Saturday, January 30, 2010

Para Paripurna [Online With Sang Khaliq]

L’art pour l’art… seni untuk seni, yang mulai dikenal sejak 2 abad lalu ini tampak tidak relevan dan tidak akan pernah dipakai oleh segolongan orang yang mendedikasikan segalanya untuk suatu alasan yang lebih besar.

Bait-bait syair dalam lagu ini tentu tidak didesikasikan sekadar untuk memuaskan jiwa terhadap keindahan. Dalam lagu ini, sang penggubah, Ustadz Jeffrey Al-Buchari mengungkapkan kegelisahan batin seorang hamba atas morat-maritnya kehidupan. Sangkin morat-maritnya, kita kadang tidak lagi mampu melihat dan membedakan dengan jelas antara putih dan hitam, kebaikan dan kejahatan. Kendatipun demikian, namun pada dasarnya hati selalu terikat kerinduan atas Sang Khaliq, dan hal ini begitu terasa ketika kita dihadapkan pada kesunyian, “Kumenatap dalam kelam, tiada yang dapat kulihat, selain hanya nama-Mu yaa Allah…”.

Pribadi yang peka terhadap lingkungan akan didera kekhawatiran ketika merasakan absurditas kehidupan. Begitu banyak ujian, tantangan, dan pertentangan dalam hidup yang membuat seorang hamba merasa takut kalau-kalau ia telah dan/atau akan salah dalam menyikapi semua itu. Sebuah pengakuan bahwa diri begitu rendah dan lemah di depan Sang Pencipta, dan hanya DIA yang mampu membimbing manusia menuju keputusan-keputusan yang senantiasa benar. Masalah kehidupan juga membuat manusia begitu mudah tergelincir dari konsepsi ihsan, “bahwa kita mengabdi kepada-NYA seolah-olah kita melihat-NYA, dan jika pun kita tak mampu melihat-NYA, sesungguhnya IA selalu melihat kita”. Rasa yang wujud dalam hati bahwa diri selalu di bawah pengawasan-NYA ini, bagi manusia-manusia utama, akan selalu melekat. Mereka benar-benar selalu online dengan Sang Pemilik Sejati, sebagaimana kabel telepon yang mengantarkan suara dan data lain dari “dua kutub berjarak”. Dengan IHSAN ini pribadi-pribadi utama itu terjaga dari kesalahan, ma’shum, penglihatannya terhadap lingkungan selalu jernih dan peka.

Morat-maritnya lingkungan merupakan siksaan yang berat, satu hal yang selalu menjadi bahan ketidaknyamanan hati, alasan besar yang membuat mereka mengasingkan diri jika merasa tak mampu lagi untuk mengubahnya. Itulah fitnah bagi mereka, sesuatu yang terus-menerus menggempur kejernihan pikiran dan perasaan. Hati mereka yang sejernih air pegunungan seolah-olah dipaksa bercampur dengan minyak yang kalis lagi panas membakar. Berangkat dari kesadaran bahwa hanya DIA yang mampu mendamaikan hati, bahwa hanya DIA-lah tempat menyandarkan segala harapan dan pinta, mereka ber-uzlah, mengasingkan diri untuk “hanya bersama Sang Kekasih”. Dengan begitu mereka memiliki waktu yang akan terus menjaga kemurnian pikiran dan perasaan, senantiasa menjaga kadar kepercayaan, ketaatan, dan menghindarkan dari larangan.

“Ampuniku yaa Allah, yang sering melupakan-MU…”, menyiratkan adanya waktu saat “kabel ihsan” mungkin terputus, dan bagi mereka putusnya kabel ini adalah sebuah kelalaian, meski terjadi hanya sekejap. Bagi insan paripurna, hal ini merupakan sebuah kehilangan yang begitu berarti, penyesalan, dan kesalahan yang menjadi dasar pertaubatan khusyu’ yang panjang, permohonan ampun yang bagi manusia umum hanyalah satu alasan yang sepele. Bagi mereka, karunia yang sesungguhnya hanyalah ridha Allah, “senyuman dari Sang Kekasih, lebih dari sekadar karunia terbesar alam kekinian berupa IMAN, ISLAM, dan KESEHATAN. Wallaahu a’lam.

[dari syair Pada-Mu Kubersujud, sung by Afgan, composed by Ust. Jeffrey Al-Buchari]



Ku menatap dalam kelam
Tiada yang bisa ku lihat
Selain hanya nama-Mu, Ya Allah...

Esok ataukah nanti
Ampuni semua salahku
Lindungi aku dari segala fitnah...

Kau tempatku meminta
Kau beriku bahagia
Jadikan aku selamanya
Hamba-Mu yang slalu bertakwa...

Ampuniku Ya Allah
Yang sering melupakan-Mu
Saat Kau limpahkan karunia-Mu
Dalam sunyi aku bersujud...
Pada-Mu...



No comments: