti saat ini? Ya, ada. Grup musik pop seperti saat ini memang hanya mudah dijumpai di kota-kota besar, namun tidak berarti tak ada kelompok musik di daerah-daerah kecil. Di sana-sini ada grup musik yang sebagian besar adalah grup orkes gambus! Gendang melayu, seruling bambu, tamborin, dan bas dari rajikan ban bekas dan tong kayu atau tempayan kecil (buyung) sudah mampu menciptakan alunan musik yang mengagumkan. Di masa itu saya sering menikmati musik yang dimainkan kakak laki-laki saya bersama band-nya. Di malam hari ketika sebagian besar anak-anak dan muda-mudi bermain gobak sodor, bentheng, ataupun ndhog-ndhogan, mereka berdendang menyemarakkan suasana malam. Sederhana, sesederhana hidup kami di masa itu. Kendatipun demikian, di antara suara-suara binatang malam, semua itu terdengar begitu nikmat dan indah di telinga…
Always have faith in yourself. It is not easy to live life sometimes and face the world with a smile when you're crying inside. It takes a lot of courage to reach down inside yourself. Hold on to that strength that's still there and know that tomorrow is a new day with new possibilities. If you can just hold on long enough to see this through, you'll come out a new person - stronger, with more understanding and with a new pride in yourself from knowing you made it.
[Kathy Obara]

(mungkin) bersambung...


Wednesday, May 20, 2009

Cintai Pekerjaan, atau Tinggalkan…



Jam di dinding kantor itu sudah menunjukkan pukul 23.00 WITA, punggung para pemuda itu bercucuran keringat, dan wajah mereka belepotan serbuk halus kayu yang sedang mereka potong dan mereka amplas. Tidak tersirat rasa jenuh di wajah mereka yang tenggelam di antara meja-meja dan kursi kantor. Yang terlihat mulai mengantuk mengambil tempat duduk untuk beristirahat sejenak sambil mengamati kawan-kawannya yang masih memotong kayu bahan partisi ruangan. Mereka bukanlah tukang-tukang kayu profesional, mereka bukanlah para pekerja lepas atau orang-orang tanpa pekerjaan pasti. Siapapun yang menyaksikan suasana malam itu pasti menilai mereka sebagai pekerja yang melampaui batas kelaziman jam kerja di wilayah itu. Semua dugaan itu salah, mereka adalah para pegawai Ditjen Perbendaharaan. Orang-orang yang bahkan mungkin belum pernah belajar memasang paku atau menatah dan menggergaji kayu. Sebagian telah bekerja di Marisa, kota kecil yang baru berkembang di provinsi Gorontalo, selama 2 tahun. Sebagian lainnya baru bekerja selama beberapa bulan di kota (kecamatan) yang harus ditempuh sekitar 4 jam dari ibukota provinsi itu.

Apa yang sedang mereka lakukan malam itu dan malam-malam berikutnya?  Membangun kantor! Ya, membangun kantor, membangun “lahan rizki” mereka sendiri. Tidak ada eselonering di waktu-waktu kerja seperti itu, semua berbaur menjadi satu dalam semangat membangun. Tidak ada lagi jabatan kepala kantor, tidak ada lagi jabatan office boy, semua bebas berpendapat, mengeluarkan ide untuk mendapatkan cara terbaik. Jika jenuh mulai mendekat, mereka mengambil raket badminton dan bermain di lapangan belakang kantor. Lapangan yang ternyata juga mereka bangun dengan biaya dan tenaga sendiri di atas lahan parkir kantor! Di sela-sela waktu-waktu santai mereka sering berdiskusi tentang berbagai hal, terutama tentang hal-hal yang sedang dan akan mereka lakukan untuk kantor.

“Mungkin orang lain akan menganggap kita adalah orang-orang yang sok kuat, kelebihan tenaga”, kata salah seorang di antara mereka. “Atau mungkin orang-orang yang berintegritas dan berdedikasi tinggi”, timpal yang lain. “Atau bahkan tidak lebih dari orang-orang tolol!”, celetuk yang lain lagi. Sejenak semua terdiam, mencoba mencerna pernyataan-pernyataan tersebut dengan pikiran mereka masing-masing. “Mereka sesungguhnya tidak tahu. Apapun kata orang, kita harus tetap berpikir positif dan tetap menancapkan harapan terbaik”, seseorang di antara mereka memecah keheningan. “Meski tidak ada penghargaan sedikitpun, setidaknya kita telah mengembangkan diri, siapa tahu setelah kita pensiun bisa menjadi Boss Bas (sebutan untuk kepala tukang di wilayah Gorontalo)…”.”Ha ha ha ha…”, tawa mereka memecah keheningan malam.

Ya, mengembangkan diri, itu yang membuat mereka tetap mengabdi dengan penuh semangat di tempat terpencil. Tidak ada bayaran untuk pekerjaan itu, tidak ada bintang jasa yang mereka harapkan, semua hanya berdasarkan cinta dan keikhlasan semata. Tempat tidak lagi menjadi masalah, semua bergantung pada person-nya, demikian yang akhirnya mereka pahami. Maka tidak heran hari-hari dan malam-malam yang mereka lalui selalu berwarna, selalu padat dengan agenda. Di luar jam kerja, dimulai pukul 17.00 waktu setempat mereka benar-benar sibuk, sibuk dengan jadwal badminton, fitness, sepak takraw, bola basket, memancing, berburu, kumpul-kumpul bakar ikan, dan sebagainya. Malam-malam itu akan mereka tutup dengan kesibukan “nukang” membangun infrastruktur kantor. Kegiatan tersebut baru berhenti tepat tengah malam atau satu-dua jam setelahnya. Tidak ada yang berdiam diri merenungi dan meratapi nasib mereka yang jauh dari keluarga. Hanya kebanggaan atas karsa dan karya yang menyelimuti perasaan mereka.

Marisa memang boleh dibilang daerah terpencil, sepi dan serba kurang. Untuk mencapai kota itu dari Gorontalo orang harus menempuh jarak perjalanan kurang lebih 3 sampai 4 jam. Sekadar untuk mendapatkan air mineral dalam kemasan (galon), perlu perjuangan tersendiri. Begitu pula untuk mendapatkan gas elpiji dalam tabung untuk memasak. Air dari perusahaan daerah tidaklah sejernih yang kita dapati di kota-kota besar. Listrik (PLN) masih “byar-pet” (hidup-mati) dengan jadwal yang tidak menentu. Semua itu dapat mengusik kenyamanan kita jika tinggal di sana. Ketika membutuhkan barang-barang untuk keperluan pribadi maupun kantor yang mendesak dan tidak mereka dapati di sana, mereka harus menuju ibukota Gorontalo untuk berbelanja di akhir pekan. Itulah Marisa. Namun di atas itu semua, sesungguhnya Marisa masih menyimpan banyak potensi yang masih dapat dan harus kita kembangkan. Kemurnian sumber daya alam seperti hasil laut, ikan segar, masih mudah kita dapatkan. Alam dengan udara segarnya mampu menciptakan hobi sekaligus wisata petualangan baru, seperti menelusuri hutan kecil, rawa, dan pematang sawah sambil berburu, atau sekadar memancing di pantai, di tengah laut, bahkan di pulau-pulau kecil sekitarnya, yang nyaris belum pernah kita kenal sebelumnya.

Dari sisi kuliner Marisa memang kurang mendukung lidah para pegawai. Rupa masakan yang tersaji di warung dan rumah-rumah makan di sana didominasi oleh masakan kering, tanpa kuah atau berkuah minim. Sebagian bahan dasarnya adalah makanan berprotein atau dengan kandungan asam amino esensial tinggi seperti daging sapi, ikan, dan udang. Sayur-mayur mudah saja didapatkan di pasar tradisional, namun menu sayuran di tempat-tempat makan itu sangat sulit ditemui. Oleh karena itu memasak sendiri sekali-kali harus dijalani, sekadar untuk mendapatkan pasokan kuah di menu harian. Meskipun Marisa adalah daerah agraris, namun pasokan buah segar juga sangat terbatas. Itulah alasan mengapa kedai-kedai minum berbahan dasar buah-buahan jarang yang beroperasi setiap hari. Tentu saja tidak ada satupun yang beroperasi 24/7, 7 hari seminggu, apalagi 24 jam sehari. Dengan sedikit kreativitas memilih makanan, dengan berbagai kegiatan olahraga rutin, dan di bawah pantauan dokter kontrak, bersyukur para abdi masyarakat di KPPN Marisa itu jarang yang jatuh sakit.

Etos kerja serta kultur masyarakat Gorontalo, khususnya Marisa, membuat kebiasaan para pegawai harus berubah. Toko-toko beroperasi dengan jadwal 9-12/15-21, buka pukul 09.00 sampai 12.00, kemudian tutup selama 3 jam, untuk dibuka kembali dari pukul 15.00 sampai dengan 21.00 waktu setempat. Berbelanja kebutuhan harian pada jam istirahat kantor adalah hal mustahil. Yang beroperasi pada jam-jam itu hanyalah warung-warung nasi. Hal ini juga berlaku untuk pekerja lepas yang beroperasi di siang hari, termasuk tukang kayu dan tukang batu. Jam kerja mereka adalah 9-12/15-18. Karena alasan inilah para pegawai harus menyingsingkan lengan baju, turun tangan sendiri untuk membangun kantor agar sesuai jadwal yang telah ditetapkan. “Bagaimana kalau kita mengerjakannya sendiri, sudah 3 hari ini para pekerja belum menampakkan hasil sesuai harapan kita”, sebuah ide muncul. “Baiklah, kita akan mengerjakannya setelah jam kerja usai”. Kesepakatan untuk membangun sendiri partisi kantor pun timbul di antara Kepala Kantor dan para pegawai.

KPPN Marisa adalah pemegang Peringkat Terbaik III dalam Penilaian LKPP Tingkat Kuasa BUN KPPN Tahun 2007. Penghargaan itu diserahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan kepada Bapak Ruslan Affandi selaku Kepala KPPN definitif pertama KPPN Marisa dalam Rapat Pimpinan Direktorat Jenderal Perbendaharaan di Jakarta pada tanggal 18 – 20 November 2008. Kini di bawah kepemimpinan kepala kantor kedua, karya KPPN Marisa tidak berhenti, tidak ada istilah berpuas diri dan terbuai oleh prestasi yang telah diraih tersebut. Setiap hari adalah proses pembelajaran, baik untuk para pegawai maupun mitra kerja. Pelayanan terus diperbaiki dan ditingkatkan dengan mengadopsi Standard Operating Procedure KPPN Percontohan. Meskipun secara de jure belum ada penetapan KPPN Marisa sebagai KPPN Percontohan, namun alur dan metode kerja telah dilaksanakan. Hasil pemikiran dan karya kepala kantor terdahulu tetap dijaga dengan baik. Kerja sama dan tukar-pikir dengan KPPN Gorontalo sebagai “saudara kandung” berlangsung dengan manis. Bimbingan Kanwil XXVI membuat kinerja KPPN Marisa terarah dengan baik.

Partisi yang menegaskan ruang batas antarseksi itu kini telah selesai. Hasilnya pun sama sekali tidak mengecewakan, sulit untuk membedakannya dengan karya tukang kayu professional. Namun karya mereka tidak berhenti sampai di sana, setidaknya masih ada 2 ide lain yang harus segera mereka realisasikan; membangun ruang serba guna dan Lapangan volleyball. Ruang serba guna itu direncanakan untuk menjadi ruang pertemuan, sekaligus ruang sosialisasi, ruang belajar-mengajar, dan diharapkan juga dapat difungsikan sebagai ruang hiburan jika memang diperlukan. Sedangkan lapangan volleyball akan difungsikan juga sebagai lapangan badminton dan basketball mini, menggantikan lapangan olahraga yang sekarang dimiliki. Wajah para pegawai itu tetap berseri, tubuh-tubuh mereka bahkan terlihat lebih sehat dan prima daripada waktu-waktu sebelumnya. Berusaha mencintai tempat dan tanggung jawab telah membuat mereka mampu bertahan tanpa keluhan. Tidak terdengar gagasan mereka untuk mengakhiri karir mereka di tempat itu, setidaknya hingga hari ini. Yang mereka tunjukkan adalah rasa cinta terhadap pekerjaan, seperti kutipan syair karya Kahlil Gibran dalam buku Sang Nabi ;

Bekerjalah dengan cinta… Jika engkau tidak dapat bekerja dengan cinta, lebih baik engkau meninggalkannya... Dan mengambil tempat di depan pintu gerbang candi-candi, Meminta sedekah kepada mereka yang bekerja dengan penuh suka dan cita...”.
[SP]