Tuesday, May 12, 2009

Suatu Malam di Metropolis

Kenyataan yang saya lihat malam itu sangat bertolak belakang dengan contoh yang pernah saya baca dari sebuah buku karya Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie. Tulisan tentang pengejawantahan dari yang kita sebut sebagai “masyarakat madani”. Orang-orang boleh menekuni beragam profesi, namun semua memiliki kemampuan membeli (dan tentunya menikmati) sarana dan produk yang tersedia. Kalau tak salah ingat, beliau menyajikan sebuah contoh seorang majikan dengan sopirnya. Ketika mereka menuju suatu pusat perbelanjaan, sang sopir pun berbelanja seperti halnya sang majikan. Keluar dari sana, baik sang sopir maupun sang majikan sama-sama saling memberi cindera mata. Tidak ada perbedaan signifikan atas daya beli keduanya meskipun berada pada kutub strata yang berbeda. Mereka saling menghargai, saling memberi, dan saling membantu penghidupan masing-masing. Akankah hal itu menjadi nyata di negeri ini, atau akan tetap sekadar menjadi utopi?

Dari atas kendaraan saya menoleh ke sana ke mari mengamati malam Minggu yang cerah dan terasa agak panas. Mobil-mobil mewah berseliweran memadati jalan protokol di antara lampu warna-warni yang menghiasi malam di metropolis. Malam Minggu itu adalah pertemuan kedua saya dengan anak-istri setelah hampir 4 bulan terakhir tidak berjumpa. Kerinduan selama di tempat tugas yang baru berangsur hilang setelah menciumi wajah ceria putri kedua saya yang ikut menjemput. Istri saya pasti telah membesarkannya dengan baik… Senyumnya terlihat masih malu-malu setelah sekian lama kami tak bersua. Makin pintar saja, simpulanku melihat tingkahnya. Tapi rasanya masih ada yang kurang…, minuman jus alpuket dan stroberi segar kesukaan saya belum lagi saya nikmati. Dalam perjalanan dari bandara ke rumah itu, kami pun singgah di warung jus langganan. Parkir di salah satu sudut pertigaan di samping warung, saya amati lagi ruas jalan protokol sambil menunggu anak-istri yang sedang membelikan minuman favorit.

Kian hari kian ramai saja kota ini, pikirku dalam hati. Seorang tukang becak di sudut jalan seberang saya tampak sedang bersantai di atas “kendaraan dinas”nya menanti pelanggan. Sebuah keadaan yang agak kontras, sungguh disayangkan. Menyapu pandangan ke depan, tiba-tiba mata saya terpaku pada jarak sekian meter. Tak jauh dari tempat saya terlihat seorang lelaki bertopi khas dengan kaos krem kusam sedang celingukan ke kanan-kiri. Mungkin ia ingin menyeberang jalan, pikir saya semula. Menengok sedikit ke bawah, terlihat sebuah pikulan di antara dua kotak kayu berukuran sedang berada di depannya. Dari kotak yang sebelah kanan remang-remang dapat saya baca sebuah tulisan ala kadarnya, “Kupat Gule”! Ya Robbi…, apakah sedemikian besar jarak yang terbentang antara dia dan mereka…? Ternyata ketika kita sibuk ke sana ke mari menikmati malam-malam Minggu ceria, masih banyak saudara-saudara kita lainnya yang harus tetap bekerja bercucuran keringat mengais rejeki. Lalu kapan mereka memiliki waktu luang untuk sejenak bersenang-senang bersama keluarga masing-masing? Pikiran saya mengembara, mempertanyakan kenyataan yang terpampang di depan mata.

Saya jadi teringat ketika suatu hari saya dibuat cukup “trenyuh” oleh puteri pertama saya yang sedang belajar naik sepeda. Di usia ketiga ternyata ia menginginkan sepeda yang lebih besar daripada sepeda roda tiga yang kini dimilikinya. Waktu menjelang maghrib, dengan semangat 45 ia tetap mengayuh sepeda yang berdiri di atas standar ganda. “Papi, Mba Al bisa naik sepeda…”, teriaknya. Kakak misannya sigap berjaga-jaga kalau-kalau sepeda oleng dan putri saya jatuh. Saya tetap duduk di beranda rumah mengamatinya hingga saya pun larut dalam rasa haru. Semangatnya begitu besar untuk bisa naik sepeda seperti kakak-kakak misannya. “Papi, Mba Al bisa naik sepeda…”, teriaknya sebentar-sebentar sambil sekali-sekali kakinya terpeleset dari pedal. Mungkin ada sekitar setengah jam ia terus mengayuh seolah-olah sedang berpacu dalam rally yang cukup jauh. Adzan maghrib pun berkumandang, namun puteri kecil saya masih tetap bersemangat mengayuh sepeda mini milik kakak misannya itu. Meski sepeda mini, namun ukuran sepeda itu masih terlalu besar untuknya. Dengan ragu dan rasa haru saya pun terpaksa harus membujuknya berhenti. “Aku HARUS segera membelikannya sepeda yang cocok, atau aku akan mematikan semangatnya!”, bisik hati kecilku.

Selang berapa hari saya mengajaknya ke toko sepeda, dan membelikannya sebuah sepeda kecil model terbaru, setidaknya demikianlah menurut sang pemilik toko. Betapa riangnya ia mendapatkan sepeda baru. Sepeda kecil dengan dua roda jaga mengapit roda belakang, janji hati saya pun tunai sudah. Seolah merasa sudah bisa bersepeda, hari itu ia terus bersikeras memacu sepeda ke jalan aspal di depan rumah. Alhamdulillah pada saat itu saya masih menyimpan sedikit uang di rekening tabungan. Namun bagaimana halnya dengan sang penjual kupat gulai jika menghadapi situasi yang sama? Mampukah ia dengan penghasilan hariannya melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan? Jika tidak, ia pasti akan menanggung beban perasaan yang sedemikian berat. Saya yakin tiap orang tua ingin mewujudkan permintaan anak-anaknya. Rasa iba muncul dalam hati saya, berbagai pikiran tentang ketimpangan ini terus hilir-mudik. Apa yang salah dengan pola pembangunan kita selama ini? Ah, andai saja orang-orang di atas mobil-mobil mewah itu sudi membantunya… Ah, andai aku bisa membantunya… Kapan semua orang dalam masyarakat kita bisa menikmati malam minggu yang ceria bersama keluarga?

Kucoba mengira-ngira seberapa jauh jarak yang harus ia tempuh setiap malam demi menghidupi keluarga. Kucoba menghitung seberapa banyak uang yang berhasil dikumpulkannya setiap malam. Tak banyak, saya kira, jauh lebih kecil daripada “dana suka-suka” yang sering saya keluarkan di akhir pekan, atau setiap masuk pusat perbelanjaan. Kalaupun ia mendapatkan banyak uang, apakah sebanding dengan cucuran keringatnya? Diam-diam rasa kagum muncul dalam hati. Betapa mulianya lelaki itu. Semakin banyak anggota keluarga yang ia hidupi, semakin mulialah perjuangannya. Ya, semakin kasar pekerjaan seseorang, sedangkan ia semakin sabar menjalaninya, bagiku lebih mulialah ia. Saya yakin Sang Kuasa pasti mencintainya, semua makhluk di bumi akan menyayanginya, dan semua makhluk di langit tentu akan sangat menghormatinya.

Lamunan saya pun berakhir setelah terdengar seruan anak saya yang baru keluar dari warung. “Let’s go, papi…”, senada suara Dora, tokoh kartun anak-anak kesukaannya sejak bayi. Bundanya menenteng beberapa tas plastik berisi jus yang saya tunggu-tunggu. “Yang itu apa?”, Tanya saya kepadanya ketika melihat bungkusan lain. “Nasi goreng seafood sama nasi goreng ayam. Makanan di rumah tadi udah abis…”, lanjutnya tanpa saya tanya. “Terima kasih, Ya Allah, atas semua karunia-Mu selama ini”, bisik lirih saya dalam hati. Lelaki itu sudah tak tampak lagi dari pinggir jalan di depan. “Ah, andai saat ini dia masih ada, kuminta istriku membeli sedikit dagangannya…”, bisik lirih hati kecil saya. Saya pun memacu kendaraan dengan penuh kesyukuran dalam hati sambil menciumi kepala puteri kecil kami. Andai kita semua bisa lebih peduli... [TTSM, McPrie]





No comments: