[espie laurel prodip depkeu indonesia petarung sejati puisi tulis jurnalis jurnalisme ideal perbendaharaan anggaran tarakan nunukan mataram jakarta marisa keren terbaik pemuda cowok tiada banding good guy best blog primum vivere diende philosophari pecinta ilmu pemikir utopis seniman tak dikenal pencari kebahagiaan]
Thursday, November 11, 2021
Wednesday, July 24, 2019
ANOTHER START
I don't mind starting something over and over again, as long as it's good & enriches my life. And now I've got to start again.
Saturday, May 30, 2015
TARAKAN, KALTARA : dari Perjalanan 8 hari, 8 Provinsi
![]() |
| Satu sudut Kaltara dari udara. [Foto : SP] |
"Never believe that a few caring people can’t change the world. For, indeed, that’s all who ever have". [Margaret Mead]
Indonesia adalah negara besar! Benar, tanpa disadari sebelumnya, perjalanan penulis pada pertengahan bulan ini (11 - 17 Mei 2015) adalah salah satu perjalanan terbesar yang pernah penulis lakoni. Pertama, karena banyaknya jumlah provinsi yang penulis datangi. Yang kedua, banyaknya teman dan keluarga yang penulis temui selama perjalanan tersebut. Hal ini ternyata menjadi kebanggaan penulis pribadi tentang betapa besar negeri tercinta ini.
Indonesia adalah negara besar! Benar, tanpa disadari sebelumnya, perjalanan penulis pada pertengahan bulan ini (11 - 17 Mei 2015) adalah salah satu perjalanan terbesar yang pernah penulis lakoni. Pertama, karena banyaknya jumlah provinsi yang penulis datangi. Yang kedua, banyaknya teman dan keluarga yang penulis temui selama perjalanan tersebut. Hal ini ternyata menjadi kebanggaan penulis pribadi tentang betapa besar negeri tercinta ini.
Perjalanan dimulai dari Nusa Tenggara Timur (menginjakkan kaki di 2 pulau), diteruskan ke Bali (1), Sulawesi Selatan (1), Kalimantan Timur (1), Kalimantan Utara (1), Jogjakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur (1). Total perjalanan adalah 8 hari, meliputi 8 provinsi dan 7 pulau (Pulau Flores, Timor, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Tarakan, dan Jawa). Pada perjalanan yang dibiayai sebagian oleh negara dan istri penulis ini (terima kasih, Sayang...!) lintasan penulis di setiap pulaunya bervariasi yaitu antara 2 jam hingga 3 hari. Betapa besar negeri ini, betapa banyak suku bangsanya, betapa beragam budayanya! Siapa tak kan bangga dengan kebesaran negeri ini. Traveling ke negara lain tampaknya belum perlu sebelum menjelajah negeri sendiri yang begitu besarnya ini.
KALTARA, PROVINSI BUNGSU INDONESIA
Salah satu provinsi dalam perjalanan yang memberi paling banyak kenangan adalah Kalimantan Utara. Ada beberapa alasan mengapa perjalanan kali ini sangat berkesan. Yang pertama adalah karena perjalanan kali ini adalah perjalanan kembali setelah 8 tahun penulis untuk kali terakhir mengunjungi negeri di atas garis Khatulistiwa ini. Di sana juga penulis memberi kejutan kepada ayah penulis yang 2 hari sebelumnya telah lebih dulu datang dalam rangka plesiran. Dalam plesiran kali ini beliau ingin menemui sepasang suami istri yang telah menjadi orang tua angkat penulis sejak 1998 (17 tahun lalu). Tak ayal, kehadiran penulis di sana menjadi kejutan indah untuk orang-orang terkasih.
Pulau ini, kota ini adalah tempat awal penulis mengawali karier pada 1996, kemudian menyelesaikan studi sarjana pada tahun 2001. Dengan demikian kunjungan penulis ke sana praktis disertai beberapa pertemuan dengan sebagian kawan kuliah. Dari kawan-kawan yang rata-rata telah sukses dengan karier masing-masing baik di pemerintahan maupun di luar pemerintahan ini, penulis banyak mendengar perjalanan kota pulau ini setelah penulis tinggalkan. Hubungan kami memang cukup erat karena di samping penulis dan kawan-kawan dulu menempuh pendidikan, juga berjuang untuk kemajuan masyarakat setempat. Dari salah satu kawan terbaik yang telah sukses ini, penulis mendapat pinjaman sebuah kendaraan roda 4 yang penulis gunakan selama berada di pulau itu, alhamdulillah...! (Thanks, Fren!)
![]() |
| Sudut pusat kota Tarakan, Kalimantan Utara, beberapa tahun silam di malam hari. [Foto : http://matahariholidays.com] |
Pada perjalanan berikutnya kami kemudian mendeklarasikan pendirian sebuah forum yang kami beri nama Gema Permata -Gerakan Mahasiswa Untuk Pemberdayaan Masyarakat Tarakan. Forum yang menggandeng KPMKT (Kerukunan Pelajar dan Mahasiswa Kalimantan Timur) ini pada dasarnya merupakan wadah untuk memberikan asistensi kepada masyarakat yang mengalami masalah-masalah dalam rangka pemerintahan dan pembangunan. Pada perkembangannya, kami gunakan juga untuk melakukan gerakan 'di jalan', berupa mimbar bebas dengan menggandeng Senat Mahasiswa.
![]() |
| Balikpapan Superblock (BSB), pusat bisnis terbaru di Balikpapan, Kalimantan Timur, kota terbesar di Kalimantan Timur dan kota terbersih di Indonesia [Foto : SP] |
Pencapaian kawan-kawan mahasiswa yang menurut penulis merupakan pencapaian tertinggi adalah ketika membentuk sebuah forum yang lebih besar dan lebih fokus yang kami namakan Formasiku - Forum Pejuang Bagi Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara. Dalam forum ini semua lembaga yang kami bentuk dan kami gandeng ketika itu lebur menjadi satu. Ketua dan Wakil Ketua Gema Permata, M. Tamrin dan T. Syahraini, terangkat sebagai Presiden dan Wakil Presiden Forum. Sedangkan posisi Sekjen diserahkan kepada Pemimpin Redaksi PerMatika (jabatan penulis ketika di kampus kalau tidak salah saat itu...).
Gelaran fenomenal yang berhasil diselenggarakan oleh Forum ini adalah sebuah Dialog antara masyarakat wilayah Utara Kalimantan Timur dengan Pimpinan MPR RI. Dialog itu dilaksanakan oleh sebuah Pansus yang dipimpin langsung oleh Ketua Formasiku dan Khairuddin, salah seorang ketua departemen dari perwakilan KPMKT. Setelah melakukan komunikasi intensif dengan Ketua MPR, saat itu dijabat oleh Dr. Amin Rais dari Partai Amanat Nasional, acara Dialog Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara digelar pada hari Sabtu tanggal 19 Mei 2001 di aula Pelabuhan Laut Malundung, Tarakan. Perwakilan masyarakat dan pemuda dari 5 Kabupaten/Kota kami undang, yaitu Kabupaten Bulungan, Kabupaten Berau, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, dan Kota Tarakan. Sedangkan karena tugas yang mendesak, Dr. Amin Rais mewakilkan kehadirannya kepada Wakil Ketua MPR RI dari partai yang sama, yaitu Dr. A.M. Fatwa, Andi Mappetahang Fatwa. Acara Dialog tersebut, dengan moderator Ketua Dewan Penasihat Formasiku yang juga dosen kami di STIE Tarakan, A. Hamid Amren (kini Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tarakan) dan diliput pula oleh wartawan dari beberapa media cetak maupun elektronik (termasuk TVRI) terselenggara dengan tertib dan lancar. Sukses acara ini merupakan pencapaian bersama baik Formasiku, pemerintah daerah, maupun pemuda dan masyarakat Kaltim wilayah Utara. Tak lupa, jajaran pimpinan KKSS -Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan, almarhum H. Muhidin dkk sangat berperan dalam penyediaan akomodasi bagi Pimpinan MPR RI dan rombongan.
![]() |
| Hutan Kota, KKMB, Tarakan, Kalimanatan Utara. |
[Bersambung...]
Thursday, April 30, 2015
Memilih Teman - Tentang Komunikasi Yang Benar (II)
Astaghfirullah Al-Adhim... Audzubillah... Bagian III kitab Ta'lim Muta'alim, atau lengkapnya Ta'lim Al-Muta'allim Tariq At-Ta'allam (Pelita Penuntut Ilmu Sebagai Jalan Meraih Pengajaran) Karya Syeikh Az-Zarnuji, Burhan Al-Islam Ad-Din Ibrahim Az-Zarnuji Al-Hanafi, membahas "Tentang Memilih Ilmu, Guru, Teman, dan Tentang Ketekunan". Dengan adanya bagian ini, kitab dasar yang diajarkan di pesantren-pesantren dan ma'had-ma'had ini dapat menjadi salah satu referensi dasar kita semua dalam memilih teman dan
berkomunikasi dengan orang lain. Di bawah ini penulis sajikan subbagian
"Memilih Teman" melalui terjemah Abdul Kadir Aljufri dengan sedikit tambahan suntingan penulis. Caption di bawah adalah potongan bagian (fasal) terkait, dalam kitab berbahasa Arab.
Hendaklah
memilih teman yang tekun, wara’, dan istiqamah. Juga orang-orang yang suka
memahami ayat-ayat Al-Quran dan Hadits-hadits Nabi. Di samping itu, jauhilah
orang-orang pemalas (penganggur), banyak bicara (pembual), suka mengacau (perusak), dan gemar
memfitnah!
Dikatakan
dalam sebuah syair :
- Jangan bertanya tentang watak/perilaku seseorang, cukuplah kaulihat siapa temannya,
- karena siapapun dia, mesti berwatak seperti temannya.
- Bila kawanya berperilaku buruk (durhaka), jauhilah dia segera,
- bila bagus budinya, bertemanlah dengannya, tentu kau akan mendapat petunjuk!
Seorang
penyair berkata :
- Jangan kau temani si pemalas, hindari segala hal darinya,
- banyak orang baik menjadi rusak sebab kerusakan temannya
- Karena penularan orang bodoh kepada orang pintar amatlah cepat,
- laksana bara api di dalam abu, maka ia akan padam!
Rasulullah bersabda :
Semua bayi itu dilahirkan dalam keadaan fitrah islam, kedua orang tuanyalah yang membuatnya jadi yahudi, nasrani, atau majusi.
Semua bayi itu dilahirkan dalam keadaan fitrah islam, kedua orang tuanyalah yang membuatnya jadi yahudi, nasrani, atau majusi.
Ada kata-kata
hikmah dalam bahasa Parsi :
- Teman yang durhaka lebih berbahaya daripada ular yang berbisa,
- demi Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Suci,
- Teman buruk, membawamu ke neraka Jahim,
- teman yang baik, mengajakmu ke syurga Na'im!
Seorang
penyair berkata :
- Bila kau ingin mendapat ilmu dari ahlinya,
- atau ingin tahu yang gaib dan memberitakannya
- maka ambillah pelajaran tentang isi bumi dari nama-namanya,
- dan perhatikan orang yang akan kaujadikan teman, dengan siapa ia bersahabat!
(*)
Monday, February 23, 2015
Cintai Pekerjaan Atau Tinggalkan (II) :
BEKERJA DAPAT MEMBUNUHMU!
“By going to work, we’re killing
ourselves, literally!” –dengan bekerja, kita membunuh diri kita sendiri, dalam artian sebenarnya!
(Simon Sinek)
(Simon Sinek)
Judul di atas terbaca cukup
provokatif bagi otak kita, bukan? Benarkah itu terjadi? Bagaimana bisa? Adalah Simon Sinek, seorang inspirator sukses berusia
41 tahun, yang merupakan penulis buku Start
With Why: How Great Leaders Inspire Everyone to Take Action (2009) dan Leaders Eat Last: Why Some Teams Pull
Together and Others Don’t (2014), yang sering mengungkapkan hal tersebut. Orang
yang dianggap sebagai penemu konsep Diagram “Lingkaran Emas” Motivasi Manusia tersebut,
hampir dalam setiap presentasinya mengungkapkan bahwa penelitian membuktikan
bahwa dari orang tua pekerja yang biasa bekerja hingga larut malam, dampak
negatif yang ditimbulkan terhadap anak-anak mereka hampir tidak ada sama
sekali. Akan tetapi, atas orang tua yang melakoni sebuah pekerjaan yang tidak
dicintainya, anak-anak mereka cenderung menjadi anak-anak yang nakal di
sekolah. Masalah tidak terletak pada sekolah mereka, masalah juga tidak
terletak pada cara orang tua mengasuh anak-anaknya, namun masalah sesungguhnya
terletak pada pekerjaan yang dimiliki orang tua dari anak-anak itu. Itu baru satu
contoh dampak buruk pekerjaan kita terhadap anak-anak kita, belum lagi dampak
bagi diri kita sendiri.
BOSS YANG PAYAH MENGACUHKAN RASA
AMAN
Jika kita pikirkan dan uraikan
lebih dalam, akar dari penderitaan kita di tempat kerja bukanlah saklek pekerjaan
kita semata. Masalah-masalah yang terjadi di tempat kerja sesungguhnya merupakan
tanggung jawab orang yang dipercaya sebagai atasan kita, orang yang kita
panggil sebagai “Boss”. Atasan yang baik akan membuat kita menaruh hormat
kepadanya, bahkan terhadap seorang atasan yang baik kita takkan segan-segan untuk
mengucurkan sedikit keringat demi melakukan sesuatu untuk dirinya. Kita merasa
hormat dan sayang terhadap dirinya karena pengakuan tulus kita terhadap kualitas-kualitas
positif serta kelebihan-kelebihan yang dimiliki olehnya. Mengapa demikian?
Sebab di dalam lubuk hati yang terdalam kita percaya bahwa jika sesuatu yang
buruk terjadi atas kita, orang yang kita hargai sebagai boss itu akan
mengerahkan segala kelebihannya demi melindungi kita. Rasa percaya bahwa boss
akan melindungi inilah yang menjadi dasar kita untuk selalu merasa aman ketika
berada di bawah kepemimpinannya. Bukankah kita semua memahami salah satu ciri
boss yang buruk adalah bahwa ketidakberadaannya di tempat tidak memberi
pengaruh buruk apapun terhadap kita, bahkan ketidakberadaannya membuat kita
bergembira-ria?
Lalu mengapa tidak semua atasan
menciptakan rasa aman seperti ini? Sebab hal ini tidaklah gratis, selalu ada
pengorbanan untuk menciptakannya. Pengorbanan ini mungkin berupa waktu untuk
berinteraksi, tenaga untuk membantu bawahan atau peer, atau bahkan uang untuk
membiayai sebuah kebersamaan yang sebenarnya bukan faktor yang tertinggi
nilainya bagi pembentukan kepercayaan namun justru paling dikhawatirkan penurunan
jumlahnya oleh boss-boss yang payah seperti ini. Boss yang baik akan bersedia untuk
berkorban agar orang-orang di bawah kepemimpinannya dapat memperoleh manfaat
sebesar-besarnya. Sebaliknya, boss yang buruk akan tega mengorbankan
orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya demi memperoleh manfaat untuk
dirinya sendiri.
Dalam kehidupan profesional, atasan
kita senantiasa menuntut agar kita menjaga kesetiaan maupun penilaian pelanggan,
menjadikan mereka pusat perhatian kita, akan tetapi terlepas dari tuntutan
tersebut, tak jarang kita mendapati kenyataan pahit bahwa orang yang memerintah
kita, atasan kita, tidak memberikan perhatian mereka kepada kita. Dalam hal
seperti ini, organisasi atau institusi kita dikatakan telah kehilangan, meminjam
istilah Simon Sinek, “the circle of
safety” (lingkaran rasa aman). Kita kehilangan rasa aman dalam melaksanakan
tugas-tugas kita, kita tidak merasakan adanya sejawat yang akan mendukung dan
selalu siaga untuk mem-backup dan melindungi diri kita. Jika hal tersebut
terjadi, kita akan bekerja sendiri-sendiri untuk mengejar target IKU (Indeks
Kinerja Utama) organisasi, misalnya, atau target produksi pabrik, target penjualan
perusahaan, atau target-target lainnya, dan kita tidak lagi memiliki perhatian
terhadap apa yang dilakukan oleh masing-masing individu dalam tim, kita tidak
lagi membatu satu sama lain, padahal saling membantu merupakan bagian terpenting
dalam kehidupan profesional. Ketika hal ini tidak terjadi maka dampak bagi kita
adalah bahwa kita tidak lagi mendapatkan manfaat dari tugas-tugas yang kita
lakukan. Ketika kita diharuskan untuk fokus kepada uraian tugas masing-masing maka
kita pun secara tidak sadar akan terjauhkan satu sama lain, dampaknya adalah bahwa
kita akan mengalami kesendirian, merasakan kesepian batin. Hal ini pada
gilirannya menjadi tekanan untuk kita yang bekerja karena bertentangan dengan kodrat
kita sebagai makhluk sosial.
KORTISOL, SI PENIKAM DALAM LIPATAN
Jika ada agen pembunuh yang mampu
membunuh kita karena pekerjaan, ia tak lain adalah cortisol. Hormon yang ngeri-ngeri sedap ini adalah hormon yang
terbentuk secara melimpah ketika kita merasa tertekan atau merasa cemas. Hormon
ini adalah alarm yang menjaga kita tetap hidup, juga menjalankan fungsi-fungsi
metabolisme penting lainnya di dalam tubuh. Namun, dalam jumlah yang berlebihan
ia juga membuat kita merasa tidak karuan, galau, gila! Karena karakteristiknya
yang demikian maka hormon ini tidak seharusnya terus berdiam secara melimpah di
dalam sistem tubuh kita, seharusnya ia timbul bak air bah seketika diperlukan
dan lekas surut kembali (fight-and-flight
mechanism). Sayangnya, kehidupan profesional dewasa ini
menghalangi hormon kortisol untuk datang dan pergi dengan mekanisme seperti itu.
Ketika kita bekerja tanpa lingkaran keamanan sebagaimana disinggung di atas
maka kita akan merasa galau dari hari ke hari, mengalami tekanan batin setiap
saat, selalu tegang, dan akhirnya gila! Bisa dibayangkan ketika kita pulang ke
rumah dalam keadaan masih tertekan seperti ini? Rumah dan seisinya bisa jadi
akan menjadi sasaran empuk dari tekanan yang terus menumpuk di punggung dan
kepala kita. Rumah pun menjadi seperti neraka, tidak lagi menjadi yang seharusnya;
syurga yang menyejukkan kita. Anak-anak pun menjadi korbannya.
Doktor
Shawn Talbott
dalam bukunya The Cortisol Connection
(2002) mengemukaan beberapa kondisi negatif yang dapat terjadi ketika tubuh seseorang
memproduksi kortisol secara berlebihan dalam jangka panjang. Ia mengungkapkan
bahwa berbagai penelitian ilmiah dan bukti-bukti medis memperlihatkan dengan
jelas bahwa tingkat kortisol yang tinggi dalam tubuh secara berkesinambungan
akan memicu stress kronis yang sulit reda, serta menciptakan efek yang
melemahkan kesehatan dalam jangka panjang. Efek yang melemahkan ini dapat kita
anggap sebagai anti-imun atau penurun kekebalan tubuh, bukan? Ia juga
menambahkan bahwa di antara sekian banyak pengaruh negatif kortisol berlebih
ini adalah meningkatnya selera makan dan hasrat untuk melahap jenis makanan-makanan
tertentu. Mengingat salah satu peran utama kortisol adalah mendorong tubuh
untuk mengisi kembali bahan bakarnya setelah menghalau hadirnya
penyebab stress, tingkat kortisol yang telah tinggi membuat nafsu makan kita terdongkrak
—makanya kita merasa lapar terus-menerus.
Selain
itu, jenis lemak yang terakumulasi sebagai akibat nafsu makan tinggi karena
ditunggangi stress biasanya akan menempati daerah perut, mungkin supaya mudah
tersedia ketika diperlukan untuk merespon stress berikutnya. Masalah terbesar
dengan lemak perut ini, terlepas dari fakta bahwa tidak ada orang yang suka
berperut buncit, adalah jenis lemak ini sangat erat kaitannya dengan
pertumbuhan sakit jantung, penyakit kencing manis, serta kanker. Kalau tempat
kerja kita sudah kondusif untuk menciptakan risiko penyakit seperti ini,
masih haruskah kita pertahankan? Jika Anda tak mampu mencintai tempat kerja Anda
yang penuh tekanan, masih adakah alasan bagi Anda untuk bertahan?
Tinggalkanlah, atau Anda akan mati karenanya baik secara cepat, maupun
pelan-pelan!
[Jika
masih ada waktu, pada kesempatan mendatang in syaa Allah penulis akan mengungkapkan
langkah-langkah untuk mengatasi kortisol ini, juga membahas kawan-kawannya yang
lain masih dalam konteks leadership]
* http://contextualfeed.com illustrates
Thursday, January 22, 2015
Tentang Komunikasi Yang Benar (I)
![]() |
Note :
Astaghfirullah Al-Adhiim. Bagian III kitab termasyhur Bidayatul Hidayah (Permulaan Hidayah) Karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali membahas berbagai hal mengenai tata laku kita dalam berhubungan dengan ALLAH dan manusia. Kitab yang dianggap sebagai prolog dari kitab besar Ihya' Ulumuddin ini bisa menjadi salah satu tuntunan dasar kita semua dalam berkomunikasi dengan orang lain. Di bawah ini penulis sajikan fasal "Berhubungan Dengan Kenalan" melalui terjemah H.M. As'ad El-Hafidy dengan sedikit tambahan suntingan penulis. Kenalan, menurut hemat "penulis pribadi", secara sosiologis adalah tingkat kedua dari rantai hubungan seseorang dengan orang lain. Rantai ini berhubungan dalam hal kedekatan dan penghormatan, dengan tingkat sebagai berikut : Orang Asing -> Kenalan -> Teman (Handai Tolan) -> Sahabat -> Kerabat -> Keluarga. Dewasa ini, terkhusus di dunia maya, 3 level terbawah berisikan orang-orang yang paling banyak dan paling sering berhubungan dengan kita. Nukilan ini merupakan bagian akhir dari kitab Bidayatul Hidayah. Jika Anda mengalami kesulitan memahami maksud terjemahan ini, Anda dapat membaca kitab aslinya, atau mencari terjemahan lain yang Anda anggap lebih mudah dicerna. Semoga bermanfaat!
Berhubungan dengan Kenalan
Berhati-hatilah terhadap kenalanmu, sebab engkau
hanya akan menerima keburukan dari kenalan yang tak benar-benar
engkau kenal. Sahabat-sahabatmu akan menolongmu; dan mereka yang benar-benar
tak engkau kenal takkan mempengaruhimu, namun keburukan akan menimpamu bila engkau
berkenalan dengan orang
yang menunjukkan persahabatan dengan lisannya belaka. Maka menjauhlah sedapat mungkin dari kenalan-kenalan semacam itu.
Bila engkau berkenalan dengan orang-orang
yang ada di sebuah lembaga akademi, atau masjid
jami', atau masjid kecil, atau kota, atau pasar maka
janganlah engkau melecehkan mereka,
barangkali mereka lebih baik daripada engkau.
Janganlah engkau pandang bahwa mereka itu
memiliki kebaikan duniawi, agar engkau tak binasa, sebab dunia hampir tak berarti
dalam padangan ALLAH, dan segala yang ada di dalamnya hampir tak bernilai.
Maka dari itu, kapan pun hati merasa
takjub terhadap orang yang memiliki
keuntungan duniawi, maka rendahlah dirimu dalam pandangan ALLAH. Jagalah
dirimu agar engkau tak menggunakan agamamu untuk memperoleh kepemilikan-kepemilikan duniawi.
Barangsiapa berbuat
begini, maka milikan-milikan duniawi itu tak berarti baginya.
Jika kenalanmu itu bersikap tak baik terhadapmu maka janganlah engkau menghadapi mereka
dengan permusuhan sebab engkau tentu takkan mampu bersabar bila mereka membalas
rasa permusuhanmu itu. Nah, bila demikian, maka sifat keagamaanmu akan
sirna ketika mereka memusuhimu, sehingga kesulitan akan kian bertambah.
(Sebaliknya) jika mereka menghormatimu, memujimu
di depanmu, dan menunjukkan rasa persahabatan denganmu maka janganlah engkau mempercayai
mereka, sebab jika engkau tahu maka sebenarnya mereka itu tak tulus dalam bersikap
terhadapmu. Janganlah engkau mengharap bahwa mereka akan bersikap sama baik di
kala mereka di depan umum maupun di kala seorang diri. Janganlah
engkau merasa heran bila mereka mengumpatmu, di belakangmu dan
janganlah engkau marah karena hal itu; sebab jika engkau jujur, maka
engkau pun tahu bahwa engkau pun bersikap serupa terhadap sahabat-sahabat dan
kerabatmu, dan bahkan terhadap para guru dan kedua orang tuamu ketika
engkau membicarakan hal mereka di belakang mereka.
Campakkanlah nafsu serakahmu terhadap
kekayaan, nama/kedudukan, dan pertolongan
kenalanmu. Si tamak biasanya akan merugi di
kemudian hari dan hina di saat ini. Jika engkau meminta agar orang memenuhi kebutuhanmu,
dan melakukannya, maka bersyukurlah kepada Allah dan dia. Namun jika
ia menolak maka janganlah engkau menyalahkannya, agar tak timbul permusuhan antara
engkau dan dia. Jadilah seperti si mukmin yang berupaya memaafkan orang,
dan janganlah menjadi seorang munafik yang senantiasa berupaya mencari-cari kesalahan; namun
katakanlah, ‘Ia menolak membantuku, mungkin ada alasan tertentu yang tak kuketahui.’
Jangan engkau mengira bahwa kenalanmu itu mau menerima
pendapatmu jika engkau tak melihat adanya tanda-tanda
bahwa ia akan menerima pendapatmu itu. Jika
tidak, ia takkan mendengarkanmu, malah ia akan menentangmu. Jika salah satu
dari kenalanmu berbuat salah dan mereka tak menegurnya (belajar dari kesalahan), maka janganlah engkau mengajarnya tentang sesuatu, sebab ia
akan mendapatkan keuntungan darimu dan sekaligus akan menjadi
musuhmu. Namun, jika kesalahannya itu
membuatnya sadar, maka katakanlah kepadanya tentang kebenaran dengan cara yang
baik.
Jika mereka menghormatimu dan berbuat baik kepadamu,
maka bersyukurlah kepada ALLAH yang telah membuatmu dicintai mereka. Namun,
jika mereka berbuat tak baik terhadapmu, maka pasrahkanlah semua itu kepada
ALLAH, berlindunglah kepada-Nya dari keburukan mereka, janganlah mengumpat
mereka, dan janganlah berkata, “Tak tahukah engkau bahwa aku adalah putra si
polan, bahwa aku adalah seorang berilmu?” Janganlah berkata begini, sebab si
bodohlah yang berkata begini. Orang paling bodoh ialah orang yang menganggap dirinya
suci dan terpuji. Ketahuilah bahwa ALLAH memberi mereka kekuatan untuk berbuat
terhadapmu (sehingga mereka berbuat buruk terhadapmu) hanya karena dosa-dosa yang
telah engkau perbuat. Ketahuilah pula bahwa hal itu merupakan hukuman dari-Nya.
Bergaullah dengan kenalan-kenalanmu yang
engkau dengar tentang kebenaran mereka dan engkau buta tentang kesalahan
mereka, percakapkanlah kebaikan mereka dan diamlah tentang keburukan mereka. Berhati-hatilah terhadap sang berilmu (fakih) di masa
ini, terutama mereka yang tenggelam dalam masalah-masalah yang
saling bertentangan dan perdebatan-perdebatan. Berhati-hatilah terhadap mereka; karena
mereka cemburu dan dengki, maka mereka mengharap agar engkau bernasib buruk, membayangkan berbagai hal tentang dirimu, dan
bila mereka berada di belakangmu, maka mereka saling berisyarat mata sembari
memburuk-burukkan dirimu sehingga dengan marah mereka melontarkan
keburukan-keburukan ini kepadamu bila mereka berselisih denganmu. Mereka tak
mau memaafkan kesalahan atau kekeliruanmu. Mereka membeberkan masalah-masalah
pribadimu yang seharusnya disembunyikan. Mereka akan membuat perhitungan
denganrnu walau dalam hal-hal sepele. Dalam segala hal mereka dengki terhadapmu.
Dengan cara memfitnah, mereka mendorong sahabat-sahabatmu untuk menentangmu.
Jika mereka merasa senang denganmu, maka mereka akan menjilatmu. Namun, jika mereka
membencimu, maka mereka akan tampak benar-benar bodoh. Mereka adalah serigala berbulu
domba. Beginilah, setelah mereka kita amati, keadaan kebanyakan di antara
mereka kecuali mereka yang telah dilindungi oleh ALLAH. Bila engkau bersahabat
dengan mereka, maka engkau akan rugi. Jika begitulah keadaan mereka yang
menunjukkan rasa persahabatan denganmu, maka bagaimana pula keadaan mereka yang
secara terbuka menunjukkan rasa permusuhan denganmu?
Al-Qadhi ibn Ma'ruf berkata,
Berhati-hatilah terhadap musuhmu ,Namun lebih berhati-hatilah terhadap kawanmu,Sebab seorang kawan kadang bisa berubah menjadi musuh,Dan ia tahu bagaimana cara merugikanmu.
Begitu pula apa yang dinyatakan oleh sebuah
syair:
Kadang musuhmu itu berasal dari kawanmuMaka janganlah menambah persahabatan,Hampir semua penyakit yang engkau lihat,Berasal dari makan dan minum.
Jadilah seperti apa yang dikatakan oleh Hilal
bin ibn al-Ala :
Karena aku memaafkan dan tak mendendam,Maka, aku merasa tak khawatir terhadap musuh.Aku salami musuhku ketika aku bertemu dengannya,Sehingga aku bisa mengusir keburukan dengan hal itu,Kutunjukkan kebaikanku terhadap orang yang kubenci.Seolah ia telah menyenangkanku.Aku merasa tak aman terhadap orang yang tak kukenal,Lantas bagaimana aku bisa merasa aman terhadap lawan-lawanku?Manusia adalah penyakit dan satu-satunya obat ialah mencampakkannya,Bersikap keras terhadapnya akan memutuskan tali persaudaraan,Maka berhati-hatilah terhadap manusia agar engkau selamat dari heburukan-keburukannya,Dan dambakanlah persahabatan.
Berlaku baiklah terhadap manusia dan tabahlah terhadap apapun yang datang darinya;
Tuli, bisu dan butalah, dan jadilah orang yang takwa kepada ALLAH.
Juga, jadilah seperti apa yang dinasihatkan
oleh seorang bijak, "Bermuka baiklah terhadap sahabat dan musuhmu. Jangan
merendahkan diri dan janganlah takut kepada mereka. Jadilah orang mulia yang
tak bangga diri, rendah hatilah dan janganlah merendahkan diri."
Bersikap wajarlah dalam segala hal. Janganlah berlebih-lebihan, sebab itu
merupakan aib sebagaimana bunyi sebuah syair :
Bersikap wajarlah dalam segala hal,Sebab hal ini merupakan jalan lurus menuju jalan mulus;Janganlah berlebih·lebihan, dan jangan pula berpangku tangan,Sebab kedua hal itu merupakan aib.
Janganlah menengok ke kiri dan kanan dengan bangga diri dan jangan
pula banyak menengok. Janganlah berdiri di sisi sekelompok orang, namun
duduklah bersama mereka. Bila engkau duduk, janganlah engkau bersikap seolah
engkau hendak bangun. Jagalah dirimu dari memainkan jari-jemarimu, memainkan
jenggot dan cincinmu, mengetuk-ngetuk gigi,
mengorek-ngorek lubang hidung, banyak meludah, mengusap-usap hidung, menghalau lalat dari wajahmu, merentangkan tangan di
kala berjalan, menguap di hadapan orang selama salat dan sebagainya.
Jadikanlah
pertemuanmu sebagai jalan menuju kebenaran dan
tatalah
perkataanmu. Dengarkanlah perkataan baik
dari mereka yang berbicara denganmu, dan janganlah menunjukkan keheranan yang
berlebihan dan janganlah meminta mereka untuk mengulangi perkataan mereka.
Diamlah terhadap hal-hal yang membuat orang tertawa.
Janganlah mengunggulkan anakmu, syairmu, pembicaraanmu, buku-bukumu dan hal-hal
pribadimu. Janganlah bersikap seperti seorang wanita.
Janganlah bersikap seperti budak. Janganlah berlebih-lebihan dalam menggunakan wewangian dan
janganlah meminta mereka untuk membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu.
Janganlah mendorong orang
untuk berbuat aniaya. Janganlah istri dan
anakmu mengetahui kekayaanmu apalagi orang lain, sebab bila mereka tahu bahwa
kekayaanmu itu tak seberapa, maka mereka akan melecehkanmu, dan jika mereka
tahu bahwa engkau kaya, maka engkau takkan mampu menyenangkan mereka dengan
kekayaanmu itu. Bersikap keraslah terhadap mereka,
tapi
janganlah berlaku kasar terhadap mereka, bersikap lembutlah terhadap mereka,
tapi janganlah berlaku lemah terhadap mereka. Janganlah bercanda dengan hamba
sahaya perempuan dan laki-laki, agar harkatmu tak jatuh. Bila engkau
bersitegang, bersabarlah, lindungilah dirimu dari kebodohan dan janganlah tergesa-gesa,
dan pikirkanlah hujjahmu. Janganlah
banyak bermain tangan. Janganlah banyak menengok ke belakang. Janganlah
berlutut. Berbicaralah ketika gejolak amarahmu reda. Bila si penguasa
mendekatkan dirimu kepadanya, maka bersikaplah seolah engkau berada di tepi
ujung tombak. Berhati-hatilah terhadap sahabatmu di kala
engkau sehat dan kaya, sebab ia adalah musuh terbesarmu. Janganlah engkau
menjadikan kekayaanmu lebih bernilai daripada kehormatanmu.
Duhai orang muda,
memadailah kiranya bagimu hal-hal di atas sebagai permulaan hidayah. Ujilah dirimu
dengan hal ini, yang terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama ialah tentang
aturan-aturan dalam beribadah kepada ALLAH. Bagian kedua ialah tentang cara
menghindar dari dosa, dan bagian ketiga ialah tentang cara berhubungan dengan
sesama manusia. Termasuk dalam hubungan ini ialah hubungan manusia dengan Sang Pencipta
dan makhluk. Jika engkau merasa serasi dengan permulaan hidayah ini, hatimu
cenderung padanya dan ingin bertindak sesuai dengannya, maka ketahuilah bahwa
engkau adalah orang yang jiwanya telah diterangi dan diperluas dengan iman oleh
ALLAH. Yakinlah bahwa permulaan hidayah ini ada akhirnya dan di luar hal ini
maujud rahasia-rahasia, kedalaman, ilmu yang luas, pandangan-pandangan dan
tembus-hati (mukasyafat). Hal-hal ini telah kami kemukakan dalam karya
kami, Ihya' Ulumiddin. Nah, berupayalah meraih hal ini. Jika hawa
nafsumu hampir tak mau menunaikan kewajiban-kewajiban ini (wazhaif) dan
mengesampingkan ilmu ini dan berkata kepadamu, 'Bagaimana ilmu ini bisa
bermanfaat bagimu ketika engkau berada di tengah-tengah para berilmu?' Kapankah
ilmu ini dapat menempatkanmu di deretan depan sesamamu dan orang-orang yang
berpikir?
Dan bagaimana ilmu ini bisa mengangkat
harkatmu di tengah-tengah para putra mahkota dan gubernur sehingga hal itu
mendatangkan kekayaan dan sarana-sarana hidup lainnya kepadamu, sehingga engkau
terkaruniai dan menjadi hakim atau penguasa? Maka sadarilah bahwa setan telah
menyesatkanmu dan telah membuatmu melupakan tempat kembalimu dan tempat tinggalmu
setelah mati. Maka carilah setan seperti dirimu yang dapat mengajarkan kepadamu
bahwa ilmu yang engkau bayangkan akan bermanfaat bagimu dan akan membuatmu
meraih apa yang engkau dambakan. Namun ketahuilah jika engkau berkuasa, maka
hal itu takkan bersih dari
noda. Nah, jika demikian, maka pada hari penentuan, engkau akan kehilangan
kerajaan dan kecerahan abadi di sisi Tuhan semesta alam. Semoga kedamaian,
rahmat dan berkat Allah melimpahimu!
Segala puji bagi ALLAH
pertama dan terakhir lahir dan batin! Tiada berdaya atau kuat kecuali ALLAH.
Shalawat dan salam Allah atas pemimpin kita Muhammad, keluarganya dan
sahabat-sahabatnya!
cathieheath.com illustrates
cathieheath.com illustrates
Subscribe to:
Posts (Atom)
Putri, Berkah Untuk Semua
Belum reda euforia atas kemenangan Tim Nasional Sepakbola kita di ajang SEA Games XXXII Cambodia, kini bangsa Indonesia kembali dibuat bangg...
-
“By going to work, we’re killing ourselves, literally!” –dengan bekerja, kita membunuh diri kita sendiri, dalam artian sebenarnya!...
-
LIFE BEGINS AT 40 "Hidup dimulai pada usia 40 tahun" , mengapa orang menyatakan demikian? Mengapa pada usia 40? Salah sat...
-
Apa kabar Satria? Ini bukan tentang Satria FU One Million limited edition, motor kesayangan yang lagi istirahat beberapa purnama terakhir di...







