Jam
di dinding kantor itu sudah menunjukkan pukul 23.00 WITA,
punggung para pemuda itu bercucuran keringat, dan wajah mereka
belepotan serbuk halus kayu yang sedang mereka potong
dan mereka amplas. Tidak tersirat rasa jenuh di wajah mereka
yang tenggelam di antara meja-meja dan kursi kantor. Yang
terlihat mulai mengantuk mengambil tempat duduk untuk
beristirahat sejenak sambil mengamati kawan-kawannya yang masih
memotong kayu bahan partisi ruangan. Mereka bukanlah
tukang-tukang kayu profesional, mereka bukanlah para pekerja
lepas atau orang-orang tanpa pekerjaan pasti. Siapapun yang
menyaksikan suasana malam itu pasti menilai mereka sebagai
pekerja yang melampaui batas kelaziman jam kerja di wilayah itu.
Semua dugaan itu salah, mereka adalah para pegawai Ditjen
Perbendaharaan. Orang-orang yang bahkan mungkin belum pernah
belajar memasang paku atau menatah dan menggergaji kayu.
Sebagian telah bekerja di Marisa, kota kecil yang baru
berkembang di provinsi Gorontalo, selama 2 tahun. Sebagian
lainnya baru bekerja selama beberapa bulan di kota (kecamatan)
yang harus ditempuh sekitar 4 jam dari ibukota provinsi itu.
Apa yang sedang mereka lakukan malam itu dan malam-malam
berikutnya? Membangun kantor! Ya, membangun kantor, membangun
“lahan rizki” mereka sendiri. Tidak ada eselonering di
waktu-waktu kerja seperti itu, semua berbaur menjadi satu dalam
semangat membangun. Tidak ada lagi jabatan kepala kantor, tidak
ada lagi jabatan office boy, semua bebas berpendapat,
mengeluarkan ide untuk mendapatkan cara terbaik. Jika jenuh
mulai mendekat, mereka mengambil raket badminton dan bermain di
lapangan belakang kantor. Lapangan yang ternyata juga mereka
bangun dengan biaya dan tenaga sendiri di atas lahan parkir
kantor! Di sela-sela waktu-waktu santai mereka sering berdiskusi
tentang berbagai hal, terutama tentang hal-hal yang sedang dan
akan mereka lakukan untuk kantor.
“Mungkin
orang lain akan menganggap kita adalah orang-orang yang sok kuat,
kelebihan tenaga”, kata salah seorang di antara mereka. “Atau
mungkin orang-orang yang berintegritas dan berdedikasi tinggi”,
timpal yang lain. “Atau bahkan tidak lebih dari orang-orang
tolol!”, celetuk yang lain lagi. Sejenak semua terdiam, mencoba
mencerna pernyataan-pernyataan tersebut dengan pikiran mereka
masing-masing. “Mereka sesungguhnya tidak tahu. Apapun kata
orang, kita harus tetap berpikir positif dan tetap menancapkan
harapan terbaik”, seseorang di antara mereka memecah keheningan.
“Meski tidak ada penghargaan sedikitpun, setidaknya kita telah
mengembangkan diri, siapa tahu setelah kita pensiun bisa menjadi
Boss Bas (sebutan untuk kepala tukang di wilayah Gorontalo)…”.”Ha
ha ha ha…”, tawa mereka memecah keheningan malam.
Ya,
mengembangkan diri, itu yang membuat mereka tetap mengabdi
dengan penuh semangat di tempat terpencil. Tidak ada bayaran
untuk pekerjaan itu, tidak ada bintang jasa yang mereka harapkan,
semua hanya berdasarkan cinta dan keikhlasan semata. Tempat
tidak lagi menjadi masalah, semua bergantung pada person-nya,
demikian yang akhirnya mereka pahami. Maka tidak heran hari-hari
dan malam-malam yang mereka lalui selalu berwarna, selalu padat
dengan agenda. Di luar jam kerja, dimulai pukul 17.00 waktu
setempat mereka benar-benar sibuk, sibuk dengan jadwal
badminton, fitness, sepak takraw, bola basket, memancing,
berburu, kumpul-kumpul bakar ikan, dan sebagainya. Malam-malam
itu akan mereka tutup dengan kesibukan “nukang” membangun
infrastruktur kantor. Kegiatan tersebut baru berhenti tepat
tengah malam atau satu-dua jam setelahnya. Tidak ada yang
berdiam diri merenungi dan meratapi nasib mereka yang jauh dari
keluarga. Hanya kebanggaan atas karsa dan karya yang menyelimuti
perasaan mereka.
Marisa memang boleh dibilang daerah terpencil, sepi dan serba
kurang. Untuk mencapai kota itu dari Gorontalo orang harus
menempuh jarak perjalanan kurang lebih 3 sampai 4 jam. Sekadar
untuk mendapatkan air mineral dalam kemasan (galon), perlu
perjuangan tersendiri. Begitu pula untuk mendapatkan gas elpiji
dalam tabung untuk memasak. Air dari perusahaan daerah tidaklah
sejernih yang kita dapati di kota-kota besar. Listrik (PLN)
masih “byar-pet” (hidup-mati) dengan jadwal yang tidak menentu.
Semua itu dapat mengusik kenyamanan kita jika tinggal di sana.
Ketika membutuhkan barang-barang untuk keperluan pribadi maupun
kantor yang mendesak dan tidak mereka dapati di sana, mereka
harus menuju ibukota Gorontalo untuk berbelanja di akhir pekan.
Itulah Marisa. Namun di atas itu semua, sesungguhnya Marisa
masih menyimpan banyak potensi yang masih dapat dan harus kita
kembangkan. Kemurnian sumber daya alam seperti hasil laut, ikan
segar, masih mudah kita dapatkan. Alam dengan udara segarnya
mampu menciptakan hobi sekaligus wisata petualangan baru,
seperti menelusuri hutan kecil, rawa, dan pematang sawah sambil
berburu, atau sekadar memancing di pantai, di tengah laut,
bahkan di pulau-pulau kecil sekitarnya, yang nyaris belum pernah
kita kenal sebelumnya.
Dari sisi kuliner Marisa memang kurang mendukung lidah para
pegawai. Rupa masakan yang tersaji di warung dan rumah-rumah
makan di sana didominasi oleh masakan kering, tanpa kuah atau
berkuah minim. Sebagian bahan dasarnya adalah makanan berprotein
atau dengan kandungan asam amino esensial tinggi seperti daging
sapi, ikan, dan udang. Sayur-mayur mudah saja didapatkan di
pasar tradisional, namun menu sayuran di tempat-tempat makan itu
sangat sulit ditemui. Oleh karena itu memasak sendiri sekali-kali
harus dijalani, sekadar untuk mendapatkan pasokan kuah di menu
harian. Meskipun Marisa adalah daerah agraris, namun pasokan
buah segar juga sangat terbatas. Itulah alasan mengapa
kedai-kedai minum berbahan dasar buah-buahan jarang yang
beroperasi setiap hari. Tentu saja tidak ada satupun yang
beroperasi 24/7, 7 hari seminggu, apalagi 24 jam sehari. Dengan
sedikit kreativitas memilih makanan, dengan berbagai kegiatan
olahraga rutin, dan di bawah pantauan dokter kontrak, bersyukur
para abdi masyarakat di KPPN Marisa itu jarang yang jatuh sakit.
Etos kerja serta kultur masyarakat Gorontalo, khususnya Marisa,
membuat kebiasaan para pegawai harus berubah. Toko-toko
beroperasi dengan jadwal 9-12/15-21, buka pukul 09.00 sampai
12.00, kemudian tutup selama 3 jam, untuk dibuka kembali dari
pukul 15.00 sampai dengan 21.00 waktu setempat. Berbelanja
kebutuhan harian pada jam istirahat kantor adalah hal mustahil.
Yang beroperasi pada jam-jam itu hanyalah warung-warung nasi.
Hal ini juga berlaku untuk pekerja lepas yang beroperasi di
siang hari, termasuk tukang kayu dan tukang batu. Jam kerja
mereka adalah 9-12/15-18. Karena alasan inilah para pegawai
harus menyingsingkan lengan baju, turun tangan sendiri untuk
membangun kantor agar sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
“Bagaimana kalau kita mengerjakannya sendiri, sudah 3 hari ini
para pekerja belum menampakkan hasil sesuai harapan kita”,
sebuah ide muncul. “Baiklah, kita akan mengerjakannya setelah
jam kerja usai”. Kesepakatan untuk membangun sendiri partisi
kantor pun timbul di antara Kepala Kantor dan para pegawai.
KPPN Marisa adalah pemegang Peringkat Terbaik III dalam
Penilaian LKPP Tingkat Kuasa BUN KPPN Tahun 2007. Penghargaan
itu diserahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan kepada
Bapak Ruslan Affandi selaku Kepala KPPN definitif pertama KPPN
Marisa dalam Rapat Pimpinan Direktorat Jenderal Perbendaharaan
di Jakarta pada tanggal 18 – 20 November 2008. Kini di bawah
kepemimpinan kepala kantor kedua, karya KPPN Marisa tidak
berhenti, tidak ada istilah berpuas diri dan terbuai oleh
prestasi yang telah diraih tersebut. Setiap hari adalah proses
pembelajaran, baik untuk para pegawai maupun mitra kerja.
Pelayanan terus diperbaiki dan ditingkatkan dengan mengadopsi
Standard Operating Procedure KPPN Percontohan. Meskipun
secara de jure belum ada penetapan KPPN Marisa sebagai KPPN
Percontohan, namun alur dan metode kerja telah dilaksanakan.
Hasil pemikiran dan karya kepala kantor terdahulu tetap dijaga
dengan baik. Kerja sama dan tukar-pikir dengan KPPN Gorontalo
sebagai “saudara kandung” berlangsung dengan manis. Bimbingan
Kanwil XXVI membuat kinerja KPPN Marisa terarah dengan baik.
Partisi yang menegaskan ruang batas antarseksi itu kini telah
selesai. Hasilnya pun sama sekali tidak mengecewakan, sulit
untuk membedakannya dengan karya tukang kayu professional. Namun
karya mereka tidak berhenti sampai di sana, setidaknya masih ada
2 ide lain yang harus segera mereka realisasikan; membangun
ruang serba guna dan Lapangan volleyball. Ruang serba
guna itu direncanakan untuk menjadi ruang pertemuan, sekaligus
ruang sosialisasi, ruang belajar-mengajar, dan diharapkan juga
dapat difungsikan sebagai ruang hiburan jika memang diperlukan.
Sedangkan lapangan volleyball akan difungsikan juga
sebagai lapangan badminton dan basketball
mini, menggantikan lapangan olahraga yang sekarang dimiliki.
Wajah para pegawai itu tetap berseri, tubuh-tubuh mereka bahkan
terlihat lebih sehat dan prima daripada waktu-waktu sebelumnya.
Berusaha mencintai tempat dan tanggung jawab telah membuat
mereka mampu bertahan tanpa keluhan. Tidak terdengar gagasan
mereka untuk mengakhiri karir mereka di tempat itu, setidaknya
hingga hari ini. Yang mereka tunjukkan adalah rasa cinta
terhadap pekerjaan, seperti kutipan syair karya Kahlil Gibran
dalam buku Sang Nabi ;
“Bekerjalah dengan cinta… Jika engkau tidak dapat bekerja
dengan cinta, lebih baik engkau meninggalkannya... Dan mengambil
tempat di depan pintu gerbang candi-candi, Meminta sedekah
kepada mereka yang bekerja dengan penuh suka dan cita...”.
[SP]