Wednesday, May 20, 2009

Cintai Pekerjaan, atau Tinggalkan…



Jam di dinding kantor itu sudah menunjukkan pukul 23.00 WITA, punggung para pemuda itu bercucuran keringat, dan wajah mereka belepotan serbuk halus kayu yang sedang mereka potong dan mereka amplas. Tidak tersirat rasa jenuh di wajah mereka yang tenggelam di antara meja-meja dan kursi kantor. Yang terlihat mulai mengantuk mengambil tempat duduk untuk beristirahat sejenak sambil mengamati kawan-kawannya yang masih memotong kayu bahan partisi ruangan. Mereka bukanlah tukang-tukang kayu profesional, mereka bukanlah para pekerja lepas atau orang-orang tanpa pekerjaan pasti. Siapapun yang menyaksikan suasana malam itu pasti menilai mereka sebagai pekerja yang melampaui batas kelaziman jam kerja di wilayah itu. Semua dugaan itu salah, mereka adalah para pegawai Ditjen Perbendaharaan. Orang-orang yang bahkan mungkin belum pernah belajar memasang paku atau menatah dan menggergaji kayu. Sebagian telah bekerja di Marisa, kota kecil yang baru berkembang di provinsi Gorontalo, selama 2 tahun. Sebagian lainnya baru bekerja selama beberapa bulan di kota (kecamatan) yang harus ditempuh sekitar 4 jam dari ibukota provinsi itu.

Apa yang sedang mereka lakukan malam itu dan malam-malam berikutnya?  Membangun kantor! Ya, membangun kantor, membangun “lahan rizki” mereka sendiri. Tidak ada eselonering di waktu-waktu kerja seperti itu, semua berbaur menjadi satu dalam semangat membangun. Tidak ada lagi jabatan kepala kantor, tidak ada lagi jabatan office boy, semua bebas berpendapat, mengeluarkan ide untuk mendapatkan cara terbaik. Jika jenuh mulai mendekat, mereka mengambil raket badminton dan bermain di lapangan belakang kantor. Lapangan yang ternyata juga mereka bangun dengan biaya dan tenaga sendiri di atas lahan parkir kantor! Di sela-sela waktu-waktu santai mereka sering berdiskusi tentang berbagai hal, terutama tentang hal-hal yang sedang dan akan mereka lakukan untuk kantor.

“Mungkin orang lain akan menganggap kita adalah orang-orang yang sok kuat, kelebihan tenaga”, kata salah seorang di antara mereka. “Atau mungkin orang-orang yang berintegritas dan berdedikasi tinggi”, timpal yang lain. “Atau bahkan tidak lebih dari orang-orang tolol!”, celetuk yang lain lagi. Sejenak semua terdiam, mencoba mencerna pernyataan-pernyataan tersebut dengan pikiran mereka masing-masing. “Mereka sesungguhnya tidak tahu. Apapun kata orang, kita harus tetap berpikir positif dan tetap menancapkan harapan terbaik”, seseorang di antara mereka memecah keheningan. “Meski tidak ada penghargaan sedikitpun, setidaknya kita telah mengembangkan diri, siapa tahu setelah kita pensiun bisa menjadi Boss Bas (sebutan untuk kepala tukang di wilayah Gorontalo)…”.”Ha ha ha ha…”, tawa mereka memecah keheningan malam.

Ya, mengembangkan diri, itu yang membuat mereka tetap mengabdi dengan penuh semangat di tempat terpencil. Tidak ada bayaran untuk pekerjaan itu, tidak ada bintang jasa yang mereka harapkan, semua hanya berdasarkan cinta dan keikhlasan semata. Tempat tidak lagi menjadi masalah, semua bergantung pada person-nya, demikian yang akhirnya mereka pahami. Maka tidak heran hari-hari dan malam-malam yang mereka lalui selalu berwarna, selalu padat dengan agenda. Di luar jam kerja, dimulai pukul 17.00 waktu setempat mereka benar-benar sibuk, sibuk dengan jadwal badminton, fitness, sepak takraw, bola basket, memancing, berburu, kumpul-kumpul bakar ikan, dan sebagainya. Malam-malam itu akan mereka tutup dengan kesibukan “nukang” membangun infrastruktur kantor. Kegiatan tersebut baru berhenti tepat tengah malam atau satu-dua jam setelahnya. Tidak ada yang berdiam diri merenungi dan meratapi nasib mereka yang jauh dari keluarga. Hanya kebanggaan atas karsa dan karya yang menyelimuti perasaan mereka.

Marisa memang boleh dibilang daerah terpencil, sepi dan serba kurang. Untuk mencapai kota itu dari Gorontalo orang harus menempuh jarak perjalanan kurang lebih 3 sampai 4 jam. Sekadar untuk mendapatkan air mineral dalam kemasan (galon), perlu perjuangan tersendiri. Begitu pula untuk mendapatkan gas elpiji dalam tabung untuk memasak. Air dari perusahaan daerah tidaklah sejernih yang kita dapati di kota-kota besar. Listrik (PLN) masih “byar-pet” (hidup-mati) dengan jadwal yang tidak menentu. Semua itu dapat mengusik kenyamanan kita jika tinggal di sana. Ketika membutuhkan barang-barang untuk keperluan pribadi maupun kantor yang mendesak dan tidak mereka dapati di sana, mereka harus menuju ibukota Gorontalo untuk berbelanja di akhir pekan. Itulah Marisa. Namun di atas itu semua, sesungguhnya Marisa masih menyimpan banyak potensi yang masih dapat dan harus kita kembangkan. Kemurnian sumber daya alam seperti hasil laut, ikan segar, masih mudah kita dapatkan. Alam dengan udara segarnya mampu menciptakan hobi sekaligus wisata petualangan baru, seperti menelusuri hutan kecil, rawa, dan pematang sawah sambil berburu, atau sekadar memancing di pantai, di tengah laut, bahkan di pulau-pulau kecil sekitarnya, yang nyaris belum pernah kita kenal sebelumnya.

Dari sisi kuliner Marisa memang kurang mendukung lidah para pegawai. Rupa masakan yang tersaji di warung dan rumah-rumah makan di sana didominasi oleh masakan kering, tanpa kuah atau berkuah minim. Sebagian bahan dasarnya adalah makanan berprotein atau dengan kandungan asam amino esensial tinggi seperti daging sapi, ikan, dan udang. Sayur-mayur mudah saja didapatkan di pasar tradisional, namun menu sayuran di tempat-tempat makan itu sangat sulit ditemui. Oleh karena itu memasak sendiri sekali-kali harus dijalani, sekadar untuk mendapatkan pasokan kuah di menu harian. Meskipun Marisa adalah daerah agraris, namun pasokan buah segar juga sangat terbatas. Itulah alasan mengapa kedai-kedai minum berbahan dasar buah-buahan jarang yang beroperasi setiap hari. Tentu saja tidak ada satupun yang beroperasi 24/7, 7 hari seminggu, apalagi 24 jam sehari. Dengan sedikit kreativitas memilih makanan, dengan berbagai kegiatan olahraga rutin, dan di bawah pantauan dokter kontrak, bersyukur para abdi masyarakat di KPPN Marisa itu jarang yang jatuh sakit.

Etos kerja serta kultur masyarakat Gorontalo, khususnya Marisa, membuat kebiasaan para pegawai harus berubah. Toko-toko beroperasi dengan jadwal 9-12/15-21, buka pukul 09.00 sampai 12.00, kemudian tutup selama 3 jam, untuk dibuka kembali dari pukul 15.00 sampai dengan 21.00 waktu setempat. Berbelanja kebutuhan harian pada jam istirahat kantor adalah hal mustahil. Yang beroperasi pada jam-jam itu hanyalah warung-warung nasi. Hal ini juga berlaku untuk pekerja lepas yang beroperasi di siang hari, termasuk tukang kayu dan tukang batu. Jam kerja mereka adalah 9-12/15-18. Karena alasan inilah para pegawai harus menyingsingkan lengan baju, turun tangan sendiri untuk membangun kantor agar sesuai jadwal yang telah ditetapkan. “Bagaimana kalau kita mengerjakannya sendiri, sudah 3 hari ini para pekerja belum menampakkan hasil sesuai harapan kita”, sebuah ide muncul. “Baiklah, kita akan mengerjakannya setelah jam kerja usai”. Kesepakatan untuk membangun sendiri partisi kantor pun timbul di antara Kepala Kantor dan para pegawai.

KPPN Marisa adalah pemegang Peringkat Terbaik III dalam Penilaian LKPP Tingkat Kuasa BUN KPPN Tahun 2007. Penghargaan itu diserahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan kepada Bapak Ruslan Affandi selaku Kepala KPPN definitif pertama KPPN Marisa dalam Rapat Pimpinan Direktorat Jenderal Perbendaharaan di Jakarta pada tanggal 18 – 20 November 2008. Kini di bawah kepemimpinan kepala kantor kedua, karya KPPN Marisa tidak berhenti, tidak ada istilah berpuas diri dan terbuai oleh prestasi yang telah diraih tersebut. Setiap hari adalah proses pembelajaran, baik untuk para pegawai maupun mitra kerja. Pelayanan terus diperbaiki dan ditingkatkan dengan mengadopsi Standard Operating Procedure KPPN Percontohan. Meskipun secara de jure belum ada penetapan KPPN Marisa sebagai KPPN Percontohan, namun alur dan metode kerja telah dilaksanakan. Hasil pemikiran dan karya kepala kantor terdahulu tetap dijaga dengan baik. Kerja sama dan tukar-pikir dengan KPPN Gorontalo sebagai “saudara kandung” berlangsung dengan manis. Bimbingan Kanwil XXVI membuat kinerja KPPN Marisa terarah dengan baik.

Partisi yang menegaskan ruang batas antarseksi itu kini telah selesai. Hasilnya pun sama sekali tidak mengecewakan, sulit untuk membedakannya dengan karya tukang kayu professional. Namun karya mereka tidak berhenti sampai di sana, setidaknya masih ada 2 ide lain yang harus segera mereka realisasikan; membangun ruang serba guna dan Lapangan volleyball. Ruang serba guna itu direncanakan untuk menjadi ruang pertemuan, sekaligus ruang sosialisasi, ruang belajar-mengajar, dan diharapkan juga dapat difungsikan sebagai ruang hiburan jika memang diperlukan. Sedangkan lapangan volleyball akan difungsikan juga sebagai lapangan badminton dan basketball mini, menggantikan lapangan olahraga yang sekarang dimiliki. Wajah para pegawai itu tetap berseri, tubuh-tubuh mereka bahkan terlihat lebih sehat dan prima daripada waktu-waktu sebelumnya. Berusaha mencintai tempat dan tanggung jawab telah membuat mereka mampu bertahan tanpa keluhan. Tidak terdengar gagasan mereka untuk mengakhiri karir mereka di tempat itu, setidaknya hingga hari ini. Yang mereka tunjukkan adalah rasa cinta terhadap pekerjaan, seperti kutipan syair karya Kahlil Gibran dalam buku Sang Nabi ;

Bekerjalah dengan cinta… Jika engkau tidak dapat bekerja dengan cinta, lebih baik engkau meninggalkannya... Dan mengambil tempat di depan pintu gerbang candi-candi, Meminta sedekah kepada mereka yang bekerja dengan penuh suka dan cita...”.
[SP]



Tuesday, May 12, 2009

Suatu Malam di Metropolis

Kenyataan yang saya lihat malam itu sangat bertolak belakang dengan contoh yang pernah saya baca dari sebuah buku karya Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie. Tulisan tentang pengejawantahan dari yang kita sebut sebagai “masyarakat madani”. Orang-orang boleh menekuni beragam profesi, namun semua memiliki kemampuan membeli (dan tentunya menikmati) sarana dan produk yang tersedia. Kalau tak salah ingat, beliau menyajikan sebuah contoh seorang majikan dengan sopirnya. Ketika mereka menuju suatu pusat perbelanjaan, sang sopir pun berbelanja seperti halnya sang majikan. Keluar dari sana, baik sang sopir maupun sang majikan sama-sama saling memberi cindera mata. Tidak ada perbedaan signifikan atas daya beli keduanya meskipun berada pada kutub strata yang berbeda. Mereka saling menghargai, saling memberi, dan saling membantu penghidupan masing-masing. Akankah hal itu menjadi nyata di negeri ini, atau akan tetap sekadar menjadi utopi?

Dari atas kendaraan saya menoleh ke sana ke mari mengamati malam Minggu yang cerah dan terasa agak panas. Mobil-mobil mewah berseliweran memadati jalan protokol di antara lampu warna-warni yang menghiasi malam di metropolis. Malam Minggu itu adalah pertemuan kedua saya dengan anak-istri setelah hampir 4 bulan terakhir tidak berjumpa. Kerinduan selama di tempat tugas yang baru berangsur hilang setelah menciumi wajah ceria putri kedua saya yang ikut menjemput. Istri saya pasti telah membesarkannya dengan baik… Senyumnya terlihat masih malu-malu setelah sekian lama kami tak bersua. Makin pintar saja, simpulanku melihat tingkahnya. Tapi rasanya masih ada yang kurang…, minuman jus alpuket dan stroberi segar kesukaan saya belum lagi saya nikmati. Dalam perjalanan dari bandara ke rumah itu, kami pun singgah di warung jus langganan. Parkir di salah satu sudut pertigaan di samping warung, saya amati lagi ruas jalan protokol sambil menunggu anak-istri yang sedang membelikan minuman favorit.

Kian hari kian ramai saja kota ini, pikirku dalam hati. Seorang tukang becak di sudut jalan seberang saya tampak sedang bersantai di atas “kendaraan dinas”nya menanti pelanggan. Sebuah keadaan yang agak kontras, sungguh disayangkan. Menyapu pandangan ke depan, tiba-tiba mata saya terpaku pada jarak sekian meter. Tak jauh dari tempat saya terlihat seorang lelaki bertopi khas dengan kaos krem kusam sedang celingukan ke kanan-kiri. Mungkin ia ingin menyeberang jalan, pikir saya semula. Menengok sedikit ke bawah, terlihat sebuah pikulan di antara dua kotak kayu berukuran sedang berada di depannya. Dari kotak yang sebelah kanan remang-remang dapat saya baca sebuah tulisan ala kadarnya, “Kupat Gule”! Ya Robbi…, apakah sedemikian besar jarak yang terbentang antara dia dan mereka…? Ternyata ketika kita sibuk ke sana ke mari menikmati malam-malam Minggu ceria, masih banyak saudara-saudara kita lainnya yang harus tetap bekerja bercucuran keringat mengais rejeki. Lalu kapan mereka memiliki waktu luang untuk sejenak bersenang-senang bersama keluarga masing-masing? Pikiran saya mengembara, mempertanyakan kenyataan yang terpampang di depan mata.

Saya jadi teringat ketika suatu hari saya dibuat cukup “trenyuh” oleh puteri pertama saya yang sedang belajar naik sepeda. Di usia ketiga ternyata ia menginginkan sepeda yang lebih besar daripada sepeda roda tiga yang kini dimilikinya. Waktu menjelang maghrib, dengan semangat 45 ia tetap mengayuh sepeda yang berdiri di atas standar ganda. “Papi, Mba Al bisa naik sepeda…”, teriaknya. Kakak misannya sigap berjaga-jaga kalau-kalau sepeda oleng dan putri saya jatuh. Saya tetap duduk di beranda rumah mengamatinya hingga saya pun larut dalam rasa haru. Semangatnya begitu besar untuk bisa naik sepeda seperti kakak-kakak misannya. “Papi, Mba Al bisa naik sepeda…”, teriaknya sebentar-sebentar sambil sekali-sekali kakinya terpeleset dari pedal. Mungkin ada sekitar setengah jam ia terus mengayuh seolah-olah sedang berpacu dalam rally yang cukup jauh. Adzan maghrib pun berkumandang, namun puteri kecil saya masih tetap bersemangat mengayuh sepeda mini milik kakak misannya itu. Meski sepeda mini, namun ukuran sepeda itu masih terlalu besar untuknya. Dengan ragu dan rasa haru saya pun terpaksa harus membujuknya berhenti. “Aku HARUS segera membelikannya sepeda yang cocok, atau aku akan mematikan semangatnya!”, bisik hati kecilku.

Selang berapa hari saya mengajaknya ke toko sepeda, dan membelikannya sebuah sepeda kecil model terbaru, setidaknya demikianlah menurut sang pemilik toko. Betapa riangnya ia mendapatkan sepeda baru. Sepeda kecil dengan dua roda jaga mengapit roda belakang, janji hati saya pun tunai sudah. Seolah merasa sudah bisa bersepeda, hari itu ia terus bersikeras memacu sepeda ke jalan aspal di depan rumah. Alhamdulillah pada saat itu saya masih menyimpan sedikit uang di rekening tabungan. Namun bagaimana halnya dengan sang penjual kupat gulai jika menghadapi situasi yang sama? Mampukah ia dengan penghasilan hariannya melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan? Jika tidak, ia pasti akan menanggung beban perasaan yang sedemikian berat. Saya yakin tiap orang tua ingin mewujudkan permintaan anak-anaknya. Rasa iba muncul dalam hati saya, berbagai pikiran tentang ketimpangan ini terus hilir-mudik. Apa yang salah dengan pola pembangunan kita selama ini? Ah, andai saja orang-orang di atas mobil-mobil mewah itu sudi membantunya… Ah, andai aku bisa membantunya… Kapan semua orang dalam masyarakat kita bisa menikmati malam minggu yang ceria bersama keluarga?

Kucoba mengira-ngira seberapa jauh jarak yang harus ia tempuh setiap malam demi menghidupi keluarga. Kucoba menghitung seberapa banyak uang yang berhasil dikumpulkannya setiap malam. Tak banyak, saya kira, jauh lebih kecil daripada “dana suka-suka” yang sering saya keluarkan di akhir pekan, atau setiap masuk pusat perbelanjaan. Kalaupun ia mendapatkan banyak uang, apakah sebanding dengan cucuran keringatnya? Diam-diam rasa kagum muncul dalam hati. Betapa mulianya lelaki itu. Semakin banyak anggota keluarga yang ia hidupi, semakin mulialah perjuangannya. Ya, semakin kasar pekerjaan seseorang, sedangkan ia semakin sabar menjalaninya, bagiku lebih mulialah ia. Saya yakin Sang Kuasa pasti mencintainya, semua makhluk di bumi akan menyayanginya, dan semua makhluk di langit tentu akan sangat menghormatinya.

Lamunan saya pun berakhir setelah terdengar seruan anak saya yang baru keluar dari warung. “Let’s go, papi…”, senada suara Dora, tokoh kartun anak-anak kesukaannya sejak bayi. Bundanya menenteng beberapa tas plastik berisi jus yang saya tunggu-tunggu. “Yang itu apa?”, Tanya saya kepadanya ketika melihat bungkusan lain. “Nasi goreng seafood sama nasi goreng ayam. Makanan di rumah tadi udah abis…”, lanjutnya tanpa saya tanya. “Terima kasih, Ya Allah, atas semua karunia-Mu selama ini”, bisik lirih saya dalam hati. Lelaki itu sudah tak tampak lagi dari pinggir jalan di depan. “Ah, andai saat ini dia masih ada, kuminta istriku membeli sedikit dagangannya…”, bisik lirih hati kecil saya. Saya pun memacu kendaraan dengan penuh kesyukuran dalam hati sambil menciumi kepala puteri kecil kami. Andai kita semua bisa lebih peduli... [TTSM, McPrie]