Thursday, January 22, 2015

Tentang Komunikasi Yang Benar (I)

Berhati-hatilah terhadap sahabatmu di kala engkau sehat dan kaya, sebab ia adalah musuh terbesarmu. Janganlah engkau menjadikan kekayaanmu lebih bernilai daripada kehormatanmu. Duhai orang muda, memadailah kiranya bagimu hal-hal di atas sebagai permulaan hidayah. Ujilah dirimu dengan hal (kitab) ini, yang terdiri atas tiga bagian. (Bidayatul Hidayah - Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali)


Note :
Astaghfirullah Al-Adhiim. Bagian III kitab termasyhur Bidayatul Hidayah (Permulaan Hidayah) Karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali membahas berbagai hal mengenai tata laku kita dalam berhubungan dengan ALLAH dan manusia. Kitab yang dianggap sebagai prolog dari kitab besar Ihya' Ulumuddin ini bisa menjadi salah satu tuntunan dasar kita semua dalam berkomunikasi dengan orang lain. Di bawah ini penulis sajikan fasal "Berhubungan Dengan Kenalan" melalui terjemah H.M. As'ad El-Hafidy dengan sedikit tambahan suntingan penulis. Kenalan, menurut hemat "penulis pribadi", secara sosiologis adalah tingkat kedua dari rantai hubungan seseorang dengan orang lain. Rantai ini berhubungan dalam hal kedekatan dan penghormatan, dengan tingkat sebagai berikut : Orang Asing -> Kenalan -> Teman (Handai Tolan) -> Sahabat -> Kerabat -> Keluarga. Dewasa ini, terkhusus di dunia maya, 3 level terbawah berisikan orang-orang yang paling banyak dan paling sering berhubungan dengan kita. Nukilan ini merupakan bagian akhir dari kitab Bidayatul Hidayah. Jika Anda mengalami kesulitan memahami maksud terjemahan ini, Anda dapat membaca kitab aslinya, atau mencari terjemahan lain yang Anda anggap lebih mudah dicerna. Semoga bermanfaat!

Berhubungan dengan Kenalan
Berhati-hatilah terhadap kenalanmu, sebab engkau hanya akan menerima keburukan dari kenalan yang tak benar-benar engkau kenal. Sahabat-sahabatmu akan menolongmu; dan mereka yang benar-benar tak engkau kenal takkan mempengaruhimu, namun keburukan akan menimpamu bila engkau berkenalan dengan orang yang menunjukkan persahabatan dengan lisannya belaka. Maka menjauhlah sedapat mungkin dari kenalan-kenalan semacam itu.

Bila engkau berkenalan dengan orang-orang yang ada di sebuah lembaga akademi, atau masjid jami', atau masjid kecil, atau kota, atau pasar maka janganlah engkau melecehkan mereka, barangkali mereka lebih baik daripada engkau.

Janganlah engkau pandang bahwa mereka itu memiliki kebaikan duniawi, agar engkau tak binasa, sebab dunia hampir tak berarti dalam padangan ALLAH, dan segala yang ada di dalamnya hampir tak bernilai. Maka dari itu, kapan pun hati merasa takjub terhadap orang yang memiliki keuntungan duniawi, maka rendahlah dirimu dalam pandangan ALLAH. Jagalah dirimu agar engkau tak menggunakan agamamu untuk memperoleh kepemilikan-kepemilikan duniawi. Barangsiapa berbuat begini, maka milikan-milikan duniawi itu tak berarti baginya.

Jika kenalanmu itu bersikap tak baik terhadapmu maka janganlah engkau menghadapi mereka dengan permusuhan sebab engkau tentu takkan mampu bersabar bila mereka membalas rasa permusuhanmu itu. Nah, bila demikian, maka sifat keagamaanmu akan sirna ketika mereka memusuhimu, sehingga kesulitan akan kian bertambah.

(Sebaliknya) jika mereka menghormatimu, memujimu di depanmu, dan menunjukkan rasa persahabatan denganmu maka janganlah engkau mempercayai mereka, sebab jika engkau tahu maka sebenarnya mereka itu tak tulus dalam bersikap terhadapmu. Janganlah engkau mengharap bahwa mereka akan bersikap sama baik di kala mereka di depan umum maupun di kala seorang diri. Janganlah engkau merasa heran bila mereka mengumpatmu, di belakangmu dan janganlah engkau marah karena hal itu; sebab jika engkau jujur, maka engkau pun tahu bahwa engkau pun bersikap serupa terhadap sahabat-sahabat dan kerabatmu, dan bahkan terhadap para guru dan kedua orang tuamu ketika engkau membicarakan hal mereka di belakang mereka.

Campakkanlah nafsu serakahmu terhadap kekayaan, nama/kedudukan, dan pertolongan kenalanmu. Si tamak biasanya akan merugi di kemudian hari dan hina di saat ini. Jika engkau meminta agar orang memenuhi kebutuhanmu, dan melakukannya, maka bersyukurlah kepada Allah dan dia. Namun jika ia menolak maka janganlah engkau menyalahkannya, agar tak timbul permusuhan antara engkau dan dia. Jadilah seperti si mukmin yang berupaya memaafkan orang, dan janganlah menjadi seorang munafik yang senantiasa berupaya mencari-cari kesalahan; namun katakanlah, ‘Ia menolak membantuku, mungkin ada alasan tertentu yang tak kuketahui.’

Jangan engkau mengira bahwa kenalanmu itu mau menerima pendapatmu jika engkau tak melihat adanya tanda-tanda bahwa ia akan menerima pendapatmu itu. Jika tidak, ia takkan mendengarkanmu, malah ia akan menentangmu. Jika salah satu dari kenalanmu berbuat salah dan mereka tak menegurnya (belajar dari kesalahan), maka janganlah engkau mengajarnya tentang sesuatu, sebab ia akan mendapatkan keuntungan darimu dan sekaligus akan menjadi musuhmu. Namun, jika kesalahannya itu membuatnya sadar, maka katakanlah kepadanya tentang kebenaran dengan cara yang baik.

Jika mereka menghormatimu dan berbuat baik kepadamu, maka bersyukurlah kepada ALLAH yang telah membuatmu dicintai mereka. Namun, jika mereka berbuat tak baik terhadapmu, maka pasrahkanlah semua itu kepada ALLAH, berlindunglah kepada-Nya dari keburukan mereka, janganlah mengumpat mereka, dan janganlah berkata, “Tak tahukah engkau bahwa aku adalah putra si polan, bahwa aku adalah seorang berilmu?” Janganlah berkata begini, sebab si bodohlah yang berkata begini. Orang paling bodoh ialah orang yang menganggap dirinya suci dan terpuji. Ketahuilah bahwa ALLAH memberi mereka kekuatan untuk berbuat terhadapmu (sehingga mereka berbuat buruk terhadapmu) hanya karena dosa-dosa yang telah engkau perbuat. Ketahuilah pula bahwa hal itu merupakan hukuman dari-Nya.

Bergaullah dengan kenalan-kenalanmu yang engkau dengar tentang kebenaran mereka dan engkau buta tentang kesalahan mereka, percakapkanlah kebaikan mereka dan diamlah tentang keburukan mereka. Berhati-hatilah terhadap sang berilmu (fakih) di masa ini, terutama mereka yang tenggelam dalam masalah-masalah yang saling bertentangan dan perdebatan-perdebatan. Berhati-hatilah terhadap mereka; karena mereka cemburu dan dengki, maka mereka mengharap agar engkau bernasib buruk, membayangkan berbagai hal tentang dirimu, dan bila mereka berada di belakangmu, maka mereka saling berisyarat mata sembari memburuk-burukkan dirimu sehingga dengan marah mereka melontarkan keburukan-keburukan ini kepadamu bila mereka berselisih denganmu. Mereka tak mau memaafkan kesalahan atau kekeliruanmu. Mereka membeberkan masalah-masalah pribadimu yang seharusnya disembunyikan. Mereka akan membuat perhitungan denganrnu walau dalam hal-hal sepele. Dalam segala hal mereka dengki terhadapmu. Dengan cara memfitnah, mereka mendorong sahabat-sahabatmu untuk menentangmu. Jika mereka merasa senang denganmu, maka mereka akan menjilatmu. Namun, jika mereka membencimu, maka mereka akan tampak benar-benar bodoh. Mereka adalah serigala berbulu domba. Beginilah, setelah mereka kita amati, keadaan kebanyakan di antara mereka kecuali mereka yang telah dilindungi oleh ALLAH. Bila engkau bersahabat dengan mereka, maka engkau akan rugi. Jika begitulah keadaan mereka yang menunjukkan rasa persahabatan denganmu, maka bagaimana pula keadaan mereka yang secara terbuka menunjukkan rasa permusuhan denganmu?

Al-Qadhi ibn Ma'ruf berkata,
Berhati-hatilah terhadap musuhmu ,
Namun lebih berhati-hatilah terhadap kawanmu,
Sebab seorang kawan kadang bisa berubah menjadi musuh,
Dan ia tahu bagaimana cara merugikanmu.
Begitu pula apa yang dinyatakan oleh sebuah syair:
Kadang musuhmu itu berasal dari kawanmu
Maka janganlah menambah persahabatan,
Hampir semua penyakit yang engkau lihat,
Berasal dari makan dan minum.
Jadilah seperti apa yang dikatakan oleh Hilal bin ibn al-Ala  :
Karena aku memaafkan dan tak mendendam,
Maka, aku merasa tak khawatir terhadap musuh.
Aku salami musuhku ketika aku bertemu dengannya,
Sehingga aku bisa mengusir keburukan dengan hal itu,
Kutunjukkan kebaikanku terhadap orang yang kubenci.
Seolah  ia telah menyenangkanku.
Aku merasa tak aman terhadap orang yang tak kukenal,
Lantas bagaimana aku bisa merasa aman terhadap lawan-lawanku?
Manusia adalah penyakit dan satu-satunya obat  ialah mencampakkannya,
Bersikap keras terhadapnya akan memutuskan tali persaudaraan,
Maka berhati-hatilah terhadap manusia agar engkau selamat dari heburukan-keburukannya,
Dan dambakanlah persahabatan.
Berlaku baiklah terhadap manusia dan tabahlah terhadap apapun yang datang darinya;
Tuli, bisu dan butalah, dan jadilah orang yang takwa kepada ALLAH.
Juga, jadilah seperti apa yang dinasihatkan oleh seorang bijak, "Bermuka baiklah terhadap sahabat dan musuhmu. Jangan merendahkan diri dan janganlah takut kepada mereka. Jadilah orang mulia yang tak bangga diri, rendah hatilah dan janganlah merendahkan diri." Bersikap wajarlah dalam segala hal. Janganlah berlebih-lebihan, sebab itu merupakan aib sebagaimana bunyi sebuah syair :
Bersikap wajarlah dalam segala hal,
Sebab hal ini merupakan jalan lurus menuju jalan mulus;
Janganlah berlebih·lebihan, dan jangan pula berpangku tangan,
Sebab kedua hal itu merupakan aib.
Janganlah menengok ke kiri dan kanan dengan bangga diri dan jangan pula banyak menengok. Janganlah berdiri di sisi sekelompok orang, namun duduklah bersama mereka. Bila engkau duduk, janganlah engkau bersikap seolah engkau hendak bangun. Jagalah dirimu dari memainkan jari-jemarimu, memainkan jenggot dan cincinmu, mengetuk-ngetuk gigi, mengorek-ngorek lubang hidung, banyak meludah, mengusap-usap hidung, menghalau lalat dari wajahmu, merentangkan tangan di kala berjalan, menguap di hadapan orang selama salat dan sebagainya.

Jadikanlah pertemuanmu sebagai jalan menuju kebenaran dan tatalah perkataanmu. Dengarkanlah perkataan baik dari mereka yang berbicara denganmu, dan janganlah menunjukkan keheranan yang berlebihan dan janganlah meminta mereka untuk mengulangi perkataan mereka. Diamlah terhadap hal-hal yang membuat orang tertawa. Janganlah mengunggulkan anakmu, syairmu, pembicaraanmu, buku-bukumu dan hal-hal pribadimu. Janganlah bersikap seperti seorang wanita. Janganlah bersikap seperti budak. Janganlah berlebih-lebihan dalam menggunakan wewangian dan janganlah meminta mereka untuk membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu.

Janganlah mendorong orang untuk berbuat aniaya. Janganlah istri dan anakmu mengetahui kekayaanmu apalagi orang lain, sebab bila mereka tahu bahwa kekayaanmu itu tak seberapa, maka mereka akan melecehkanmu, dan jika mereka tahu bahwa engkau kaya, maka engkau takkan mampu menyenangkan mereka dengan kekayaanmu itu. Bersikap keraslah terhadap mereka, tapi janganlah berlaku kasar terhadap mereka, bersikap lembutlah terhadap mereka, tapi janganlah berlaku lemah terhadap mereka. Janganlah bercanda dengan hamba sahaya perempuan dan laki-laki, agar harkatmu tak jatuh. Bila engkau bersitegang, bersabarlah, lindungilah dirimu dari kebodohan dan janganlah tergesa-gesa, dan pikirkanlah hujjahmu. Janganlah banyak bermain tangan. Janganlah banyak menengok ke belakang. Janganlah berlutut. Berbicaralah ketika gejolak amarahmu reda. Bila si penguasa mendekatkan dirimu kepadanya, maka bersikaplah seolah engkau berada di tepi ujung tombak.  Berhati-hatilah terhadap sahabatmu di kala engkau sehat dan kaya, sebab ia adalah musuh terbesarmu. Janganlah engkau menjadikan kekayaanmu lebih bernilai daripada kehormatanmu.

Duhai orang muda, memadailah kiranya bagimu hal-hal di atas sebagai permulaan hidayah. Ujilah dirimu dengan hal ini, yang terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama ialah tentang aturan-aturan dalam beribadah kepada ALLAH. Bagian kedua ialah tentang cara menghindar dari dosa, dan bagian ketiga ialah tentang cara berhubungan dengan sesama manusia. Termasuk dalam hubungan ini ialah hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan makhluk. Jika engkau merasa serasi dengan permulaan hidayah ini, hatimu cenderung padanya dan ingin bertindak sesuai dengannya, maka ketahuilah bahwa engkau adalah orang yang jiwanya telah diterangi dan diperluas dengan iman oleh ALLAH. Yakinlah bahwa permulaan hidayah ini ada akhirnya dan di luar hal ini maujud rahasia-rahasia, kedalaman, ilmu yang luas, pandangan-pandangan dan tembus-hati (mukasyafat). Hal-hal ini telah kami kemukakan dalam karya kami, Ihya' Ulumiddin. Nah, berupayalah meraih hal ini. Jika hawa nafsumu hampir tak mau menunaikan kewajiban-kewajiban ini (wazhaif) dan mengesampingkan ilmu ini dan berkata kepadamu, 'Bagaimana ilmu ini bisa bermanfaat bagimu ketika engkau berada di tengah-tengah para berilmu?' Kapankah ilmu ini dapat menempatkanmu di deretan depan sesamamu dan orang-orang yang berpikir?

Dan bagaimana ilmu ini bisa mengangkat harkatmu di tengah-tengah para putra mahkota dan gubernur sehingga hal itu mendatangkan kekayaan dan sarana-sarana hidup lainnya kepadamu, sehingga engkau terkaruniai dan menjadi hakim atau penguasa? Maka sadarilah bahwa setan telah menyesatkanmu dan telah membuatmu melupakan tempat kembalimu dan tempat tinggalmu setelah mati. Maka carilah setan seperti dirimu yang dapat mengajarkan kepadamu bahwa ilmu yang engkau bayangkan akan bermanfaat bagimu dan akan membuatmu meraih apa yang engkau dambakan. Namun ketahuilah jika engkau berkuasa, maka hal itu takkan bersih dari noda. Nah, jika demikian, maka pada hari penentuan, engkau akan kehilangan kerajaan dan kecerahan abadi di sisi Tuhan semesta alam. Semoga kedamaian, rahmat dan berkat Allah melimpahimu!
Segala puji bagi ALLAH pertama dan terakhir lahir dan batin! Tiada berdaya atau kuat kecuali ALLAH. Shalawat dan salam Allah atas pemimpin kita Muhammad, keluarganya dan sahabat-sahabatnya!

cathieheath.com illustrates


Friday, January 9, 2015

Tentang Komunikasi Yang Salah (II)



dcosmic.net illustrates
Note : baru konsep, belum artikel

DAJJAL . NET
[sung and written by Iwan Fals;
taken from the album "Raya", 2013;
translated by espielaurel]


[I’m addicted to the internet
To Twitter Facebook and Grandpa Google
Even more to Youtube and You ssssshhh…..
As well as to the other sites
Waking up from, going to bed
Clicking this, clicking that
Don’t even care with anything else
 

Work’s in a mess
Duty’s gone away
The backache the neck and the eyes
O pity me
Laughing to myself
Gloomy, glooming to myself
In rage, raging to myself, yea to myself

How come the kinda madness be like this
Cell credit draculas are in sniggering jests
Whilts sucking costumer’s blood
As well as to my least blood
 
Friendship's indeed been growing larger
Friends to those whose insanity are no better

The net draws whatever is distant
The net keeps away from the closest one

I let my brain be kept in there…
Being reluctant to memorize, to learn things
Isn’t everything available in there?
Come on ask whatever you want, come on just give it a click
Grandpa Google answers it

Just like the others
Head-down has become my hobby
At the bus shelters, in the marts
In the houses of God
At the clinics, at schools
Even in the Parliement’s assembly
The people’s heads also stay down
Uh the wisdom of paddy apparently
The pithier it is, the humbler it becomes
Ha ha ha ha...


Infos in the count of seconds
News is to our choices
Everybody becomes good at cheating
Yea cheating...
 
It’s communication technology, then why can’t we communicate
Lo, doesn’t everyone know that they become reluctant to speak

Absurd laughters
Gloomy, absurd glooms
In rage, absurd rages
Absurd…

Each and everyone’s been absorbed to the screens
The screens of civilization
The promised one
As of Dajjal the one-eyed
And everyone’s heading there…]


Dajal Net 

Aku kecanduan internet
Twiter facebook dan mbah google
Belum lagi youtube dan you ssst
Lalu situs-situs lainnya
Bangun tidur tidur lagi
Mencet sana mencet sini
Sudah nggak peduli lagi dengan yang lain


Kerjaan berantakan
Kewajiban melayang
Sakit pinggang leher dan mata
Duh kasihan deh aku
Ketawa-ketawa sendiri
Sedih-sedih, sedih sendiri
Marah-marah, marah sendiri, ya sendiri

Gila kok bisa seperti ini ya
Drakula pulsa cekikikan
Sambil menyedot darah pelanggan
Dan darahku yang pas-pasan

Memang teman semakin banyak
Teman yang sama-sama gendeng

Internet dekatkan yang jauh
Internet menjauhkan yang dekat

Otakku kutitipkan disitu
Jadi malas mengingat, malas belajar
Toh semuanya ada disitu?
Ayo mau tanya apa ayo tinggal klik
Mbah google bisa menjawabnya

Sama seperti yang lain
Hobiku jadi suka nunduk
Di halte di pasar
Di rumah ibadah
Di rumah sakit di sekolah
Bahkan di sidang parlemen
Pun orang-orang pada menunduk
Oh ilmu padi rupanya
Semakin berisi semakin merunduk
 

He he he he....

Informasi dalam hitungan detik
Berita tinggal pilih aje
Semua orang jadi pandai nyontek
Ya nyontek 

Teknologi komunikasi, koq jadi tak bisa komunikasi
Lha sudah pada tau semua kan orang jadi malas berbicara

Ketawa-ketawa nggak jelas
Sedih-sedih, sedih nggak jelas
Marah-marah, marah nggak jelas
Nggak jelas...


Semua kesedot ke layar itu
Layar peradaban
Yang sudah dijanjikan
Seperti dajal dengan matanya yang satu itu
Semuanya pergi menuju kesitu…
 




Saturday, January 3, 2015

Lagi Sibuk.... (Teruntuk 7.285.322.752 umat manusia)

Diambil dari worldometers.info
Ini bukan tulisan, sekadar wara-wara...
Pemberitahuan untuk siapa pun (barang kali ada) yang menunggu artikel baru di laman ini...

saat ini penulis sedang benar-benar sibuk, sibuk bekerja, sibuk berpikir, sibuk menganalisis, dan...
sibuk tulis-menulis, tentu...

dan untuk menulis juga perlu belajar!
ya, hasrat  belajar ini sedang sangat tinggi!
sudah ada beberapa buku elektronik klasik yang siap dan terus memanggil-manggil untuk segera direngkuh dan diarungi....

pada intinya saat ini ada dua topik; tentang agama & tentang manajemen.
karena untuk mengarunginya juga perlu persiapan dan perlengkapan, belum sampai lah kitab-kitab ini pun tersentuh...

masih terjebak dalam pembelajaran lughawi, konsepsi, terminologi, khazanah kalimah, entitas-entitas atau unit-unit verbal maupun nonverbal yang memiliki arti sehingga dapat memindahkan sebuah informasi... (singkatnya, belajar hal ikhwal kata dan bahasa lah!)

Kalau hasrat belajar ini sedang tinggi, memang luar biasa! Sangat sulit dibendung, hasilnya pun bisa sungguh luar biasa! In syaa Allah, tak mengherankan...

ya, setidaknya ada seorang yang mengakui bahwa penulis adalah orang yang cerdas dan (sejatinya) berhak atas banyak gelar kesarjanaan! ya, sarjana tanpa gelar. meskipun hal ini jelas-jelas adalah pitnah, namun penulis merasa sangat berterima kasih.  syukur-syukur pitnah itu dapat terwujud... (Aamiin...) toch, ini hanyalah sebuah pitnah, bukan fitnah!!!

ada pula seorang lainnya yang meyakinkan bahwa kelak penulis akan menjadi orang besar! sungguh, itu terdengar sangat manis...!!! meskipun gombal... tapi memang benar-benar manis!!! (jadilah manisan gombal!) meski semua juga memahami bahwa takdir ada dalam genggaman Sang Pencipta, penulis tetap merasa sangat berterima kasih kepadanya.

ada lagi seorang yang selalu menanamkan kepada penulis bahwa ke mana pun penulis pergi, penulis pasti akan mampu membawa diri dan melindungi diri. ini juga jelas-jelas sebuah penghiburan, karena semua juga tahu bahwa ALLAH adalah sebaik-baik pelindung.

ada pula yang berani memastikan bahwa ke mana pun penulis melangkah, akan selalu ada orang-orang yang menyayangi dengan setulus hati, tanpa pamrih! Sungguh manis, dan sangat menenangkan... ALLAH lah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

setidaknya sudah ada empat orang yang meyakinkan penulis bahwa penulis adalah orang baik. kalaupun bukan, mudah-mudahan suatu saat bisa menjadi orang seperti itu. yang diungkapkan keempatnya merupakan positive reinforcement (atawa semacam motivasi) bagi penulis pribadi. sebuah kendali, sebuah penghibur, sebuah titik awal pancaran harapan ketika hati penulis berada dalam kesempitan. 

kini tinggal menunggu sikap 7.285.322.752 (tujuh milyar, dua ratus delapan puluh lima juta, tiga ratus dua puluh dua ribu, tujuh ratus lima puluh dua) manusia lainnya yang konon menghuni bumi ini saat coretan ini dibuat. penulis sesungguhnya tak mau ambil peduli, hanya berharap bahwa semuanya dapat hidup dengan lebih lurus dan lebih berkualitas.

maaf, sekali lagi ini bukan tulisan/artikel.
jika Anda masih ragu, silakan baca kembali kalimat di atas! 
....paradox!....

selamat mengarungi tahun masehi baru 2015!
Terima kasih,
Terima kasih,
Terima kasih!
a'udzubillah, bismillah...
_____________________________________________ ______________________

Tuesday, December 23, 2014

Tentang Komunikasi Yang Salah

Notes : [Untuk anak-anakku tersayang, kelak, in syaa Allah...]
Repost dari laman KARTUN MUSLIMAH on facebook
Semoga perlindungan ALLAH senantiasa menyertai!
(klik gambar terbawah untuk melihat post asli)
A'udzubillaahi minas syaithanir rajiim...
-----------------------------------------------------------------------------------------

Katanya ga ada perasaan apapun, tapi giliran si akhi nikah atau deket sama akhwat lain... sakitnya tuh disini! Nah loh?

Witing Tresno Jalaran Soko Kulino (cinta tumbuh karena terbiasa)

Q: Terbiasa apa?

A: Apa saja, yang utama tentu saja komunikasi, baik offline maupun online

Q: Memangnya kita tidak boleh menjalin komunikasi dengan lawan jenis?

A: Bukannya tidak boleh, tentu saja hal ini diijinkan jika memang ada kepentingan tertentu, namun kita harus berhati-hati sebab benih cinta dapat tumbuh kapan saja jika kita tidak membentengi diri...meskipun via online yang tak berjumpa secara langsung

Q: Bagaimana cara membentengi diri dalam komunikasi yang dimaksud?

A: Nah, kali ini Kartun Muslimah akan berbagi tips komunikasi elektronik ( terutama media teks spt SMS, FB, WA, dll) yang syar’i dengan lawan jenis :
  1. Tidak menggunakan emote apapun ( misal :’( :-D :-( apalagi ;-) atau <3> GUBRAK!
  2. Tanpa ungkapan tawa “hahaha” “hihihi” “hehehe” “wkwkwk” dan sejenisnya
  3. Kata2nya tidak usah dipanjangkan (misal “okeeee” “iyaaaaa” “haaaaaah?” “waaaaww” atau “istimewaa”)
  4. Isi pesan langsung TO THE POINT, pembukaan dan penutupan yang hanya berupa salam sangat dianjurkan
  5. Tidak ada lelucon atau apapun yang mengundang tawa
  6. Tidak berkomunikasi lewat jam malam, supaya aman, paling malam sampai pukul 8 malam saja ya ukhti
  7. Tidak mengungkit masalah pribadi di tengah bahasan (meskipun itu hanya: “maaf baru bales, tadi baru dari warung”, atau ““maaf baru liat HP, baru selesai nyuci, setelah itu ngerjain tugas dan ketiduran sebentar”. Kecuali jika memang ditanya, itu pun cukup jawab seperlunya, jangan berlebihan apalagi sampai curhat~)
Intinya, lakukan komunikasi dengan sesingkat dan sewajar mungkin, makin datar makin baik, karena menutup celah hadirnya setan di tengah-tengah kalian

Q: Bagaimana kalau ikhwannya jadi ga nyaman karena terlalu datar? Kita kan harus menjaga silaturahim?

A: silaturahim, ukhuwah, itu ada batas-batasnya.Tugas kita adalah menjaga kehormatan diri kita dan mereka. Karena yang kita lakukan insyaAllah sudah berunsur syar’i, yang Allah sukai, maka perkara perasaan mereka, itu bukan lagi urusan kita...

Ada lagi yang punya tips komunikasi syar’i? Silakan..
Wallaahu a’lam bish showaab

[https://www.facebook.com/DakwahMuslimah/photos/a.465219523598838.1073741825.465045926949531/709162395871215/?type=1&permPage=1]




Thursday, December 18, 2014

THE HUGE GUY WHO TOOK MY MOM

illustration taken from wattpad.com
As my mother passed away couple years ago, there has always been a big question mark lingering in my mind as to what exactly had happened that morning in our kitchen. Why had she been suffocated and collapsed at that moment? In the extent of my knowledge on Mom, there has been an elaboration that she had seen a very extra-ordinary thing (or creature) and hence had experienced a tremendous emotions which her mind itself couldn't have handled.That was the moment which every living being would surely pass through, the call of death. It's The Angel Azrael, the huge guy, who fiercely reclaims each and every single soul on their very time to be escorted into The Judgement Day, just before their GOD!

Fly me up to where you are beyond the distant star,
I wish upon tonight to see you smile,
If only for a while to know you're there,
A breath away's not far to where you are,


To know you're there,
A breath away's not far to where you are....



(Be Right Back, perhaps...)

Tuesday, December 9, 2014

KEPEMIMPINAN (III) - QUDWAH :
Menjadi Pengikut pun Ada Aturannya

Achtung : Tulisan ini sepenuhnya adalah buah pikiran penulis, tidak dimaksudkan sebagai tafsir Kitab terkait. Jika terdapat kesalahan-kesalahan dalam tulisan ini maka merupakan keterbatasan raihan akal penulis pribadi. Buah pikiran ini sekadar merupakan satu dari sekian banyak upaya penulis untuk memperbaiki diri, upaya agar dapat menapaki arus kehidupan ini dengan lebih baik. Akan diperbaiki seperlunya jika terjadi kesalahan baik pada tulisan ini maupun diri penulis pribadi. Terima kasih.


Selama ini kita terlalu bersemangat untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi kepemimpinan hanya dari sisi pemimpin dan seni memimpin. Kita hampir lupa bahwa dalam setiap kepemimpinan setidaknya selalu ada 2 komponen yang menyebabkan lahirnya entitas tersebut, yaitu adanya PEMIMPIN dan YANG DIPIMPIN (Pengikut).

Adalah agama, yang membuat penulis memiliki referensi tambahan yang sering menjadi titik awal dan/atau akhir bagi penulis dalam melahirkan berbagai ragam pemikiran. Indah, komprehensif, begitulah agama ini telah tercipta. Tak terkecuali masalah kepemimpinan, hal yang tampaknya telah menjadi disiplin ilmu tersendiri dalam dunia modern, manajemen. Penulis biasa menyandingkan sebuah gagasan dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam sumber hukum agama tauhid ini. Mengkiaskan sesuatu dengan ketentuan-ketentuan atau buah pikiran para ahli ilmu adalah hal yang dapat mendatangkan manfaat yang tak ternilai.

Adalah Safinah Najah (Perahu Keselamatan) atau Safinat Al-Najat, lengkapnya Safinatun Najah Fiima Yajibu 'Ala Abdi Li Maulah -Bahtera Keselamatan Pada Kewajiban-Kewajiban Seorang Hamba Terhadap Tu­hannya, sebuah kitab kecil kontemporer (kitab kuning) yang disusun oleh Syaikh Salim Al-Hadhrami, kitab populer yang banyak membantu muslimin menjalankan kewajiban. Sesuai namanya, Kitab Safinah ibarat sebuah kapal yang mengantar orang-orang ke pulau impian di seberang lautan dengan selamat. Ia merupakan kitab yang membantu banyak orang untuk menjalankan kewajiban secara berhati-hati (prudential shari'a practices), menyentuh hukum-hukum dasar dalam beragama sehingga disukai dan dipegang oleh banyak orang khususnya dalam madzhab Syafi'i. Di pesantren-pesantren dan majelis, kitab ini masih menjadi salah satu kitab dasar yang diajarkan.

Adalah pada Bagian II dari Kitab tersebut, Shalat, yang penulis pegang untuk mengkiaskan kepemimpinan dengan tendensi dari sisi Yang Dipimpin (Pengikut), atau dalam konteks hukum Islam disebut sebagai makmum/ma'mum. Pada bagian ini ada sebuah bab yang membahas tentang qudwah, yaitu mengikuti seorang pemimpin (imam) atau menjadi pengikut dalam rangka shalat berjamaah. Terjemahan bebasnya adalah sebagai berikut (klik gambar di akhir tulisan ini untuk membaca teks aslinya) :
 
Syarat mengikuti seseorang (menjadi makmum) ada 11, yaitu :
1). Harus tidak mengetahui bahwa shalat imam batal, baik karena hadats atau hal lainnya 2). Tidak boleh menganggap bahwa shalat tersebut harus diulang (karena tidak sah) 3). Imam sedang tidak menjadi makmum (dari yang lain) 4). Tidak pula (imam tersebut adalah) ummiy (tidak bisa membaca dan menulis atau pun tidak fasih dalam qira'at) 5). Makmum tidak boleh berada lebih di depan daripada Imam dalam hal tempat 6). Makmum harus mengetahui perpindahan Imam (rangkaian gerakannya) 7). Imam dan makmum harus berkumpul dalam satu masjid atau kira-kira 300 dzira’ (bila di luar masjid*) 8). Makmum harus berniat mengikuti Imam atau berjamaah 9). Shalat yang dikerjakan Imam dan makmum harus sama (termasuk urutannya) 10). Makmum tidak berselisih atas hal-hal sunnah yang dikerjakan Imam, yang kelihatan buruk jika menyelisihinya 11). Makmum senantiasa harus mengikuti Imam (tidak mendahului).
*) Jarak 300 dzira' lebih kurang adalah 144 meter.

Dalam konteks kepemimpinan dalam organisasi bahkan dalam konteks organisasi terkecil, keluarga, tampaknya aturan ini tetap aplikatif. Penulis ingin menjelaskan secara sekilas kiasan kepemimpinan menurut konteks ini sebagai berikut :

1. Harus tidak mengetahui bahwa shalat imam batal, baik karena hadats atau hal lainnya
Seorang pengikut harus meyakini pemimpinnya, bahwa pemimpin tersebut melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar, sesuai tuntutan tugas dan aturan yang berlaku. Seorang pemimpin haruslah shidiq (benar), kalaupun memang melakukan penyelewengan, hal tersebut merupakan tindakan personal dan berada di luar pengetahuan orang-orang yang dipimpinnya. Siapa pun yang mengetahui adanya kejahatan yang dilakukan pemimpin maka ia harus mengingatkan hal tersebut, atau ia tak layak lagi untuk mengakui dan mengikutinya sebagai pemimpin.

2. Tidak boleh menganggap bahwa shalat tersebut harus diulang (karena tidak sah)
Jika kesalahan atau penyelewengan yang tersebut pada butir pertama di atas terjadi, atau jika seorang pengikut menganggap (ber-i'tiqad) bahwa organisasinya tidak legitimate maka qudwah-nya adalah sia-sia. Ia tidak dapat mengikuti pemimpinnya, dan jika semua orang memiliki anggapan demikian maka robohlah arti yang melekat pada organisasi tersebut. Seorang pemimpin haruslah amanah (terpercaya), dan orang-orang yang mengikuti harus yakin bahkan ia memang sedang berada di bawah kepemimpinan yang terpercaya dan akan mampu membawa organisasi ke arah kemajuan. 

3. Imam sedang tidak menjadi makmum (dari yang lain)
Seorang pemimpin adalah seorang yang original, orang yang benar-benar memiliki karakter dan visi sendiri, bukan pengekor. Seorang pemimpin haruslah fathonah (cerdas), memiliki lebih banyak unsur-unsur intelegensi daripada orang-orang yang dipimpinnya. Jika pemimpin tidak lebih daripada seorang bodoh atau pengekor dari sebuah mainstream maka jangan harap organisasi dapat maju dan berkembang. Mengikuti pemimpin tanpa originalitas seperti dimaksud adalah sia-sia.

4. Imam tidak pula ummiy, buta huruf (atau tidak fasih)
Seorang pemimpin haruslah tabligh (mampu menyampaikan atau melahirkan sesuatu), dan untuk itu ia harus mawas, tidak buta dengan keadaan sekelilingnya. Ibarat supir, ia harus mengetahui apa yang ada di sekeliling kendaraannya, mampu membaca tanda-tanda jalan sehingga tidak akan menyebabkan kendaraan yang dibawanya mengalami kecelakaan. Seorang pemimpin harus mampu membawa organisasinya maju dan tidak menempatkannya dalam krisis dan kehancuran.

5. Makmum tidak boleh berada lebih di depan daripada Imam dalam hal tempat
Dapat kita bayangkan jika seorang pemimpin lebih terbelakang daripada orang-orang yang dipimpinnya. Bagaimana seorang supir dapat membawa kendaraan dengan baik jika di depannya ada sosok-sosok yang menghalangi? Seorang pemimpin seyogianya memiliki wawasan, perspektif, atau sudut pandang terhadap segala permasalahan yang dihadapi dengan lebih baik daripada siapapun dalam organisasi. Jadi sudah benar jika dalam sebuah organisasi seorang yang memiliki pangkat dan kemampuan lebih rendah dilarang untuk memimpin orang-orang yang memiliki pangkat dan kompetensi lebih tinggi.

6. Makmum harus mengetahui perpindahan Imam (rangkaian gerakannya)
Sebagai orang yang berada di belakang garis kepemimpinan, pengikut harus memiliki kepekaan dalam membaca gagasan dan langkah sang pemimpin. Ia harus dapat menangkap dengan baik visi dan misi yang diemban oleh pemimpinnya dan memberikan dukungan penuh untuk mencapainya. Kabut yang menghalangi pandangan dirinya terhadap pemimpinnya adalah hambatan yang harus disingkirkan agar ia tetap dapat seiring sejalan dengan langkah pemimpinnya.

7. Imam dan makmum harus berkumpul dalam satu masjid
Dalam Kepemimpinan (II) penulis mengungkapkan sebuah esensi bahwa pemimpin yang baik harus mencintai organisasi dan orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya, fokus dan perhatian, serta tidak menyakiti. Dalam persepesi penulis, mencintai organisasi adalah sebuah keharusan dalam berorganisasi. Bagaimana mungkin kemajuan organisasi dapat tercapai jika baik pemimpin maupun orang-orang yang dipimpinnya tidak betah tinggal di dalamnya? Dengan berada dalam sebuah wadah, kesatuan visi maupun persepsi dapat lebih mudah dicapai sehingga langkah yang diambil dapat lebih fokus. Sangat menyedihkan jika orang-orang dalam organisasi terpecah-belah dan tak terkoordinasikan dengan baik, masing-masing mengambil langkah yang berbeda-beda dan jauh dari pencapaian tujuan bersama.

8. Makmum harus berniat mengikuti Imam
Apakah mungkin seseorang memilih seorang sebagai pemimpin namun tidak memiliki tekad yang kuat untuk taat, atau untuk mengikuti perintah-perintah yang diberikan oleh pemimpinnya? Tekad yang kuat dan bulat untuk mengikuti instruksi-instruksi yang diberikan oleh pemimpin yang shidiq, amanah, fathonah, dan tabligh merupakan sebuah modal awal untuk mencapai tujuan organisasi. Dengan tekad tersebut seorang pengikut akan mampu mengendalikan dirinya, mengawal tindakan-tindakannya agar selaras dengan langkah yang diambil pemimpinnya dalam mencapai tujuan bersama.

9. Shalat yang dikerjakan Imam dan makmum harus sama
Jika pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya mengemban visi dan misi yang berbeda, mungkinkah terjadi sinergi? Lalu apa dan di manakah tujuan bersama yang hendak dicapai? Untuk apa organisasi didirikan jika tidak ada tujuan bersama seperti itu? Keselarasan tujuan adalah hal wajib yang harus ada sehingga gerak langkah masing-masing orang tetap berada dalam kendali visi, misi, dan tujuan bersama tersebut. Komunikasi harus terjalin dengan baik sehingga gerak langkah dapat terus terlaksana secara harmonis dalam satu koridor yang sama.

10. Makmum tidak berselisih atas hal-hal sunnah yang dikerjakan Imam
Ini adalah tentang faktor-faktor yang bukan merupakan faktor fundamental dalam organisasi, hal-hal yang sejatinya masih dapat ditinggalkan tanpa menghambat pencapaian tujuan bersama. Meskipun keberadaan unsur-unsur tertentu dalam sebuah organisasi sering kali tidak merupakan sesuatu yang wajib, namun adalah sebuah nilai tambah tersendiri ketika elemen-elemen tersebut dikelola oleh semua pihak dengan baik. Sebagai contoh, sebuah taman bagi kantor bukanlah hal wajib, namun jika memang dibuat sebuah taman yang sejuk dan asri maka orang-orang yang melihatnya akan memberikan nilai yang lebih baik terhadap kantor tersebut. Faktor-faktor tersebut tidak selalu merupakan faktor yang tangiable (berwujud), namun juga dapat berupa faktor intangiable seperti passion para pegawai, kekompakan tim, kedermawanan, dan sebagainya. Situasi paling parah adalah ketika pemimpin membangun taman di depan kantor, namun orang-orang lainnya membangun bak sampah di dekatnya!

11. Makmum senantiasa harus mengikuti Imam
Sebuah organisasi akan hancur jika ada pihak-pihak yang melakukan penyelewengan atau pengkhianatan. Dalam dunia korporasi ada istilah headhunter yaitu pembajakan karyawan kunci atau karyawan potensial perusahaan pesaing. Dalam dunia intelijen kita mengenal yang dinamakan double agent, mole, atau spy (mata-mata) yang menyusup ke dalam sebuah negara, perusahaan, maupun entitas organisasi lainnya. Dalam agama ada yang disebut sebagai riddah, murtad. Dalam keluarga ada yang disebut sebagai cheating, perselingkuhan. Semua hal itu tak lain adalah perilaku seseorang pengikut yang akan menurunkan nilai kepemimpinan dan menghancurkan sebuah wadah bersama yang disebut organisasi. 

Jika kita menilai keadaan diri kita saat ini, kita layak bertanya kepada diri kita masing-masing, sudahkah kita menjadi seorang pengikut yang baik, pengikut yang suportif? Lebih jauh dari itu, sudahkah kita menjadi seorang hamba yang hanif? Allahu a'lam.


(bersambung, mungkin...)



Tuesday, November 25, 2014

Tentang Visi - Talk is Cheap

Setiap hari kita melihat betapa dahsyat arus pemikiran umat manusia menggeliat dengan berbagai aroma dari yang positif inspiratif motivatif, maupun yang negatif provokatif destruktif. Melihatnya, tampak begitu cerdas bangsa kita, begitu majunya bangsa tercinta ini. Berbagai pendapat malang-melintang setiap hari di sekitar kita, yang kita dengar langsung dari orang-orang, yang kita lihat di televisi, yang kita baca di surat kabar, maupun yang kita temui di dunia maya, khusunya memaui jejaring sosial. Ketika kita melihat, mendengar, atau membaca, sebuah pendapat  dari seseorang, ada kalanya kita merasa tak rela, merasa bahwa buah pemikiran tersebut harus diuji kembali. Lebih jauh lagi, kadang kala kita mempertanyakan seberapa berhak mereka mengeluarkan pernyataan atau opini tersebut.

Saya tergelitik untuk menguji keberhakan itu dalam sebuah pertemuan kemarin. Sebuah pertemuan para penghuni ruang birokrasi, para pegawai negeri, tempat paling cocok untuk menguji wawasan kebangsaan warga negara. Saya yakin akan "menang" dalam pengertian dapat membuktikan hipotesis bahwa sebagian besar orang hanya pandai berbicara tanpa dasar yang kuat, atau memang hanya suka berdebat, atau bahkan menyukai perselisihan. Pada prinsipnya, sebagian besar orang memiliki dorongan yang kuat untuk diakui kepandaiannya, atau ingin disebut cerdas. Pertanyaan pertama saya mudah saja, "apa visi Indonesia saat ini?". Terlepas dari derasnya perdebatan tiap hari tentang pemerintahan dan kebijakan pemerintah, hari itu, dalam ruang pertemuan itu tak ada satu orang pun yang mampu menjawab. Bahkan dengan iming-iming bingkisan coklat batangan kecil yang saya siapkan sebelumnya, tak seorang pun berani mengangkat jari untu menjawab.

Itulah gambaran kecil kita, bangsa Indonesia hari ini. Bagaimana mungkin kita berpendapat tentang pemerintahan ini, ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita, ketika kita sendiri tidak menyadari apa gerangan yang ingin kita capai dalam beberapa waktu ke depan. Artinya, kebanyakan kita memang asal ngomong, asal ngotot, asal terlihat pintar, ketika kita mempermasalahkan sesuatu yang arahnya pun kita tak tahu. Mengapa saya pertanyakan visi kita? Karena setiap proses membutuhkan arah, begitu pun proses bernegara. Burt Nanus pernah menyatakan visi dalam kaitannya dengan organisasi dalam Visionary Leadership : Creating a Compelling Sense of Direction for Your Organization sebagai "a signpost pointing the way for all who need to understand what the organization is and where it intends to go" (Nanus, 1992). Visi ibarat (dan memang) adalah penunjuk arah, yang mencerahkan semua orang tentang posisi kita dan arah yang akan dituju selanjutnya.Bagaimana mungkin kita melakukan perdebatan yang panjang tentang sebuah (proses) perjalanan ketika kita buta akan posisi kita dan arah yang hendak kita tuju?

Hari itu dengan lancar saya ungkapkan visi Indonesia di depan audiens, visi negara yang kita cintai ini dengan berbagai hiasan penjelasan, definisi, pilar-pilar bernegara, dan seterusnya. Mungkin lebih cocok hal seperti itu saya bawakan di depan anggota kursus LEMHANAS, mengingatkan kita pada Penataran P4 yang pernah ada beberapa dasawarsa lalu. Saya ingin audiens hari itu menyadari bahwa ngomong memang gampang, tapi ngomong yang bener yang bisa dipertanggungjawabkan itu susah. Berkata-kata memang mudah, tetapi mampukah kita menepati ucapan-ucapan kita, bisakah kita meletakkan dasar yang kokoh untuk setiap perkataan kita? Pada akhirnya kita juga harus bertanya pada diri kita apakah perkataan-perkataan yang kita keluarkan bermanfaat untuk orang lain? Hari itu saya juga bermaksud menanamkan nilai patriotisme dalam diri mereka, seberapa pun kecilnya. Saya ingin meyakinkan mereka bahwa apa pun perasaan kita tentang bangsa dan negara ini, kita harus tetap membela dan memperjuangkan nasibnya. Ya, hari itu saya memang menang, bukan hal yang mengherankan, meskipun juga prihatin atas pemahaman bangsa tercinta ini atas negerinya.

........
Saat saya menulis artikel ini, sebuah panggilan rapat mendesak saya terima. Saya menuju ke ruang yang dimaksud selekas mungkin. Hal "bangsa Indonesia hari ini" pun kembali terjadi ketika kami membahas sebuah topik mengenai penggajian yang disebut-sebut bermasalah di sebuah kantor. Selama sekitar 5 tahun terakhir saya mengikuti berbagai perkembangan hal-ikhwal gaji ini, terlibat di dalamnya, hampir jungkir-balik menopang kehendak peraturan lama yang kemudian diperbaharui pada tahun-tahun terakhir. Ketika saya menjelaskan analisis saya sebagai praktisi, suara ngotot dari sebelah saya terdengar. Secara pribadi saya ingin menonjok sumber suara itu, bukan sekadar karena selama 5 tahun terakhir saya mengikuti perkembangan hal-ikhwal ini, tetapi juga karena saat ini saya merupakan person in charge untuk urusan gaji-menggaji dengan berbagai kendala aplikasi dan prosedurnya. Sedangkan yang mencoba berpolemik dengan saya setidaknya (kalaupun pernah duduk sebagai PIC) sudah 3 tahun terakhir tidak mengikuti perkembangan itu. Duh, beginilah bangsa kita hari ini; menyukai polemik, menggemari perdebatan, dan suka berkonfrontasi. Kalau kita tak mampu berubah, kapan kita bisa menjadi bangsa yang unggul??? Indeed, talk is cheap...!!! Hopefully, it's not of me.



Putri, Berkah Untuk Semua

Belum reda euforia atas kemenangan Tim Nasional Sepakbola kita di ajang SEA Games XXXII Cambodia, kini bangsa Indonesia kembali dibuat bangg...