Saturday, June 30, 2012

HIDUP ADALAH KUMPULAN PARADOX, MUDAH MENJEBAK!

LIFE BEGINS AT 40
"Hidup dimulai pada usia 40 tahun", mengapa orang menyatakan demikian? Mengapa pada usia 40? Salah satu alasannya mungkin adalah karena pada umur 40 usia kita sesungguhnya baru 17 tahunan! 40 dikurangi 1/3 hidup atau 13 tahun 4 bulan yang kita lalui untuk tidur (tidak dihitung). Sisa 26 tahun 8 bulan dikurangi lagi dengan 9 tahun masa kita sebagai anak-anak (tidak dihitung), & hasilnya adalah 17 tahun 8 bulan, kata orang itulah usia sesungguhnya dari seorang yang berumur 40.

Seperti diakui umum oleh berbagai bangsa di hampir semua belahan bumi, usia 17 adalah usia dimulainya kedewasaan. Implikasinya adalah mungkin wajar kalo sebelum umur 40 seseorang dianggap belum memiliki pemikiran yang matang. Kendatipun demikian, sementara ahli maupun orang bijak menyatakan bahwa usia bukan merupakan variabel dari fungsi kedewasaan. Artinya, umur bukanlah penentu tingkat kedewasaan seseorang. Implikasi lainnya, orang yang mengurangi jam tidurnya cenderung untuk lebih tua, lebih cepat mencapai usia sesungguhnya. Semua itu bisa dipahami, namun yang jelas adalah bahwa ada bagian-bagian timeline hidup kita yang tidak kita sadari.

HIDUP ADALAH KUMPULAN PARADOX
"Orang yang lebih tua lebih dewasa" adalah sebuah contoh paradox. Sebuah paradoks dapat diartikan sebagai  sebuah pernyataan atau sekelompok pernyataan yang mengarah kepada sebuah kontradiksi atau ke sebuah situasi yang berlawanan dengan logika atau intuisi. Agar lebih mudah dipahami, kita luaskan maknanya sehingga paradoks adalah sesuatu yang tampaknya benar tapi ternyata salah, atau sebaliknya yang tampaknya salah tapi benar. Ketika sampai di situ maka kita tentu bertanya; benar & salah menurut siapa, atau apa patokannya? Ya, harus ada sesuatu yang mutlak benar, memiliki kebenaran absolut dan kekal. Karena makhluk selalu nisbi maka patokannya adalah Al-Khaliq, Sang Pencipta, yang menjadi & harus dijadikan satu-satunya sumber kebenaran mutlak.

Sangkin luasnya paradoks ini, berbagai disiplin ilmu memasukkan paradoks sebagai bagian yang harus dipelajari. Hukum Paradoks Nilai, Hukum Hasil Yang Semakin Berkurang, Paradoxical Commandments, Hukum Kelembaman, Efek Doppler, dst adalah contoh beberapa pembahasan dari beberapa disiplin ilmu dengan dasar fenomena ini. Maknanya, hidup kita memang dilingkupi paradoks. Lihatlah bumi ini yang tampaknya adalah tempat tinggal yang paling  nyaman & kalau bisa maka ingin kita tinggali selamanya & dengan berbagai cara kita berusaha tetap hidup enak, namun kenyataannya hanyalah sebuah titik kecil di alam semesta yang di dalamnya adalah api yang terus menyala yang setiap saat bisa membakar. Bumi adalah tempat tinggal paling nyaman adalah sebuah paradoks, jika kita melihat the big picture, gambar besarnya atau bahkan detilnya.

Hubungan manusia dengan manusia yang begitu rumit atau begitu sederhana (tergantung pemahaman intuisi maupun logika masing-masing) tak ayal adalah sebuah dunia yang dipenuhi berjuta paradoks. Kita mengenal paradoks ini dengan kata yang lebih akrab, yaitu ujian, sebagai salah satu contohnya. Keadaan A tampak benar, padahal salah. Situasi B tampak salah, padahal benar. Pernyataan C terdengar benar, padahal salah. Kata-kata si D agaknya benar, padahal salah, dst. Dengan demikian, memegang pedoman yang kekal adalah sebuah hal wajib yang harus dilakukan jika tidak ingin pikiran dan perasaan kita diobak-abrik oleh berjuta paradoks yang melingkupi. Sebagai pribadi, di samping selalu melihat gambar(an) besar atau detil, kita juga dituntut mengenal dengan baik siapa diri kita dan kedudukan setiap orang bagi diri kita. Wallaahu a'lam!

Hidup adalah kumpulan paradoks, hanya mereka yang memiliki ketajaman panca indera, pikiran, dan batin akan hidup bahagia, dan sampai ke tempat kembali dengan selamat. Bergembiralah orang yang telah mengenali dengan baik berjuta paradoks yang melingkupi hidupnya.

[bersambung, mungkin...]


No comments: