Wednesday, March 1, 2023

Satria dan Teknologi Pengantar Sinyal Ekstraterestrial

Apa kabar Satria? Ini bukan tentang Satria FU One Million limited edition, motor kesayangan yang lagi istirahat beberapa purnama terakhir di rumah. Ini tentang satelit milik Republik kita tercinta yang beberapa waktu silam santer diberitakan dan rencananya akan diposisikan di orbit pada paruh kedua tahun 2023 ini. Satria, merupakan akronim dari Satelit Multifungsi Republik Indonesia. Sebagian media menyebut sebagai Satelit Republik Indonesia atau Satelit Indonesia Raya. Satelit ini cukup dielu-elukan karena akan menjadi wahana pengantar sinyal komunikasi berkualitas tinggi.

Informasi yang tersedia menyebutkan bahwa pengembangan satelit Satria oleh Pemerintah melalui Kementerian Kominfo ini dilaksanakan menggunakan skema KPBU (Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha). Konsorsium Pasifik Satelit Nusantara (PSN) yang terdiri dari PT Pintar Nusantara Sejahtera, PT Pasifik Satelit Nusantara, PT Dian Semesta Sentosa, dan PT Nusantara Satelit Sejahtera merupakan pemenang tender pengembangan satelit ini, dan konstruksinya dilakukan oleh pabrikan asal Prancis bernama Thales Alenia Space dengan perkiraan biaya sekitar US$545 juta.

Selaku pribadi, penulis berharap bahwa peningkatan teknologi apapun yang dikemas ke dalam satelit ini, akan membawa efisiensi baik bagi Pemerintah, para pemangku kepentingan, maupun para pengguna layanan yaitu masyarakat luas. Biaya penggunaan teknologi khususnya jaringan nirkabel di tanah air masih terasa mahal. Sebagai pengguna jasa telekomunikasi nirkabel, grafik biaya yang dikeluarkan menunjukkan peningkatan pada beberapa tahun terakhir. Jika tren ini tidak berubah maka peningkatan biaya ini bisa jadi akan mengembalikan biaya penggunaan jasa telekomunikasi ke titik awal.

Bagi Indonesia, akhir milenium kedua merupakan titik awal pertumbuhan teknologi nirkabel dengan kepemilikan handset yang mulai meluas di seluruh tanah air. Ponsel menggantikan teknologi populer sebelumnya yaitu penyeranta (pager) yang mungkin merupakan teknologi dengan umur terpendek di Indonesia. Tahun 1999 – 2001 booming penjualan telefon seluler menyebar ke seluruh tanah air. Meskipun penulis sudah memanfaatkan fasilitas ponsel Ericsson di pertengahan 1990-an dengan kartu SIM seukuran kartu kredit dan penggunaan ponsel Nokia generasi awal dengan kartu seukuran jempol, namun penulis baru membeli ponsel pertama dengan penghasilan pribadi pada 2001 (di Kalimantan Timur) dengan pilihan merk yang jatuh ke Siemens seharga Rp1,5 juta dan kartu SIM (perdana) seharga Rp750 ribu. Ponsel monofonik ini baru mampu melaksanakan fungsi telefoni, SMS (Short Message Service), dan MMS (Multimedia Message Service). Dengan kemampuan tersebut, biaya langganan (pulsa) bulanan rata-rata yang harus dibayar ke operator seluler adalah sebesar Rp600 ribu. Jadi cukup mahal, bukan?

Tahun berikutnya penulis beralih ke ponsel pintar dari pabrikan yang sama dengan kemampuan mengakses internet melalui teknologi GPRS (General Packet Radio Service). Dengan ponsel ini selancar jejaring mulai dapat dilakukan termasuk dengan pemanfaatan ponsel ini sebagai modem khususnya untuk laptop. Bagaimana dengan biaya yang dikeluarkan? Kurang lebih sama dengan penggunaan jaringan kabel (cable modem) untuk internet, mencapai jutaan rupiah untuk satu bulan. Dapat dikatakan masih sangat mahal, atau terasa sama dengan pengenaan biaya untuk percakapan jarak jauh. Penggunaan fiber optik pada periode berikutnya relatif memangkas biaya, dan operator mulai lebih kreatif dalam memasarkan jasa.

Ada kecenderungan peningkatan biaya layanan dengan adanya peningkatan teknologi pengiriman sinyal atau, jika keadaan sesungguhnya memang tidak demikian, meningkatkan nilai pengeluaran para pengguna layanan. Contohnya adalah peralihan dari teknologi pengiriman sinyal generasi pertama ke generasi 2 di atas, atau peralihan berikutnya dari 2G ke 3G. Bisa jadi dengan peningkatan teknologi maka pengguna layanan merasa lebih nyaman berselancar sehingga menghabiskan lebih banyak waktu dan akhirnya berdampak ke biaya. Kendatipun demikian, kita dapat melihat bahwa setelah layanan internet dijual dengan kemasan paket data, harga paket internet terus meningkat dari masa ke masa. Sama halnya dengan harga komoditas lainnya, harga paket internet juga mengikuti laju inflasi. Bisakah harga penggunaan jasa ini diturunkan dengan peningkatan teknologi pengiriman sinyal, ini merupakan tantangan kita sesungguhnya.


Sunday, January 15, 2023

CINTA TAK BERSYARAT, MUNGKINKAH?

Lama meragukan apakah cinta sejati, cinta tak bersyarat, memang wujud di dunia fana. Lama mencari jawaban, apakah benar-benar ada makhluk yang mampu berikan cinta tak bersyarat. Apakah ia hanya dapat dijumpai pada seorang ibu terhadap anaknya? Setelah diberi kesempatan berjumpa dan mendengarkan Ustadz KH Syatori Abdul Rauf, alhamdulillah sedikit banyak mampu menjawab soalan-soalan ini. Meskipun tak seberapa lama, namun paparan beliau memberikan perspektif lain mengenai cinta.

Jika tak mendengar langsung dari beliau, sebagian besar dari kita akan mengalami kesulitan untuk mencerna pengajaran ini. Dengan alur presentasi yang sangat baik beliau mampu memberikan pemahaman mengenai ilmu/basyar dan basyiroh kepada audiens yang hadir. Mengikuti paparan beliau seperti mengikuti kembali paparan Buya HAMKA di masa lalu. Sedikit tulisan berikut ini adalah hal-hal penting yang dapat penulis tangkap dari paparan Ustadz KH Syatori Abdul Rauf selama sekitar 1 jam beberapa saat lalu.


- Untuk bisa sabar, butuh keadaan yang bisa membuat tidak sabar. Tahu Saja Tidak Cukup (Ilmu), Kita Perlu Rasa (Basyiroh);

- Kualitas kejernihan hati kita yang menurun terjadi akibat kita berfokus pada cita rasa, bukan pada rasa. Jika fokus kita pada rasa maka keadaan baik maupun buruk, positif maupun negatif, akan terasa sama saja di mata dan hati kita;

- Basyiroh sebenarnya pantulan cahaya ilmu yang masuk ke dalam qalbun salim. Cahaya Ilmu dan Cahaya Basyiroh hakikatnya satu paket; ilmu menjadi sia-sia tanpa basyiroh;

- Jika diibaratkan hati adalah cermin maka basyiroh adalah cahaya yang dipantulkan. Kemampuan memantulkan kembali cahaya tergantung pada kejernihan cermin tersebut;

- Tingkat kejernihan hati : Qalbun salim (hati yang damai -tingkat tertinggi), qalbun shahih (hati yang baik), qalbun rayb (hati yang ragu), qalbun maridh (hati yang sakit), qalbun mayyt (hati yang mati).


Lalu di manakah letak hubungan antara paparan "ilmu dan basyiroh" dengan cinta sejati ini? Ustadz KH Syatori Abdul Rauf dalam kajian-kajian beliau kerap kali membagi perilaku kita dalam kapasitas sebagai "manusia (biasa)" dan sebagai "hamba Allah". Sebagaimana kita maklumi bersama, peran sebagai hamba Allah adalah tugas setiap manusia dan jin yang telah diciptakan dan diturunkan ke alam fana ini. Ketika kita menjalankan peran sebagai hamba Allah maka kita tidak lagi berpikir tentang "cita rasa". Kita hanya akan mendapati "rasa" dan menerimanya sebagai sesuatu yang datang dari Allah. Sederhananya begini; kita mendapati Kecap merk "X" dan Kecap merk "Y". Dalam situasi demikian kita tidak memikirkan lagi "favorit saya adalah kecap merk "X"! Tidak, kita tidak membandingkan "X" dan "Y", kita hanya melihat "Kecap", keduanya terbuat dari kedelai dengan tekstur yang kurang lebih sama. Demikianlah basyiroh.

Dengan melihat "Kecap" dan bukan merk "X" atau "Y", kita telah melangkah untuk lebih berfokus pada "rasa" dan bukan "cita rasa". Dengan kata lain, "favorit" ataupun "bukan favorit" tidak menjadi masalah. Oleh karena itu, mendapati kecap merk "X" maupun kecap merk "Y" bagi kita sama saja. Demikianlah keadaan qalbun salim (hati yang damai, hati yang selamat), tatkala ujian atau karunia, susah ataupun senang, adalah hal yang sama-sama datang dari Allah dan kita terima dengan baik sebagai bentuk rahmat (kasih sayang) dari Allah. Sedangkan kita tidak pernah mengetahui perhatian apa lagi yang disiapkan Allah untuk kita pada saat berikutnya.

Qalbun salim tidak pernah berhitung untung dan rugi, qalbun salim tidak pernah menilai perbuatan baik kita apakah diterima dengan baik atau sia-sia. Yang ada hanyalah perhitungan apakah Allah meridhai amal kita, apakah Allah menerima ibadah kita dengan "senyum". Oleh karena itu, amal baik kita harus dipandang sebagai karunia, sebagai rahmat Allah berupa kesempatan bagi kita untuk berbuat baik. Dengan demikian apa yang kita berikan untuk makhluk lain adalah bentuk balasan dari karunia yang kita terima. Apakah sebuah balasan patut ditunggu balasannya lagi? Hanya qalbun salim yang mampu memberikan cinta sejati, cinta tak bersyarat.

Maka dari itu, mari berbuat baik, dan jangan pernah berharap balasan apapun kecuali dari Allah. Beribadahlah, dan jangan sekali-kali berharap mendapat ganjaran, karena setiap amal hakikatnya adalah balasan, dan yang kita cari dari setiap amal adalah semata-mata ridha Allah. Ridha-Nya pula yang akan menentukan apakah kita patut ditempatkan di syurga atau sebaliknya. Jika ridha yang memungkinkan kita masuk syurga maka bukankah berarti kedudukan ridha ini di atas syurga itu sendiri? Ini yang harus kita raih. Allahu a'lam bi muradhihi bi dzalik.

Sunday, February 6, 2022

Anak Semesta


Aku mengikuti perjalanan seorang gadis kecil,

yang berayah dan beribu,

namun seperti tak memiliki siapa-siapa,

dalam kesendirian ia hanya berharap.


Aku mencoba memahami hati seorang gadis kecil,

yang ditinggal ayah dan ibu,

bukan karena mereka telah berpulang,

namun pikiran yang jungkir balik dan hati yang (mungkin telah) mati.


Ia tak mengenalku, namun aku mengenalnya,

dari orang tua yang sibuk entah pura-pura.

Dari kejauhan kukira-kira pikirannya,

ada yang ingin diungkap, namun tak sanggup dikata.


Pun ia tak pernah yakin, apakah ibu menyayanginya,

Ia tak pernah merasa pasti, apakah ia cukup berharga di hati ayahnya.

Dilaluinya hari dengan tanya, kapan ibu akan menjenguk?

Dilaluinya hari dengan tanya, apakah ibu merindu?


Dari jauh kuperhatikan,

gadis kecil yang cerdas namun selalu ragu,

orang tuanya mungkin tak memahami,

seseorang boleh berbuat salah, namun tak boleh ragu.


Dari hati kularungkan doa,

agar sempat melihat senyum dan tawa,

bahwa ia tetap menghargai ayah ibu,

dari keakrabannya dengan duka dan ketegaran jiwa.


Dari jauh kulampirkan harapan,

kelak ia menjadi wanita paripurna,

yang mengambil semua kebaikan tanpa keburukan,

dari semesta yang telah membesarkannya.




Saturday, December 18, 2021

Religious Hiccups : Ketika Agama Dijadikan Kedok Penipuan Paling Efektif

Adakalanya tanpa sadar kita menyemangati kejahatan, yaitu dengan mempercayai orang-orang yang salah. Semua dapat terjadi hanya karena kita tidak berlapang dada untuk menerima perspektif orang lain yang jujur. Bisa juga karena kita kehausan derajat tinggi di antara manusia, tanpa mengingat bahwa derajat di langit lebih patut dikejar dan dipertahankan.    


Kasus-kasus kejahatan yang menggunakan agama sebagai medium saat ini kembali marak. Sungguh mengundang keprihatinan kita sebagai insan beragama, betapa pegangan hidup yang mulia dikemas sedemikian rupa sehingga orang-orang terpedaya dan satu demi satu menjadi korban. Mengapa agama begitu mudah dijadikan tameng, dijadikan kedok untuk menipu? Kekosongan spiritual yang membutuhkan langkah pengisian merupakan alasan pertama. Di jaman yang materialistik ini sebagian orang lupa (atau melupakan) dimensi lain dari hidup, sisi spiritual. Sebagaimana pernah disampaikan oleh Martin Luther King Jr dalam sebuah khutbah pada lebih setengah abad lalu, terdapat 3 dimensi yang membuat hidup seseorang menjadi lengkap, salah satunya adalah dimensi spiritual. Tanpa mengisi ketiga dimensi ini maka hidup manusia akan kosong, takkan pernah lengkap.

Sebab kedua, kedalaman agama setiap orang tidak dapat diuji secara empiris, bahkan tidak terdapat lembaga yang memiliki kewenangan untuk menguji ataupun membuktikannya. Pada prinsipnya, agama adalah urusan manusia dengan Tuhan. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala sisi dari makhluk-makhluk-Nya, termasuk sisi mental spiritual. Ketika secara empiris seseorang nampak memiliki kedalaman beragama, secara kasat mata terlihat menjalankan perintah-perintah agama dengan teguh, orang-orang di sekitar dengan naif akan menganggap bahwa orang tersebut "tidak kosong", dianggap memiliki kemampuan yang memadai untuk menghubungkan dirinya dan bahkan orang-orang lain dengan Tuhan. Mereka terjebak dalam paradigma pemahaman tersebut, sehingga ketika  "si pelaku" mendekat ia akan menerima dengan rasa hormat dan segenap kepatuhan. Ia menganggap dirinya kalah secara spiritual dan seperti kerbau yang dicucuk hidung ia akan tunduk pada segala kemauan si penjahat. Sangat ironis.

Leluhur Jawa sudah mewanti-wanti, "ojo kagetan, ojo gumunan", jangan gampang kaget, jangan lekas takjub. Rupanya pengingat ini mengajak orang-orang untuk menghindari kenaifan, untuk selalu waspada pada segala potensi buruk yang mungkin timbul akibat pemahaman yang dangkal akan seseorang atau suatu fenomena. Kenapa mesti takjub, kenapa mesti kaget, sedangkan setiap orang hadir ke dunia ini dilengkapi dengan potensi yang sama? Kecenderungan ini terjadi di mana-mana, dalam kehidupan sosial, maupun dalam kehidupan profesional. Dunia memang telah berubah, hidup kita tak lagi sederhana. Persaingan dalam bidang apapun terjadi, apatah lagi dalam kehidupan profesional. 

Orang-orang mulai akrab dengan frasa "personal branding", yang sebelumnya hanya dikenal dan dipraktikkan dalam dunia pemasaran. Dari sini orang mulai menggelar rangkaian kegiatan pemasaran untuk dirinya. Mereka melakukan "signalling" atau menjual untuk mendapatkan perhatian orang dan "flexing" atau pamer untuk memperoleh kepercayaan. Yang dituju adalah penilaian orang, penilaian yang akan membawa keuntungan untuk pribadi mereka. Dalam tataran yang lebih dalam namun sembrono, mereka bahkan tega menjatuhkan harga diri orang dan meniadakan kebaikan maupun keunggulan orang atau pihak lain yang dianggap menjadi pesaing atau akan menjadi penjegal langkahnya. Pada satu titik, hanya mata batin yang mampu melihat hal-hal seperti ini.  

Fenomena penipuan dengan kedok agama bukan monopoli orang-orang dari satu agama tertentu. Jika kita berniat menelusuri sejarah, sudah banyak orang dari berbagai agama yang memanfaatkan inteligensi mereka untuk keunggulan pribadi. Keunggulan itu dapat berupa akses ke dalam suatu kelompok atau fasilitas tertentu, nama besar atau popularitas di kalangan kelompok atau masyarakat luas, keberlimpahan harta, dan sebagainya yang bersifat duniawi. Keinginan atas berbagai keunggulan itu tentu suatu hal yang wajar. Namun, sisi buruk hal ini adalah hilangnya kemerdekaan orang lain (biasanya dialami oleh para pengikut), hilangnya keadilan bagi pihak lain (biasanya dialami oleh pihak yang setara atau "pesaing"), bias dalam penilaian terhadap pribadi, dan hal-hal buruk lain yang membuat bumi ini tampak sebagai tempat yang tidak layak ditinggali.

Namun dari semua pengaruh terburuk dimaksud, hal yang terburuk dari yang terburuk adalah tercorengnya kemuliaan agama dari kelompok dimaksud ketika pada akhirnya kedok terbongkar. Marwah agama dan Tuhan dipertaruhkan akibat ketiadaan ikhlas dari orang-orang yang mementingkan kemuliaan diri dan kebesaran nama pribadi. Allahu a'lam.

Wednesday, July 24, 2019

ANOTHER START

I don't mind starting something over and over again, as long as it's good & enriches my life. And now I've got to start again.

Saturday, May 30, 2015

TARAKAN, KALTARA : dari Perjalanan 8 hari, 8 Provinsi

Satu sudut Kaltara dari udara.
[Foto : SP]
"Never believe that a few caring people can’t change the world. For, indeed, that’s all who ever have". [Margaret Mead]

Indonesia adalah negara besar! Benar, tanpa disadari sebelumnya, perjalanan penulis pada pertengahan bulan ini (11 - 17 Mei 2015) adalah salah satu perjalanan terbesar yang pernah penulis lakoni. Pertama, karena banyaknya jumlah provinsi yang penulis datangi. Yang kedua, banyaknya teman dan keluarga yang penulis temui selama perjalanan tersebut. Hal ini ternyata menjadi kebanggaan penulis pribadi tentang betapa besar negeri tercinta ini.

Perjalanan dimulai dari Nusa Tenggara Timur (menginjakkan kaki di 2 pulau), diteruskan ke Bali (1), Sulawesi Selatan (1), Kalimantan Timur (1), Kalimantan Utara (1), Jogjakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur (1). Total perjalanan adalah 8 hari, meliputi 8 provinsi dan 7 pulau (Pulau Flores, Timor, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Tarakan, dan Jawa). Pada perjalanan yang dibiayai sebagian oleh negara dan istri penulis ini (terima kasih, Sayang...!) lintasan penulis di setiap pulaunya bervariasi yaitu antara 2 jam hingga 3 hari. Betapa besar negeri ini, betapa banyak suku bangsanya, betapa beragam budayanya! Siapa tak kan bangga dengan kebesaran negeri ini. Traveling ke negara lain tampaknya belum perlu sebelum menjelajah negeri sendiri yang begitu besarnya ini.

KALTARA, PROVINSI BUNGSU INDONESIA
Salah satu provinsi dalam perjalanan yang memberi paling banyak kenangan adalah Kalimantan Utara. Ada beberapa alasan mengapa perjalanan kali ini sangat berkesan. Yang pertama adalah karena perjalanan kali ini adalah perjalanan kembali setelah 8 tahun penulis untuk kali terakhir mengunjungi negeri di atas garis Khatulistiwa ini. Di sana juga penulis memberi kejutan kepada ayah penulis yang 2 hari sebelumnya telah lebih dulu datang dalam rangka plesiran. Dalam plesiran kali ini beliau ingin menemui sepasang suami istri yang telah menjadi orang tua angkat penulis sejak 1998 (17 tahun lalu). Tak ayal, kehadiran penulis di sana menjadi kejutan indah untuk orang-orang terkasih.

Sudut gedung baru Bandara Juata, Tarakan, Kalimantan Utara. 
Pintu gerbang ke kota terbesar di Kalimantan Utara dan juga pintu gerbang udara ke Malaysia Timur.
Berada di atas garis Khatulistiwa terasa seperti berada di belahan bumi lain. [Foto : SP]
Pulau ini, kota ini adalah tempat awal penulis mengawali karier pada 1996, kemudian menyelesaikan studi sarjana pada tahun 2001. Dengan demikian kunjungan penulis ke sana praktis disertai beberapa pertemuan dengan sebagian kawan kuliah. Dari kawan-kawan yang rata-rata telah sukses dengan karier masing-masing baik di pemerintahan maupun di luar pemerintahan ini, penulis banyak mendengar perjalanan kota pulau ini setelah penulis tinggalkan. Hubungan kami memang cukup erat karena di samping penulis dan kawan-kawan dulu menempuh pendidikan, juga berjuang untuk kemajuan masyarakat setempat. Dari salah satu kawan terbaik yang telah sukses ini, penulis mendapat pinjaman sebuah kendaraan roda 4 yang penulis gunakan selama berada di pulau itu, alhamdulillah...! (Thanks, Fren!)

Sudut pusat kota Tarakan, Kalimantan Utara, beberapa tahun silam di malam hari.
[Foto : http://matahariholidays.com]
Di era awal reformasi, penulis dan kawan-kawan mahasiswa melakukan beberapa move yang menekan pemerintah setempat untuk menghapuskan perjudian dan prostitusi. Hal ini salah satunya kami jalankan melalui media kampus yang kami namakan PerMatika - Penerbitan Mahasiswa STIE Tarakan, 1999. PerMatika ini melahirkan majalah sederhana dengan nama yang sama, yang pada saat itu merupakan satu-satunya majalah kampus di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Pada perjalanan berikutnya kami kemudian mendeklarasikan pendirian sebuah forum yang kami beri nama Gema Permata -Gerakan Mahasiswa Untuk Pemberdayaan Masyarakat Tarakan. Forum yang menggandeng KPMKT (Kerukunan Pelajar dan Mahasiswa Kalimantan Timur) ini pada dasarnya merupakan wadah untuk memberikan asistensi kepada masyarakat yang mengalami masalah-masalah dalam rangka pemerintahan dan pembangunan. Pada perkembangannya, kami gunakan juga untuk melakukan gerakan 'di jalan', berupa mimbar bebas dengan menggandeng Senat Mahasiswa.

Balikpapan Superblock (BSB), pusat bisnis terbaru di Balikpapan, Kalimantan Timur, 
kota terbesar di Kalimantan Timur dan kota terbersih di Indonesia [Foto : SP]
Pencapaian kawan-kawan mahasiswa yang menurut penulis merupakan pencapaian tertinggi adalah ketika membentuk sebuah forum yang lebih besar dan lebih fokus yang kami namakan Formasiku - Forum Pejuang Bagi Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara. Dalam forum ini semua lembaga yang kami bentuk dan kami gandeng ketika itu lebur menjadi satu. Ketua dan Wakil Ketua Gema Permata, M. Tamrin dan T. Syahraini, terangkat sebagai Presiden dan Wakil Presiden Forum. Sedangkan posisi Sekjen diserahkan kepada Pemimpin Redaksi PerMatika (jabatan penulis ketika di kampus kalau tidak salah saat itu...).

Gelaran fenomenal yang berhasil diselenggarakan oleh Forum ini adalah sebuah Dialog antara masyarakat wilayah Utara Kalimantan Timur dengan Pimpinan MPR RI. Dialog itu dilaksanakan oleh sebuah Pansus yang dipimpin langsung oleh Ketua Formasiku dan Khairuddin, salah seorang ketua departemen dari perwakilan KPMKT. Setelah melakukan komunikasi intensif dengan Ketua MPR, saat itu dijabat oleh Dr. Amin Rais dari Partai Amanat Nasional, acara Dialog Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara digelar pada hari Sabtu tanggal 19 Mei 2001 di aula Pelabuhan Laut Malundung, Tarakan. Perwakilan masyarakat dan pemuda dari 5 Kabupaten/Kota kami undang, yaitu Kabupaten Bulungan, Kabupaten Berau, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, dan Kota Tarakan. Sedangkan karena tugas yang mendesak, Dr. Amin Rais mewakilkan kehadirannya kepada Wakil Ketua MPR RI dari partai yang sama, yaitu Dr. A.M. Fatwa, Andi Mappetahang Fatwa. Acara Dialog tersebut, dengan moderator Ketua Dewan Penasihat Formasiku yang juga dosen kami di STIE Tarakan, A. Hamid Amren (kini Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tarakan) dan diliput pula oleh wartawan dari beberapa media cetak maupun elektronik (termasuk TVRI) terselenggara dengan tertib dan lancar. Sukses acara ini merupakan pencapaian bersama baik Formasiku, pemerintah daerah, maupun pemuda dan masyarakat Kaltim wilayah Utara. Tak lupa, jajaran pimpinan KKSS -Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan, almarhum H. Muhidin dkk sangat berperan dalam penyediaan akomodasi bagi Pimpinan MPR RI dan rombongan.

Hutan Kota, KKMB, Tarakan, Kalimanatan Utara.
Simpulan yang diperoleh dari dialog tersebut adalah bahwa status pembentukan provinsi Kalimantan Utara adalah "on the go", artinya Pimpinan MPR RI memandang bahwa desakan ini valid dan feasible sehingga dapat dibawa ke floor DPR/MPR. Implikasinya adalah masyarakat dan pemerintah setempat harus segera memfasilitasi dan mengawal perkembangan gagasan pembentukan provinsi baru tersebut. Alhamdulillah pula saat itu Tarakan dikaruniai walikota yang berwawasan global, dr. Yusuf Serang Kasim. Sebagai Walikota Tarakan incumbent dr. Yusuf membuka tangan lebar-lebar terhadap segala gagasan mahasiswa maupun masyarakat. Tokoh ini pula yang menancapkan konsep "Little Singapore" untuk kota Tarakan. Kini, setelah 14 tahun, Tarakan dan 4 kabupaten di sekitarnya adalah elemen wilayah yang disebut sebagai Provinsi Kalimantan Utara, Kaltara, sebagai Provinsi termuda, Provinsi ke-34 Indonesia. Sudah 2 orang pelaksana tugas Gubernur Kaltara dilantik, dan masih menunggu Gubernur definitif pertamanya.

[Bersambung...]

Putri, Berkah Untuk Semua

Belum reda euforia atas kemenangan Tim Nasional Sepakbola kita di ajang SEA Games XXXII Cambodia, kini bangsa Indonesia kembali dibuat bangg...