Saturday, May 30, 2015

TARAKAN, KALTARA : dari Perjalanan 8 hari, 8 Provinsi

Satu sudut Kaltara dari udara.
[Foto : SP]
"Never believe that a few caring people can’t change the world. For, indeed, that’s all who ever have". [Margaret Mead]

Indonesia adalah negara besar! Benar, tanpa disadari sebelumnya, perjalanan penulis pada pertengahan bulan ini (11 - 17 Mei 2015) adalah salah satu perjalanan terbesar yang pernah penulis lakoni. Pertama, karena banyaknya jumlah provinsi yang penulis datangi. Yang kedua, banyaknya teman dan keluarga yang penulis temui selama perjalanan tersebut. Hal ini ternyata menjadi kebanggaan penulis pribadi tentang betapa besar negeri tercinta ini.

Perjalanan dimulai dari Nusa Tenggara Timur (menginjakkan kaki di 2 pulau), diteruskan ke Bali (1), Sulawesi Selatan (1), Kalimantan Timur (1), Kalimantan Utara (1), Jogjakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur (1). Total perjalanan adalah 8 hari, meliputi 8 provinsi dan 7 pulau (Pulau Flores, Timor, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Tarakan, dan Jawa). Pada perjalanan yang dibiayai sebagian oleh negara dan istri penulis ini (terima kasih, Sayang...!) lintasan penulis di setiap pulaunya bervariasi yaitu antara 2 jam hingga 3 hari. Betapa besar negeri ini, betapa banyak suku bangsanya, betapa beragam budayanya! Siapa tak kan bangga dengan kebesaran negeri ini. Traveling ke negara lain tampaknya belum perlu sebelum menjelajah negeri sendiri yang begitu besarnya ini.

KALTARA, PROVINSI BUNGSU INDONESIA
Salah satu provinsi dalam perjalanan yang memberi paling banyak kenangan adalah Kalimantan Utara. Ada beberapa alasan mengapa perjalanan kali ini sangat berkesan. Yang pertama adalah karena perjalanan kali ini adalah perjalanan kembali setelah 8 tahun penulis untuk kali terakhir mengunjungi negeri di atas garis Khatulistiwa ini. Di sana juga penulis memberi kejutan kepada ayah penulis yang 2 hari sebelumnya telah lebih dulu datang dalam rangka plesiran. Dalam plesiran kali ini beliau ingin menemui sepasang suami istri yang telah menjadi orang tua angkat penulis sejak 1998 (17 tahun lalu). Tak ayal, kehadiran penulis di sana menjadi kejutan indah untuk orang-orang terkasih.

Sudut gedung baru Bandara Juata, Tarakan, Kalimantan Utara. 
Pintu gerbang ke kota terbesar di Kalimantan Utara dan juga pintu gerbang udara ke Malaysia Timur.
Berada di atas garis Khatulistiwa terasa seperti berada di belahan bumi lain. [Foto : SP]
Pulau ini, kota ini adalah tempat awal penulis mengawali karier pada 1996, kemudian menyelesaikan studi sarjana pada tahun 2001. Dengan demikian kunjungan penulis ke sana praktis disertai beberapa pertemuan dengan sebagian kawan kuliah. Dari kawan-kawan yang rata-rata telah sukses dengan karier masing-masing baik di pemerintahan maupun di luar pemerintahan ini, penulis banyak mendengar perjalanan kota pulau ini setelah penulis tinggalkan. Hubungan kami memang cukup erat karena di samping penulis dan kawan-kawan dulu menempuh pendidikan, juga berjuang untuk kemajuan masyarakat setempat. Dari salah satu kawan terbaik yang telah sukses ini, penulis mendapat pinjaman sebuah kendaraan roda 4 yang penulis gunakan selama berada di pulau itu, alhamdulillah...! (Thanks, Fren!)

Sudut pusat kota Tarakan, Kalimantan Utara, beberapa tahun silam di malam hari.
[Foto : http://matahariholidays.com]
Di era awal reformasi, penulis dan kawan-kawan mahasiswa melakukan beberapa move yang menekan pemerintah setempat untuk menghapuskan perjudian dan prostitusi. Hal ini salah satunya kami jalankan melalui media kampus yang kami namakan PerMatika - Penerbitan Mahasiswa STIE Tarakan, 1999. PerMatika ini melahirkan majalah sederhana dengan nama yang sama, yang pada saat itu merupakan satu-satunya majalah kampus di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Pada perjalanan berikutnya kami kemudian mendeklarasikan pendirian sebuah forum yang kami beri nama Gema Permata -Gerakan Mahasiswa Untuk Pemberdayaan Masyarakat Tarakan. Forum yang menggandeng KPMKT (Kerukunan Pelajar dan Mahasiswa Kalimantan Timur) ini pada dasarnya merupakan wadah untuk memberikan asistensi kepada masyarakat yang mengalami masalah-masalah dalam rangka pemerintahan dan pembangunan. Pada perkembangannya, kami gunakan juga untuk melakukan gerakan 'di jalan', berupa mimbar bebas dengan menggandeng Senat Mahasiswa.

Balikpapan Superblock (BSB), pusat bisnis terbaru di Balikpapan, Kalimantan Timur, 
kota terbesar di Kalimantan Timur dan kota terbersih di Indonesia [Foto : SP]
Pencapaian kawan-kawan mahasiswa yang menurut penulis merupakan pencapaian tertinggi adalah ketika membentuk sebuah forum yang lebih besar dan lebih fokus yang kami namakan Formasiku - Forum Pejuang Bagi Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara. Dalam forum ini semua lembaga yang kami bentuk dan kami gandeng ketika itu lebur menjadi satu. Ketua dan Wakil Ketua Gema Permata, M. Tamrin dan T. Syahraini, terangkat sebagai Presiden dan Wakil Presiden Forum. Sedangkan posisi Sekjen diserahkan kepada Pemimpin Redaksi PerMatika (jabatan penulis ketika di kampus kalau tidak salah saat itu...).

Gelaran fenomenal yang berhasil diselenggarakan oleh Forum ini adalah sebuah Dialog antara masyarakat wilayah Utara Kalimantan Timur dengan Pimpinan MPR RI. Dialog itu dilaksanakan oleh sebuah Pansus yang dipimpin langsung oleh Ketua Formasiku dan Khairuddin, salah seorang ketua departemen dari perwakilan KPMKT. Setelah melakukan komunikasi intensif dengan Ketua MPR, saat itu dijabat oleh Dr. Amin Rais dari Partai Amanat Nasional, acara Dialog Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara digelar pada hari Sabtu tanggal 19 Mei 2001 di aula Pelabuhan Laut Malundung, Tarakan. Perwakilan masyarakat dan pemuda dari 5 Kabupaten/Kota kami undang, yaitu Kabupaten Bulungan, Kabupaten Berau, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, dan Kota Tarakan. Sedangkan karena tugas yang mendesak, Dr. Amin Rais mewakilkan kehadirannya kepada Wakil Ketua MPR RI dari partai yang sama, yaitu Dr. A.M. Fatwa, Andi Mappetahang Fatwa. Acara Dialog tersebut, dengan moderator Ketua Dewan Penasihat Formasiku yang juga dosen kami di STIE Tarakan, A. Hamid Amren (kini Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tarakan) dan diliput pula oleh wartawan dari beberapa media cetak maupun elektronik (termasuk TVRI) terselenggara dengan tertib dan lancar. Sukses acara ini merupakan pencapaian bersama baik Formasiku, pemerintah daerah, maupun pemuda dan masyarakat Kaltim wilayah Utara. Tak lupa, jajaran pimpinan KKSS -Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan, almarhum H. Muhidin dkk sangat berperan dalam penyediaan akomodasi bagi Pimpinan MPR RI dan rombongan.

Hutan Kota, KKMB, Tarakan, Kalimanatan Utara.
Simpulan yang diperoleh dari dialog tersebut adalah bahwa status pembentukan provinsi Kalimantan Utara adalah "on the go", artinya Pimpinan MPR RI memandang bahwa desakan ini valid dan feasible sehingga dapat dibawa ke floor DPR/MPR. Implikasinya adalah masyarakat dan pemerintah setempat harus segera memfasilitasi dan mengawal perkembangan gagasan pembentukan provinsi baru tersebut. Alhamdulillah pula saat itu Tarakan dikaruniai walikota yang berwawasan global, dr. Yusuf Serang Kasim. Sebagai Walikota Tarakan incumbent dr. Yusuf membuka tangan lebar-lebar terhadap segala gagasan mahasiswa maupun masyarakat. Tokoh ini pula yang menancapkan konsep "Little Singapore" untuk kota Tarakan. Kini, setelah 14 tahun, Tarakan dan 4 kabupaten di sekitarnya adalah elemen wilayah yang disebut sebagai Provinsi Kalimantan Utara, Kaltara, sebagai Provinsi termuda, Provinsi ke-34 Indonesia. Sudah 2 orang pelaksana tugas Gubernur Kaltara dilantik, dan masih menunggu Gubernur definitif pertamanya.

[Bersambung...]

Thursday, April 30, 2015

Memilih Teman - Tentang Komunikasi Yang Benar (II)


Astaghfirullah Al-Adhim... Audzubillah... Bagian III kitab Ta'lim Muta'alim, atau lengkapnya Ta'lim Al-Muta'allim Tariq At-Ta'allam (Pelita Penuntut Ilmu Sebagai Jalan Meraih Pengajaran) Karya Syeikh Az-Zarnuji, Burhan Al-Islam Ad-Din Ibrahim Az-Zarnuji Al-Hanafi, membahas "Tentang Memilih Ilmu, Guru, Teman, dan Tentang Ketekunan". Dengan adanya bagian ini, kitab dasar yang diajarkan di pesantren-pesantren dan ma'had-ma'had ini dapat menjadi salah satu referensi dasar kita semua dalam memilih teman dan berkomunikasi dengan orang lain. Di bawah ini penulis sajikan subbagian "Memilih Teman" melalui terjemah Abdul Kadir Aljufri dengan sedikit tambahan suntingan penulis. Caption di bawah adalah potongan bagian (fasal) terkait, dalam kitab berbahasa Arab.

Hendaklah memilih teman yang tekun, wara’, dan istiqamah. Juga orang-orang yang suka memahami ayat-ayat Al-Quran dan Hadits-hadits Nabi. Di samping itu, jauhilah orang-orang pemalas (penganggur), banyak bicara (pembual), suka mengacau (perusak), dan gemar memfitnah!

Dikatakan dalam sebuah syair :
  • Jangan bertanya tentang watak/perilaku seseorang, cukuplah kaulihat siapa temannya,
  • karena siapapun dia, mesti berwatak seperti temannya.
  • Bila kawanya berperilaku buruk (durhaka), jauhilah dia segera,
  • bila bagus budinya, bertemanlah dengannya, tentu kau akan mendapat petunjuk!
 Seorang penyair berkata :
  • Jangan kau temani si pemalas, hindari segala hal darinya,
  • banyak orang baik menjadi rusak sebab kerusakan temannya
  • Karena penularan orang bodoh kepada orang pintar amatlah cepat,
  • laksana bara api di dalam abu, maka ia akan padam!
Rasulullah bersabda :
Semua bayi itu dilahirkan dalam keadaan fitrah islam, kedua orang tuanyalah yang membuatnya jadi yahudi, nasrani, atau majusi.

Ada kata-kata hikmah dalam bahasa Parsi :
  • Teman yang durhaka lebih berbahaya daripada ular yang berbisa,
  • demi Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Suci,
  • Teman buruk, membawamu ke neraka Jahim,
  • teman yang baik, mengajakmu ke syurga Na'im!
 Seorang penyair berkata :
  • Bila kau ingin mendapat ilmu dari ahlinya,
  • atau ingin tahu yang gaib dan memberitakannya
  • maka ambillah pelajaran tentang isi bumi dari nama-namanya,
  • dan perhatikan orang yang akan kaujadikan teman, dengan siapa ia bersahabat!
 (*)

Monday, February 23, 2015

Cintai Pekerjaan Atau Tinggalkan (II) :
BEKERJA DAPAT MEMBUNUHMU!

“By going to work, we’re killing ourselves, literally!” –dengan bekerja, kita membunuh diri kita sendiri, dalam artian sebenarnya!
(Simon Sinek)

Judul di atas terbaca cukup provokatif bagi otak kita, bukan? Benarkah itu terjadi? Bagaimana bisa? Adalah Simon Sinek, seorang inspirator sukses berusia 41 tahun, yang merupakan penulis buku Start With Why: How Great Leaders Inspire Everyone to Take Action (2009) dan Leaders Eat Last: Why Some Teams Pull Together and Others Don’t (2014), yang sering mengungkapkan hal tersebut. Orang yang dianggap sebagai penemu konsep Diagram “Lingkaran Emas” Motivasi Manusia tersebut, hampir dalam setiap presentasinya mengungkapkan bahwa penelitian membuktikan bahwa dari orang tua pekerja yang biasa bekerja hingga larut malam, dampak negatif yang ditimbulkan terhadap anak-anak mereka hampir tidak ada sama sekali. Akan tetapi, atas orang tua yang melakoni sebuah pekerjaan yang tidak dicintainya, anak-anak mereka cenderung menjadi anak-anak yang nakal di sekolah. Masalah tidak terletak pada sekolah mereka, masalah juga tidak terletak pada cara orang tua mengasuh anak-anaknya, namun masalah sesungguhnya terletak pada pekerjaan yang dimiliki orang tua dari anak-anak itu. Itu baru satu contoh dampak buruk pekerjaan kita terhadap anak-anak kita, belum lagi dampak bagi diri kita sendiri.


BOSS YANG PAYAH MENGACUHKAN RASA AMAN

Jika kita pikirkan dan uraikan lebih dalam, akar dari penderitaan kita di tempat kerja bukanlah saklek pekerjaan kita semata. Masalah-masalah yang terjadi di tempat kerja sesungguhnya merupakan tanggung jawab orang yang dipercaya sebagai atasan kita, orang yang kita panggil sebagai “Boss”. Atasan yang baik akan membuat kita menaruh hormat kepadanya, bahkan terhadap seorang atasan yang baik kita takkan segan-segan untuk mengucurkan sedikit keringat demi melakukan sesuatu untuk dirinya. Kita merasa hormat dan sayang terhadap dirinya karena pengakuan tulus kita terhadap kualitas-kualitas positif serta kelebihan-kelebihan yang dimiliki olehnya. Mengapa demikian? Sebab di dalam lubuk hati yang terdalam kita percaya bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi atas kita, orang yang kita hargai sebagai boss itu akan mengerahkan segala kelebihannya demi melindungi kita. Rasa percaya bahwa boss akan melindungi inilah yang menjadi dasar kita untuk selalu merasa aman ketika berada di bawah kepemimpinannya. Bukankah kita semua memahami salah satu ciri boss yang buruk adalah bahwa ketidakberadaannya di tempat tidak memberi pengaruh buruk apapun terhadap kita, bahkan ketidakberadaannya membuat kita bergembira-ria?

Lalu mengapa tidak semua atasan menciptakan rasa aman seperti ini? Sebab hal ini tidaklah gratis, selalu ada pengorbanan untuk menciptakannya. Pengorbanan ini mungkin berupa waktu untuk berinteraksi, tenaga untuk membantu bawahan atau peer, atau bahkan uang untuk membiayai sebuah kebersamaan yang sebenarnya bukan faktor yang tertinggi nilainya bagi pembentukan kepercayaan namun justru paling dikhawatirkan penurunan jumlahnya oleh boss-boss yang payah seperti ini. Boss yang baik akan bersedia untuk berkorban agar orang-orang di bawah kepemimpinannya dapat memperoleh manfaat sebesar-besarnya. Sebaliknya, boss yang buruk akan tega mengorbankan orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya demi memperoleh manfaat untuk dirinya sendiri.

Dalam kehidupan profesional, atasan kita senantiasa menuntut agar kita menjaga kesetiaan maupun penilaian pelanggan, menjadikan mereka pusat perhatian kita, akan tetapi terlepas dari tuntutan tersebut, tak jarang kita mendapati kenyataan pahit bahwa orang yang memerintah kita, atasan kita, tidak memberikan perhatian mereka kepada kita. Dalam hal seperti ini, organisasi atau institusi kita dikatakan telah kehilangan, meminjam istilah Simon Sinek, the circle of safety (lingkaran rasa aman). Kita kehilangan rasa aman dalam melaksanakan tugas-tugas kita, kita tidak merasakan adanya sejawat yang akan mendukung dan selalu siaga untuk mem-backup dan melindungi diri kita. Jika hal tersebut terjadi, kita akan bekerja sendiri-sendiri untuk mengejar target IKU (Indeks Kinerja Utama) organisasi, misalnya, atau target produksi pabrik, target penjualan perusahaan, atau target-target lainnya, dan kita tidak lagi memiliki perhatian terhadap apa yang dilakukan oleh masing-masing individu dalam tim, kita tidak lagi membatu satu sama lain, padahal saling membantu merupakan bagian terpenting dalam kehidupan profesional. Ketika hal ini tidak terjadi maka dampak bagi kita adalah bahwa kita tidak lagi mendapatkan manfaat dari tugas-tugas yang kita lakukan. Ketika kita diharuskan untuk fokus kepada uraian tugas masing-masing maka kita pun secara tidak sadar akan terjauhkan satu sama lain, dampaknya adalah bahwa kita akan mengalami kesendirian, merasakan kesepian batin. Hal ini pada gilirannya menjadi tekanan untuk kita yang bekerja karena bertentangan dengan kodrat kita sebagai makhluk sosial.


KORTISOL, SI PENIKAM DALAM LIPATAN

Jika ada agen pembunuh yang mampu membunuh kita karena pekerjaan, ia tak lain adalah cortisol. Hormon yang ngeri-ngeri sedap ini adalah hormon yang terbentuk secara melimpah ketika kita merasa tertekan atau merasa cemas. Hormon ini adalah alarm yang menjaga kita tetap hidup, juga menjalankan fungsi-fungsi metabolisme penting lainnya di dalam tubuh. Namun, dalam jumlah yang berlebihan ia juga membuat kita merasa tidak karuan, galau, gila! Karena karakteristiknya yang demikian maka hormon ini tidak seharusnya terus berdiam secara melimpah di dalam sistem tubuh kita, seharusnya ia timbul bak air bah seketika diperlukan dan lekas surut kembali (fight-and-flight mechanism). Sayangnya, kehidupan profesional dewasa ini menghalangi hormon kortisol untuk datang dan pergi dengan mekanisme seperti itu. Ketika kita bekerja tanpa lingkaran keamanan sebagaimana disinggung di atas maka kita akan merasa galau dari hari ke hari, mengalami tekanan batin setiap saat, selalu tegang, dan akhirnya gila! Bisa dibayangkan ketika kita pulang ke rumah dalam keadaan masih tertekan seperti ini? Rumah dan seisinya bisa jadi akan menjadi sasaran empuk dari tekanan yang terus menumpuk di punggung dan kepala kita. Rumah pun menjadi seperti neraka, tidak lagi menjadi yang seharusnya; syurga yang menyejukkan kita. Anak-anak pun menjadi korbannya.

Doktor Shawn Talbott dalam bukunya The Cortisol Connection (2002) mengemukaan beberapa kondisi negatif yang dapat terjadi ketika tubuh seseorang memproduksi kortisol secara berlebihan dalam jangka panjang. Ia mengungkapkan bahwa berbagai penelitian ilmiah dan bukti-bukti medis memperlihatkan dengan jelas bahwa tingkat kortisol yang tinggi dalam tubuh secara berkesinambungan akan memicu stress kronis yang sulit reda, serta menciptakan efek yang melemahkan kesehatan dalam jangka panjang. Efek yang melemahkan ini dapat kita anggap sebagai anti-imun atau penurun kekebalan tubuh, bukan? Ia juga menambahkan bahwa di antara sekian banyak pengaruh negatif kortisol berlebih ini adalah meningkatnya selera makan dan hasrat untuk melahap jenis makanan-makanan tertentu. Mengingat salah satu peran utama kortisol adalah mendorong tubuh untuk mengisi kembali bahan bakarnya setelah menghalau hadirnya penyebab stress, tingkat kortisol yang telah tinggi membuat nafsu makan kita terdongkrak —makanya kita merasa lapar terus-menerus.

Selain itu, jenis lemak yang terakumulasi sebagai akibat nafsu makan tinggi karena ditunggangi stress biasanya akan menempati daerah perut, mungkin supaya mudah tersedia ketika diperlukan untuk merespon stress berikutnya. Masalah terbesar dengan lemak perut ini, terlepas dari fakta bahwa tidak ada orang yang suka berperut buncit, adalah jenis lemak ini sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan sakit jantung, penyakit kencing manis, serta kanker. Kalau tempat kerja kita sudah kondusif untuk menciptakan risiko penyakit seperti ini, masih haruskah kita pertahankan? Jika Anda tak mampu mencintai tempat kerja Anda yang penuh tekanan, masih adakah alasan bagi Anda untuk bertahan? Tinggalkanlah, atau Anda akan mati karenanya baik secara cepat, maupun pelan-pelan!

[Jika masih ada waktu, pada kesempatan mendatang in syaa Allah penulis akan mengungkapkan langkah-langkah untuk mengatasi kortisol ini, juga membahas kawan-kawannya yang lain masih dalam konteks leadership]

* http://contextualfeed.com illustrates


Thursday, January 22, 2015

Tentang Komunikasi Yang Benar (I)

Berhati-hatilah terhadap sahabatmu di kala engkau sehat dan kaya, sebab ia adalah musuh terbesarmu. Janganlah engkau menjadikan kekayaanmu lebih bernilai daripada kehormatanmu. Duhai orang muda, memadailah kiranya bagimu hal-hal di atas sebagai permulaan hidayah. Ujilah dirimu dengan hal (kitab) ini, yang terdiri atas tiga bagian. (Bidayatul Hidayah - Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali)


Note :
Astaghfirullah Al-Adhiim. Bagian III kitab termasyhur Bidayatul Hidayah (Permulaan Hidayah) Karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali membahas berbagai hal mengenai tata laku kita dalam berhubungan dengan ALLAH dan manusia. Kitab yang dianggap sebagai prolog dari kitab besar Ihya' Ulumuddin ini bisa menjadi salah satu tuntunan dasar kita semua dalam berkomunikasi dengan orang lain. Di bawah ini penulis sajikan fasal "Berhubungan Dengan Kenalan" melalui terjemah H.M. As'ad El-Hafidy dengan sedikit tambahan suntingan penulis. Kenalan, menurut hemat "penulis pribadi", secara sosiologis adalah tingkat kedua dari rantai hubungan seseorang dengan orang lain. Rantai ini berhubungan dalam hal kedekatan dan penghormatan, dengan tingkat sebagai berikut : Orang Asing -> Kenalan -> Teman (Handai Tolan) -> Sahabat -> Kerabat -> Keluarga. Dewasa ini, terkhusus di dunia maya, 3 level terbawah berisikan orang-orang yang paling banyak dan paling sering berhubungan dengan kita. Nukilan ini merupakan bagian akhir dari kitab Bidayatul Hidayah. Jika Anda mengalami kesulitan memahami maksud terjemahan ini, Anda dapat membaca kitab aslinya, atau mencari terjemahan lain yang Anda anggap lebih mudah dicerna. Semoga bermanfaat!

Berhubungan dengan Kenalan
Berhati-hatilah terhadap kenalanmu, sebab engkau hanya akan menerima keburukan dari kenalan yang tak benar-benar engkau kenal. Sahabat-sahabatmu akan menolongmu; dan mereka yang benar-benar tak engkau kenal takkan mempengaruhimu, namun keburukan akan menimpamu bila engkau berkenalan dengan orang yang menunjukkan persahabatan dengan lisannya belaka. Maka menjauhlah sedapat mungkin dari kenalan-kenalan semacam itu.

Bila engkau berkenalan dengan orang-orang yang ada di sebuah lembaga akademi, atau masjid jami', atau masjid kecil, atau kota, atau pasar maka janganlah engkau melecehkan mereka, barangkali mereka lebih baik daripada engkau.

Janganlah engkau pandang bahwa mereka itu memiliki kebaikan duniawi, agar engkau tak binasa, sebab dunia hampir tak berarti dalam padangan ALLAH, dan segala yang ada di dalamnya hampir tak bernilai. Maka dari itu, kapan pun hati merasa takjub terhadap orang yang memiliki keuntungan duniawi, maka rendahlah dirimu dalam pandangan ALLAH. Jagalah dirimu agar engkau tak menggunakan agamamu untuk memperoleh kepemilikan-kepemilikan duniawi. Barangsiapa berbuat begini, maka milikan-milikan duniawi itu tak berarti baginya.

Jika kenalanmu itu bersikap tak baik terhadapmu maka janganlah engkau menghadapi mereka dengan permusuhan sebab engkau tentu takkan mampu bersabar bila mereka membalas rasa permusuhanmu itu. Nah, bila demikian, maka sifat keagamaanmu akan sirna ketika mereka memusuhimu, sehingga kesulitan akan kian bertambah.

(Sebaliknya) jika mereka menghormatimu, memujimu di depanmu, dan menunjukkan rasa persahabatan denganmu maka janganlah engkau mempercayai mereka, sebab jika engkau tahu maka sebenarnya mereka itu tak tulus dalam bersikap terhadapmu. Janganlah engkau mengharap bahwa mereka akan bersikap sama baik di kala mereka di depan umum maupun di kala seorang diri. Janganlah engkau merasa heran bila mereka mengumpatmu, di belakangmu dan janganlah engkau marah karena hal itu; sebab jika engkau jujur, maka engkau pun tahu bahwa engkau pun bersikap serupa terhadap sahabat-sahabat dan kerabatmu, dan bahkan terhadap para guru dan kedua orang tuamu ketika engkau membicarakan hal mereka di belakang mereka.

Campakkanlah nafsu serakahmu terhadap kekayaan, nama/kedudukan, dan pertolongan kenalanmu. Si tamak biasanya akan merugi di kemudian hari dan hina di saat ini. Jika engkau meminta agar orang memenuhi kebutuhanmu, dan melakukannya, maka bersyukurlah kepada Allah dan dia. Namun jika ia menolak maka janganlah engkau menyalahkannya, agar tak timbul permusuhan antara engkau dan dia. Jadilah seperti si mukmin yang berupaya memaafkan orang, dan janganlah menjadi seorang munafik yang senantiasa berupaya mencari-cari kesalahan; namun katakanlah, ‘Ia menolak membantuku, mungkin ada alasan tertentu yang tak kuketahui.’

Jangan engkau mengira bahwa kenalanmu itu mau menerima pendapatmu jika engkau tak melihat adanya tanda-tanda bahwa ia akan menerima pendapatmu itu. Jika tidak, ia takkan mendengarkanmu, malah ia akan menentangmu. Jika salah satu dari kenalanmu berbuat salah dan mereka tak menegurnya (belajar dari kesalahan), maka janganlah engkau mengajarnya tentang sesuatu, sebab ia akan mendapatkan keuntungan darimu dan sekaligus akan menjadi musuhmu. Namun, jika kesalahannya itu membuatnya sadar, maka katakanlah kepadanya tentang kebenaran dengan cara yang baik.

Jika mereka menghormatimu dan berbuat baik kepadamu, maka bersyukurlah kepada ALLAH yang telah membuatmu dicintai mereka. Namun, jika mereka berbuat tak baik terhadapmu, maka pasrahkanlah semua itu kepada ALLAH, berlindunglah kepada-Nya dari keburukan mereka, janganlah mengumpat mereka, dan janganlah berkata, “Tak tahukah engkau bahwa aku adalah putra si polan, bahwa aku adalah seorang berilmu?” Janganlah berkata begini, sebab si bodohlah yang berkata begini. Orang paling bodoh ialah orang yang menganggap dirinya suci dan terpuji. Ketahuilah bahwa ALLAH memberi mereka kekuatan untuk berbuat terhadapmu (sehingga mereka berbuat buruk terhadapmu) hanya karena dosa-dosa yang telah engkau perbuat. Ketahuilah pula bahwa hal itu merupakan hukuman dari-Nya.

Bergaullah dengan kenalan-kenalanmu yang engkau dengar tentang kebenaran mereka dan engkau buta tentang kesalahan mereka, percakapkanlah kebaikan mereka dan diamlah tentang keburukan mereka. Berhati-hatilah terhadap sang berilmu (fakih) di masa ini, terutama mereka yang tenggelam dalam masalah-masalah yang saling bertentangan dan perdebatan-perdebatan. Berhati-hatilah terhadap mereka; karena mereka cemburu dan dengki, maka mereka mengharap agar engkau bernasib buruk, membayangkan berbagai hal tentang dirimu, dan bila mereka berada di belakangmu, maka mereka saling berisyarat mata sembari memburuk-burukkan dirimu sehingga dengan marah mereka melontarkan keburukan-keburukan ini kepadamu bila mereka berselisih denganmu. Mereka tak mau memaafkan kesalahan atau kekeliruanmu. Mereka membeberkan masalah-masalah pribadimu yang seharusnya disembunyikan. Mereka akan membuat perhitungan denganrnu walau dalam hal-hal sepele. Dalam segala hal mereka dengki terhadapmu. Dengan cara memfitnah, mereka mendorong sahabat-sahabatmu untuk menentangmu. Jika mereka merasa senang denganmu, maka mereka akan menjilatmu. Namun, jika mereka membencimu, maka mereka akan tampak benar-benar bodoh. Mereka adalah serigala berbulu domba. Beginilah, setelah mereka kita amati, keadaan kebanyakan di antara mereka kecuali mereka yang telah dilindungi oleh ALLAH. Bila engkau bersahabat dengan mereka, maka engkau akan rugi. Jika begitulah keadaan mereka yang menunjukkan rasa persahabatan denganmu, maka bagaimana pula keadaan mereka yang secara terbuka menunjukkan rasa permusuhan denganmu?

Al-Qadhi ibn Ma'ruf berkata,
Berhati-hatilah terhadap musuhmu ,
Namun lebih berhati-hatilah terhadap kawanmu,
Sebab seorang kawan kadang bisa berubah menjadi musuh,
Dan ia tahu bagaimana cara merugikanmu.
Begitu pula apa yang dinyatakan oleh sebuah syair:
Kadang musuhmu itu berasal dari kawanmu
Maka janganlah menambah persahabatan,
Hampir semua penyakit yang engkau lihat,
Berasal dari makan dan minum.
Jadilah seperti apa yang dikatakan oleh Hilal bin ibn al-Ala  :
Karena aku memaafkan dan tak mendendam,
Maka, aku merasa tak khawatir terhadap musuh.
Aku salami musuhku ketika aku bertemu dengannya,
Sehingga aku bisa mengusir keburukan dengan hal itu,
Kutunjukkan kebaikanku terhadap orang yang kubenci.
Seolah  ia telah menyenangkanku.
Aku merasa tak aman terhadap orang yang tak kukenal,
Lantas bagaimana aku bisa merasa aman terhadap lawan-lawanku?
Manusia adalah penyakit dan satu-satunya obat  ialah mencampakkannya,
Bersikap keras terhadapnya akan memutuskan tali persaudaraan,
Maka berhati-hatilah terhadap manusia agar engkau selamat dari heburukan-keburukannya,
Dan dambakanlah persahabatan.
Berlaku baiklah terhadap manusia dan tabahlah terhadap apapun yang datang darinya;
Tuli, bisu dan butalah, dan jadilah orang yang takwa kepada ALLAH.
Juga, jadilah seperti apa yang dinasihatkan oleh seorang bijak, "Bermuka baiklah terhadap sahabat dan musuhmu. Jangan merendahkan diri dan janganlah takut kepada mereka. Jadilah orang mulia yang tak bangga diri, rendah hatilah dan janganlah merendahkan diri." Bersikap wajarlah dalam segala hal. Janganlah berlebih-lebihan, sebab hal itu merupakan aib sebagaimana bunyi sebuah syair :
Bersikap wajarlah dalam segala hal,
Sebab hal ini merupakan jalan lurus menuju jalan mulus;
Janganlah berlebih·lebihan, dan jangan pula berpangku tangan,
Sebab kedua hal itu merupakan aib.
Janganlah menengok ke kiri dan kanan dengan bangga diri dan jangan pula banyak menengok. Janganlah berdiri di sisi sekelompok orang, namun duduklah bersama mereka. Bila engkau duduk, janganlah engkau bersikap seolah engkau hendak bangun. Jagalah dirimu dari memainkan jari-jemarimu, memainkan jenggot dan cincinmu, mengetuk-ngetuk gigi, mengorek-ngorek lubang hidung, banyak meludah, mengusap-usap hidung, menghalau lalat dari wajahmu, merentangkan tangan di kala berjalan, menguap di hadapan orang selama salat dan sebagainya.

Jadikanlah pertemuanmu sebagai jalan menuju kebenaran dan tatalah perkataanmu. Dengarkanlah perkataan baik dari mereka yang berbicara denganmu, dan janganlah menunjukkan keheranan yang berlebihan dan janganlah meminta mereka untuk mengulangi perkataan mereka. Diamlah terhadap hal-hal yang membuat orang tertawa. Janganlah mengunggulkan anakmu, syairmu, pembicaraanmu, buku-bukumu dan hal-hal pribadimu. Janganlah bersikap seperti seorang wanita. Janganlah bersikap seperti budak. Janganlah berlebih-lebihan dalam menggunakan wewangian dan janganlah meminta mereka untuk membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu.

Janganlah mendorong orang untuk berbuat aniaya. Janganlah istri dan anakmu mengetahui kekayaanmu apalagi orang lain, sebab bila mereka tahu bahwa kekayaanmu itu tak seberapa, maka mereka akan melecehkanmu, dan jika mereka tahu bahwa engkau kaya, maka engkau takkan mampu menyenangkan mereka dengan kekayaanmu itu. Bersikap keraslah terhadap mereka, tapi janganlah berlaku kasar terhadap mereka, bersikap lembutlah terhadap mereka, tapi janganlah berlaku lemah terhadap mereka. Janganlah bercanda dengan hamba sahaya perempuan dan laki-laki, agar harkatmu tak jatuh. Bila engkau bersitegang, bersabarlah, lindungilah dirimu dari kebodohan dan janganlah tergesa-gesa, dan pikirkanlah hujjahmu. Janganlah banyak bermain tangan. Janganlah banyak menengok ke belakang. Janganlah berlutut. Berbicaralah ketika gejolak amarahmu reda. Bila si penguasa mendekatkan dirimu kepadanya, maka bersikaplah seolah engkau berada di tepi ujung tombak.  Berhati-hatilah terhadap sahabatmu di kala engkau sehat dan kaya, sebab ia adalah musuh terbesarmu. Janganlah engkau menjadikan kekayaanmu lebih bernilai daripada kehormatanmu.

Duhai orang muda, memadailah kiranya bagimu hal-hal di atas sebagai permulaan hidayah. Ujilah dirimu dengan hal ini, yang terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama ialah tentang aturan-aturan dalam beribadah kepada ALLAH. Bagian kedua ialah tentang cara menghindar dari dosa, dan bagian ketiga ialah tentang cara berhubungan dengan sesama manusia. Termasuk dalam hubungan ini ialah hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan makhluk. Jika engkau merasa serasi dengan permulaan hidayah ini, hatimu cenderung padanya dan ingin bertindak sesuai dengannya, maka ketahuilah bahwa engkau adalah orang yang jiwanya telah diterangi dan diperluas dengan iman oleh ALLAH. Yakinlah bahwa permulaan hidayah ini ada akhirnya dan di luar hal ini maujud rahasia-rahasia, kedalaman, ilmu yang luas, pandangan-pandangan dan tembus-hati (mukasyafat). Hal-hal ini telah kami kemukakan dalam karya kami, Ihya' Ulumiddin. Nah, berupayalah meraih hal ini. Jika hawa nafsumu hampir tak mau menunaikan kewajiban-kewajiban ini (wazhaif) dan mengesampingkan ilmu ini dan berkata kepadamu, 'Bagaimana ilmu ini bisa bermanfaat bagimu ketika engkau berada di tengah-tengah para berilmu?' Kapankah ilmu ini dapat menempatkanmu di deretan depan sesamamu dan orang-orang yang berpikir?

Dan bagaimana ilmu ini bisa mengangkat harkatmu di tengah-tengah para putra mahkota dan gubernur sehingga hal itu mendatangkan kekayaan dan sarana-sarana hidup lainnya kepadamu, sehingga engkau terkaruniai dan menjadi hakim atau penguasa? Maka sadarilah bahwa setan telah menyesatkanmu dan telah membuatmu melupakan tempat kembalimu dan tempat tinggalmu setelah mati. Maka carilah setan seperti dirimu yang dapat mengajarkan kepadamu bahwa ilmu yang engkau bayangkan akan bermanfaat bagimu dan akan membuatmu meraih apa yang engkau dambakan. Namun ketahuilah jika engkau berkuasa, maka hal itu takkan bersih dari noda. Nah, jika demikian, maka pada hari penentuan, engkau akan kehilangan kerajaan dan kecerahan abadi di sisi Tuhan semesta alam. Semoga kedamaian, rahmat dan berkat Allah melimpahimu!
Segala puji bagi ALLAH pertama dan terakhir lahir dan batin! Tiada berdaya atau kuat kecuali ALLAH. Shalawat dan salam Allah atas pemimpin kita Muhammad, keluarganya dan sahabat-sahabatnya!

cathieheath.com illustrates