Tuesday, December 23, 2014

Tentang Komunikasi Yang Salah

Notes : [Untuk anak-anakku tersayang, kelak, in syaa Allah...]
Repost dari laman KARTUN MUSLIMAH on facebook
Semoga perlindungan ALLAH senantiasa menyertai!
(klik gambar terbawah untuk melihat post asli)
A'udzubillaahi minas syaithanir rajiim...
-----------------------------------------------------------------------------------------

Katanya ga ada perasaan apapun, tapi giliran si akhi nikah atau deket sama akhwat lain... sakitnya tuh disini! Nah loh?

Witing Tresno Jalaran Soko Kulino (cinta tumbuh karena terbiasa)

Q: Terbiasa apa?

A: Apa saja, yang utama tentu saja komunikasi, baik offline maupun online

Q: Memangnya kita tidak boleh menjalin komunikasi dengan lawan jenis?

A: Bukannya tidak boleh, tentu saja hal ini diijinkan jika memang ada kepentingan tertentu, namun kita harus berhati-hati sebab benih cinta dapat tumbuh kapan saja jika kita tidak membentengi diri...meskipun via online yang tak berjumpa secara langsung

Q: Bagaimana cara membentengi diri dalam komunikasi yang dimaksud?

A: Nah, kali ini Kartun Muslimah akan berbagi tips komunikasi elektronik ( terutama media teks spt SMS, FB, WA, dll) yang syar’i dengan lawan jenis :
  1. Tidak menggunakan emote apapun ( misal :’( :-D :-( apalagi ;-) atau <3> GUBRAK!
  2. Tanpa ungkapan tawa “hahaha” “hihihi” “hehehe” “wkwkwk” dan sejenisnya
  3. Kata2nya tidak usah dipanjangkan (misal “okeeee” “iyaaaaa” “haaaaaah?” “waaaaww” atau “istimewaa”)
  4. Isi pesan langsung TO THE POINT, pembukaan dan penutupan yang hanya berupa salam sangat dianjurkan
  5. Tidak ada lelucon atau apapun yang mengundang tawa
  6. Tidak berkomunikasi lewat jam malam, supaya aman, paling malam sampai pukul 8 malam saja ya ukhti
  7. Tidak mengungkit masalah pribadi di tengah bahasan (meskipun itu hanya: “maaf baru bales, tadi baru dari warung”, atau ““maaf baru liat HP, baru selesai nyuci, setelah itu ngerjain tugas dan ketiduran sebentar”. Kecuali jika memang ditanya, itu pun cukup jawab seperlunya, jangan berlebihan apalagi sampai curhat~)
Intinya, lakukan komunikasi dengan sesingkat dan sewajar mungkin, makin datar makin baik, karena menutup celah hadirnya setan di tengah-tengah kalian

Q: Bagaimana kalau ikhwannya jadi ga nyaman karena terlalu datar? Kita kan harus menjaga silaturahim?

A: silaturahim, ukhuwah, itu ada batas-batasnya.Tugas kita adalah menjaga kehormatan diri kita dan mereka. Karena yang kita lakukan insyaAllah sudah berunsur syar’i, yang Allah sukai, maka perkara perasaan mereka, itu bukan lagi urusan kita...

Ada lagi yang punya tips komunikasi syar’i? Silakan..
Wallaahu a’lam bish showaab

[https://www.facebook.com/DakwahMuslimah/photos/a.465219523598838.1073741825.465045926949531/709162395871215/?type=1&permPage=1]




Thursday, December 18, 2014

THE HUGE GUY WHO TOOK MY MOM

illustration taken from wattpad.com
As my mother passed away couple years ago, there has always been a big question mark lingering in my mind as to what exactly had happened that morning in our kitchen. Why had she been suffocated and collapsed at that moment? In the extent of my knowledge on Mom, there has been an elaboration that she had seen a very extra-ordinary thing (or creature) and hence had experienced a tremendous emotions which her mind itself couldn't have handled.That was the moment which every living being would surely pass through, the call of death. It's The Angel Azrael, the huge guy, who fiercely reclaims each and every single soul on their very time to be escorted into The Judgement Day, just before their GOD!

Fly me up to where you are beyond the distant star,
I wish upon tonight to see you smile,
If only for a while to know you're there,
A breath away's not far to where you are,


To know you're there,
A breath away's not far to where you are....



(Be Right Back, perhaps...)

Tuesday, December 9, 2014

KEPEMIMPINAN (III) - QUDWAH :
Menjadi Pengikut pun Ada Aturannya

Achtung : Tulisan ini sepenuhnya adalah buah pikiran penulis, tidak dimaksudkan sebagai tafsir Kitab terkait. Jika terdapat kesalahan-kesalahan dalam tulisan ini maka merupakan keterbatasan raihan akal penulis pribadi. Buah pikiran ini sekadar merupakan satu dari sekian banyak upaya penulis untuk memperbaiki diri, upaya agar dapat menapaki arus kehidupan ini dengan lebih baik. Akan diperbaiki seperlunya jika terjadi kesalahan baik pada tulisan ini maupun diri penulis pribadi. Terima kasih.


Selama ini kita terlalu bersemangat untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi kepemimpinan hanya dari sisi pemimpin dan seni memimpin. Kita hampir lupa bahwa dalam setiap kepemimpinan setidaknya selalu ada 2 komponen yang menyebabkan lahirnya entitas tersebut, yaitu adanya PEMIMPIN dan YANG DIPIMPIN (Pengikut).

Adalah agama, yang membuat penulis memiliki referensi tambahan yang sering menjadi titik awal dan/atau akhir bagi penulis dalam melahirkan berbagai ragam pemikiran. Indah, komprehensif, begitulah agama ini telah tercipta. Tak terkecuali masalah kepemimpinan, hal yang tampaknya telah menjadi disiplin ilmu tersendiri dalam dunia modern, manajemen. Penulis biasa menyandingkan sebuah gagasan dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam sumber hukum agama tauhid ini. Mengkiaskan sesuatu dengan ketentuan-ketentuan atau buah pikiran para ahli ilmu adalah hal yang dapat mendatangkan manfaat yang tak ternilai.

Adalah Safinah Najah (Perahu Keselamatan) atau Safinat Al-Najat, lengkapnya Safinatun Najah Fiima Yajibu 'Ala Abdi Li Maulah -Bahtera Keselamatan Pada Kewajiban-Kewajiban Seorang Hamba Terhadap Tu­hannya, sebuah kitab kecil kontemporer (kitab kuning) yang disusun oleh Syaikh Salim Al-Hadhrami, kitab populer yang banyak membantu muslimin menjalankan kewajiban. Sesuai namanya, Kitab Safinah ibarat sebuah kapal yang mengantar orang-orang ke pulau impian di seberang lautan dengan selamat. Ia merupakan kitab yang membantu banyak orang untuk menjalankan kewajiban secara berhati-hati (prudential shari'a practices), menyentuh hukum-hukum dasar dalam beragama sehingga disukai dan dipegang oleh banyak orang khususnya dalam madzhab Syafi'i. Di pesantren-pesantren dan majelis, kitab ini masih menjadi salah satu kitab dasar yang diajarkan.

Adalah pada Bagian II dari Kitab tersebut, Shalat, yang penulis pegang untuk mengkiaskan kepemimpinan dengan tendensi dari sisi Yang Dipimpin (Pengikut), atau dalam konteks hukum Islam disebut sebagai makmum/ma'mum. Pada bagian ini ada sebuah bab yang membahas tentang qudwah, yaitu mengikuti seorang pemimpin (imam) atau menjadi pengikut dalam rangka shalat berjamaah. Terjemahan bebasnya adalah sebagai berikut (klik gambar di akhir tulisan ini untuk membaca teks aslinya) :
 
Syarat mengikuti seseorang (menjadi makmum) ada 11, yaitu :
1). Harus tidak mengetahui bahwa shalat imam batal, baik karena hadats atau hal lainnya 2). Tidak boleh menganggap bahwa shalat tersebut harus diulang (karena tidak sah) 3). Imam sedang tidak menjadi makmum (dari yang lain) 4). Tidak pula (imam tersebut adalah) ummiy (tidak bisa membaca dan menulis atau pun tidak fasih dalam qira'at) 5). Makmum tidak boleh berada lebih di depan daripada Imam dalam hal tempat 6). Makmum harus mengetahui perpindahan Imam (rangkaian gerakannya) 7). Imam dan makmum harus berkumpul dalam satu masjid atau kira-kira 300 dzira’ (bila di luar masjid*) 8). Makmum harus berniat mengikuti Imam atau berjamaah 9). Shalat yang dikerjakan Imam dan makmum harus sama (termasuk urutannya) 10). Makmum tidak berselisih atas hal-hal sunnah yang dikerjakan Imam, yang kelihatan buruk jika menyelisihinya 11). Makmum senantiasa harus mengikuti Imam (tidak mendahului).
*) Jarak 300 dzira' lebih kurang adalah 144 meter.

Dalam konteks kepemimpinan dalam organisasi bahkan dalam konteks organisasi terkecil, keluarga, tampaknya aturan ini tetap aplikatif. Penulis ingin menjelaskan secara sekilas kiasan kepemimpinan menurut konteks ini sebagai berikut :

1. Harus tidak mengetahui bahwa shalat imam batal, baik karena hadats atau hal lainnya
Seorang pengikut harus meyakini pemimpinnya, bahwa pemimpin tersebut melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar, sesuai tuntutan tugas dan aturan yang berlaku. Seorang pemimpin haruslah shidiq (benar), kalaupun memang melakukan penyelewengan, hal tersebut merupakan tindakan personal dan berada di luar pengetahuan orang-orang yang dipimpinnya. Siapa pun yang mengetahui adanya kejahatan yang dilakukan pemimpin maka ia harus mengingatkan hal tersebut, atau ia tak layak lagi untuk mengakui dan mengikutinya sebagai pemimpin.

2. Tidak boleh menganggap bahwa shalat tersebut harus diulang (karena tidak sah)
Jika kesalahan atau penyelewengan yang tersebut pada butir pertama di atas terjadi, atau jika seorang pengikut menganggap (ber-i'tiqad) bahwa organisasinya tidak legitimate maka qudwah-nya adalah sia-sia. Ia tidak dapat mengikuti pemimpinnya, dan jika semua orang memiliki anggapan demikian maka robohlah arti yang melekat pada organisasi tersebut. Seorang pemimpin haruslah amanah (terpercaya), dan orang-orang yang mengikuti harus yakin bahkan ia memang sedang berada di bawah kepemimpinan yang terpercaya dan akan mampu membawa organisasi ke arah kemajuan. 

3. Imam sedang tidak menjadi makmum (dari yang lain)
Seorang pemimpin adalah seorang yang original, orang yang benar-benar memiliki karakter dan visi sendiri, bukan pengekor. Seorang pemimpin haruslah fathonah (cerdas), memiliki lebih banyak unsur-unsur intelegensi daripada orang-orang yang dipimpinnya. Jika pemimpin tidak lebih daripada seorang bodoh atau pengekor dari sebuah mainstream maka jangan harap organisasi dapat maju dan berkembang. Mengikuti pemimpin tanpa originalitas seperti dimaksud adalah sia-sia.

4. Imam tidak pula ummiy, buta huruf (atau tidak fasih)
Seorang pemimpin haruslah tabligh (mampu menyampaikan atau melahirkan sesuatu), dan untuk itu ia harus mawas, tidak buta dengan keadaan sekelilingnya. Ibarat supir, ia harus mengetahui apa yang ada di sekeliling kendaraannya, mampu membaca tanda-tanda jalan sehingga tidak akan menyebabkan kendaraan yang dibawanya mengalami kecelakaan. Seorang pemimpin harus mampu membawa organisasinya maju dan tidak menempatkannya dalam krisis dan kehancuran.

5. Makmum tidak boleh berada lebih di depan daripada Imam dalam hal tempat
Dapat kita bayangkan jika seorang pemimpin lebih terbelakang daripada orang-orang yang dipimpinnya. Bagaimana seorang supir dapat membawa kendaraan dengan baik jika di depannya ada sosok-sosok yang menghalangi? Seorang pemimpin seyogianya memiliki wawasan, perspektif, atau sudut pandang terhadap segala permasalahan yang dihadapi dengan lebih baik daripada siapapun dalam organisasi. Jadi sudah benar jika dalam sebuah organisasi seorang yang memiliki pangkat dan kemampuan lebih rendah dilarang untuk memimpin orang-orang yang memiliki pangkat dan kompetensi lebih tinggi.

6. Makmum harus mengetahui perpindahan Imam (rangkaian gerakannya)
Sebagai orang yang berada di belakang garis kepemimpinan, pengikut harus memiliki kepekaan dalam membaca gagasan dan langkah sang pemimpin. Ia harus dapat menangkap dengan baik visi dan misi yang diemban oleh pemimpinnya dan memberikan dukungan penuh untuk mencapainya. Kabut yang menghalangi pandangan dirinya terhadap pemimpinnya adalah hambatan yang harus disingkirkan agar ia tetap dapat seiring sejalan dengan langkah pemimpinnya.

7. Imam dan makmum harus berkumpul dalam satu masjid
Dalam Kepemimpinan (II) penulis mengungkapkan sebuah esensi bahwa pemimpin yang baik harus mencintai organisasi dan orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya, fokus dan perhatian, serta tidak menyakiti. Dalam persepesi penulis, mencintai organisasi adalah sebuah keharusan dalam berorganisasi. Bagaimana mungkin kemajuan organisasi dapat tercapai jika baik pemimpin maupun orang-orang yang dipimpinnya tidak betah tinggal di dalamnya? Dengan berada dalam sebuah wadah, kesatuan visi maupun persepsi dapat lebih mudah dicapai sehingga langkah yang diambil dapat lebih fokus. Sangat menyedihkan jika orang-orang dalam organisasi terpecah-belah dan tak terkoordinasikan dengan baik, masing-masing mengambil langkah yang berbeda-beda dan jauh dari pencapaian tujuan bersama.

8. Makmum harus berniat mengikuti Imam
Apakah mungkin seseorang memilih seorang sebagai pemimpin namun tidak memiliki tekad yang kuat untuk taat, atau untuk mengikuti perintah-perintah yang diberikan oleh pemimpinnya? Tekad yang kuat dan bulat untuk mengikuti instruksi-instruksi yang diberikan oleh pemimpin yang shidiq, amanah, fathonah, dan tabligh merupakan sebuah modal awal untuk mencapai tujuan organisasi. Dengan tekad tersebut seorang pengikut akan mampu mengendalikan dirinya, mengawal tindakan-tindakannya agar selaras dengan langkah yang diambil pemimpinnya dalam mencapai tujuan bersama.

9. Shalat yang dikerjakan Imam dan makmum harus sama
Jika pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya mengemban visi dan misi yang berbeda, mungkinkah terjadi sinergi? Lalu apa dan di manakah tujuan bersama yang hendak dicapai? Untuk apa organisasi didirikan jika tidak ada tujuan bersama seperti itu? Keselarasan tujuan adalah hal wajib yang harus ada sehingga gerak langkah masing-masing orang tetap berada dalam kendali visi, misi, dan tujuan bersama tersebut. Komunikasi harus terjalin dengan baik sehingga gerak langkah dapat terus terlaksana secara harmonis dalam satu koridor yang sama.

10. Makmum tidak berselisih atas hal-hal sunnah yang dikerjakan Imam
Ini adalah tentang faktor-faktor yang bukan merupakan faktor fundamental dalam organisasi, hal-hal yang sejatinya masih dapat ditinggalkan tanpa menghambat pencapaian tujuan bersama. Meskipun keberadaan unsur-unsur tertentu dalam sebuah organisasi sering kali tidak merupakan sesuatu yang wajib, namun adalah sebuah nilai tambah tersendiri ketika elemen-elemen tersebut dikelola oleh semua pihak dengan baik. Sebagai contoh, sebuah taman bagi kantor bukanlah hal wajib, namun jika memang dibuat sebuah taman yang sejuk dan asri maka orang-orang yang melihatnya akan memberikan nilai yang lebih baik terhadap kantor tersebut. Faktor-faktor tersebut tidak selalu merupakan faktor yang tangiable (berwujud), namun juga dapat berupa faktor intangiable seperti passion para pegawai, kekompakan tim, kedermawanan, dan sebagainya. Situasi paling parah adalah ketika pemimpin membangun taman di depan kantor, namun orang-orang lainnya membangun bak sampah di dekatnya!

11. Makmum senantiasa harus mengikuti Imam
Sebuah organisasi akan hancur jika ada pihak-pihak yang melakukan penyelewengan atau pengkhianatan. Dalam dunia korporasi ada istilah headhunter yaitu pembajakan karyawan kunci atau karyawan potensial perusahaan pesaing. Dalam dunia intelijen kita mengenal yang dinamakan double agent, mole, atau spy (mata-mata) yang menyusup ke dalam sebuah negara, perusahaan, maupun entitas organisasi lainnya. Dalam agama ada yang disebut sebagai riddah, murtad. Dalam keluarga ada yang disebut sebagai cheating, perselingkuhan. Semua hal itu tak lain adalah perilaku seseorang pengikut yang akan menurunkan nilai kepemimpinan dan menghancurkan sebuah wadah bersama yang disebut organisasi. 

Jika kita menilai keadaan diri kita saat ini, kita layak bertanya kepada diri kita masing-masing, sudahkah kita menjadi seorang pengikut yang baik, pengikut yang suportif? Lebih jauh dari itu, sudahkah kita menjadi seorang hamba yang hanif? Allahu a'lam.


(bersambung, mungkin...)



Tuesday, November 25, 2014

Tentang Visi - Talk is Cheap

Setiap hari kita melihat betapa dahsyat arus pemikiran umat manusia menggeliat dengan berbagai aroma dari yang positif inspiratif motivatif, maupun yang negatif provokatif destruktif. Melihatnya, tampak begitu cerdas bangsa kita, begitu majunya bangsa tercinta ini. Berbagai pendapat malang-melintang setiap hari di sekitar kita, yang kita dengar langsung dari orang-orang, yang kita lihat di televisi, yang kita baca di surat kabar, maupun yang kita temui di dunia maya, khusunya memaui jejaring sosial. Ketika kita melihat, mendengar, atau membaca, sebuah pendapat  dari seseorang, ada kalanya kita merasa tak rela, merasa bahwa buah pemikiran tersebut harus diuji kembali. Lebih jauh lagi, kadang kala kita mempertanyakan seberapa berhak mereka mengeluarkan pernyataan atau opini tersebut.

Saya tergelitik untuk menguji keberhakan itu dalam sebuah pertemuan kemarin. Sebuah pertemuan para penghuni ruang birokrasi, para pegawai negeri, tempat paling cocok untuk menguji wawasan kebangsaan warga negara. Saya yakin akan "menang" dalam pengertian dapat membuktikan hipotesis bahwa sebagian besar orang hanya pandai berbicara tanpa dasar yang kuat, atau memang hanya suka berdebat, atau bahkan menyukai perselisihan. Pada prinsipnya, sebagian besar orang memiliki dorongan yang kuat untuk diakui kepandaiannya, atau ingin disebut cerdas. Pertanyaan pertama saya mudah saja, "apa visi Indonesia saat ini?". Terlepas dari derasnya perdebatan tiap hari tentang pemerintahan dan kebijakan pemerintah, hari itu, dalam ruang pertemuan itu tak ada satu orang pun yang mampu menjawab. Bahkan dengan iming-iming bingkisan coklat batangan kecil yang saya siapkan sebelumnya, tak seorang pun berani mengangkat jari untu menjawab.

Itulah gambaran kecil kita, bangsa Indonesia hari ini. Bagaimana mungkin kita berpendapat tentang pemerintahan ini, ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita, ketika kita sendiri tidak menyadari apa gerangan yang ingin kita capai dalam beberapa waktu ke depan. Artinya, kebanyakan kita memang asal ngomong, asal ngotot, asal terlihat pintar, ketika kita mempermasalahkan sesuatu yang arahnya pun kita tak tahu. Mengapa saya pertanyakan visi kita? Karena setiap proses membutuhkan arah, begitu pun proses bernegara. Burt Nanus pernah menyatakan visi dalam kaitannya dengan organisasi dalam Visionary Leadership : Creating a Compelling Sense of Direction for Your Organization sebagai "a signpost pointing the way for all who need to understand what the organization is and where it intends to go" (Nanus, 1992). Visi ibarat (dan memang) adalah penunjuk arah, yang mencerahkan semua orang tentang posisi kita dan arah yang akan dituju selanjutnya.Bagaimana mungkin kita melakukan perdebatan yang panjang tentang sebuah (proses) perjalanan ketika kita buta akan posisi kita dan arah yang hendak kita tuju?

Hari itu dengan lancar saya ungkapkan visi Indonesia di depan audiens, visi negara yang kita cintai ini dengan berbagai hiasan penjelasan, definisi, pilar-pilar bernegara, dan seterusnya. Mungkin lebih cocok hal seperti itu saya bawakan di depan anggota kursus LEMHANAS, mengingatkan kita pada Penataran P4 yang pernah ada beberapa dasawarsa lalu. Saya ingin audiens hari itu menyadari bahwa ngomong memang gampang, tapi ngomong yang bener yang bisa dipertanggungjawabkan itu susah. Berkata-kata memang mudah, tetapi mampukah kita menepati ucapan-ucapan kita, bisakah kita meletakkan dasar yang kokoh untuk setiap perkataan kita? Pada akhirnya kita juga harus bertanya pada diri kita apakah perkataan-perkataan yang kita keluarkan bermanfaat untuk orang lain? Hari itu saya juga bermaksud menanamkan nilai patriotisme dalam diri mereka, seberapa pun kecilnya. Saya ingin meyakinkan mereka bahwa apa pun perasaan kita tentang bangsa dan negara ini, kita harus tetap membela dan memperjuangkan nasibnya. Ya, hari itu saya memang menang, bukan hal yang mengherankan, meskipun juga prihatin atas pemahaman bangsa tercinta ini atas negerinya.

........
Saat saya menulis artikel ini, sebuah panggilan rapat mendesak saya terima. Saya menuju ke ruang yang dimaksud selekas mungkin. Hal "bangsa Indonesia hari ini" pun kembali terjadi ketika kami membahas sebuah topik mengenai penggajian yang disebut-sebut bermasalah di sebuah kantor. Selama sekitar 5 tahun terakhir saya mengikuti berbagai perkembangan hal-ikhwal gaji ini, terlibat di dalamnya, hampir jungkir-balik menopang kehendak peraturan lama yang kemudian diperbaharui pada tahun-tahun terakhir. Ketika saya menjelaskan analisis saya sebagai praktisi, suara ngotot dari sebelah saya terdengar. Secara pribadi saya ingin menonjok sumber suara itu, bukan sekadar karena selama 5 tahun terakhir saya mengikuti perkembangan hal-ikhwal ini, tetapi juga karena saat ini saya merupakan person in charge untuk urusan gaji-menggaji dengan berbagai kendala aplikasi dan prosedurnya. Sedangkan yang mencoba berpolemik dengan saya setidaknya (kalaupun pernah duduk sebagai PIC) sudah 3 tahun terakhir tidak mengikuti perkembangan itu. Duh, beginilah bangsa kita hari ini; menyukai polemik, menggemari perdebatan, dan suka berkonfrontasi. Kalau kita tak mampu berubah, kapan kita bisa menjadi bangsa yang unggul??? Indeed, talk is cheap...!!! Hopefully, it's not of me.



Friday, November 21, 2014

Kembalikan SPM itu!

Akhir tahun ini pola kerja kami mulai terasa berbeda. Kabinet baru yang menghendaki penekanan pengeluaran negara membuat kedatangan instruksi ini dan itu yang intinya penekanan biaya makin kerap. Secara pribadi aku pun setuju dengan penekanan biaya, meskipun penjabaran yang sepotong-sepotong membuat sebagian kalangan ragu untuk mengambil tindakan.

Sebagai orang yang diberi wewenang approval Surat Perintah Membayar untuk 2 kabupaten ini, aku mulai lebih sering me-reject perintah-perintah tersebut. "Jangan pikirkan lagi penyerapan anggaran", kata Bapak-bapak kami di Rapat Pimpinan yang baru lalu. Ok, kita akan lebih selektif, lebih letterlijk dalam memverifikasi Surat Perintah Membayar. Alhasil, Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) dan Surat Persetujuan Pembayaran Tagihan (SPPT) yang keluar dari tanganku akan semakin sedikit.

Aku pun meminta teman-teman Validator dan Reviewer-ku untuk bekerja lebih selektif dan cermat. Kalau bisa, tak ada satu pun surat yang naik ke mejaku yang harus ku-reject lagi. Ini adalah pembelajaran untuk para mitra kerja kita. Mungkin sebelum kehadiranku mereka lebih manja dan/atau dimanja. Bukankah sudah 11 tahun kita mengajari mereka? Jadi pilihan bagi mereka hanya 2 : belajar dan berubah, atau diganti dengan orang lain yang lebih kompeten!

Haruskah kita mengutamakan tuntutan Indeks Kinerja Utama (IKU) yang telah disusun sebelumnya, atau instruksi (Presiden) yang baru? Mudah-mudahan Presiden dan kabinet baru kita benar-benar mengetahui konsekuensi keputusan yang diambil, dan mudah-mudahan juga kompensasinya. Semoga bangsa ini lekas dapat menjadi bangsa yang lebih sehat dan bermartabat. Ya, mudah-mudahan, dan aku tak harus lagi berkata : "Kembalikan SPM itu!".




Saturday, November 15, 2014

KEPEMIMPINAN (II)

Saat ini ada 2 keresahan ketika 'ku berpikir tentang kantor, kantor yang baru saja kutinggalkan dan kantor yang baru kutempati.

Jika berpikir tentang kantor lama, ketidakyakinan muncul ketika melihat kepemimpinan yang ada. Di saat-saat terakhir aku berada di sana, kulihat kecenderungan yang tidak semestinya. Yang kuharap dari setiap pimpinan baru adalah hal-hal seperti ini :
  1. bertanya tentang gagasan-gagasan yang sebelumnya muncul dan belum terealisasi;
  2. menganggap kantornya adalah rumahnya, rumah bagi dirinya & keluarganya (yaitu pasukannya, orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya);
  3. mencintai kantor dan isinya, tidak terlalu sering meninggalkan kantor dan pasukannya, memperhatikan kesejahteraan setiap orang;
  4. fokus terhadap orang-orang di sekitarnya, pasukannya, kantornya, bukan fokus pada pihak-pihak di luar lingkaran itu;
  5. menerima masukan setiap orang dengan hati terbuka, sebagai keluarga, tanpa prasangka buruk, apalagi sampai menyakiti hati mereka.
Teringat kembali masa-masa kejayaan KPPN Marisa dulu ketika Bapak kita, Direktur Jenderal Perbendaharaan, pun sudi mengunjungi kami di tahun 2009. Memang kami saat itu bekerja keras, pimpinan kantor sangat menghargai kantor sebagai rumah kami semua, rumah yang juga terbuka untuk siapa saja. Kualitas-kualitas seperti tertulis di atas telah beliau praktikkan dengan penuh semangat dan tulus. Dan ketika beliau harus meninggalkan rumah kami itu pun isak tangis pecah. Tidak perlu banyak orang untuk melakukan perubahan. Cukup dimulai dengan 3 orang visioner yang akan mengajak semua orang bergerak, dan saat itu memang demikian keadaannya. Sekarang, ketika pikiranku kembali ke kantor itu, keprihatinanku selalu muncul, bertanya-tanya tentang nasib kawan-kawan di sana, dan nasib kantor yang telah kutinggalkan.

Ketika berpikir tentang kantor yang baru kutempati, ketidakyakinan yang sama juga muncul. Seperti flashback ke masa silam di kantor lama sebelum tahun 2009. Semua harus dibangun kembali, semua harus ditata kembali, semua harus diinjeksi dengan serum semangat dan harapan. Suatu saat kantor ini akan melesat menjadi Kantor Juara, seperti kantor lama di masa kejayaannya, itulah harapanku. Kini, aku pun telah menjadi bagian dari kepemimpinan yang ada. Semoga Sang Kuasa senantiasa menganugerahkan kepadaku kekuatan lahir dan batin.




Friday, November 14, 2014

Surat Untuk Anak-anakku Tersayang
[Setiap Kita Hidup Untuk Sebuah Misi]

Dear anak-anakku sayang,
Papi sangat merindukan kalian. Jika kalian mengerti, betapa papi setiap saat ingin melihat wajah-wajah kalian. Betapa hati papi begitu sedih setiap mengenang kelahiran kalian. Tak satu pun dari kalian yang lahir dengan kehadiran papi. Padahal kalian adalah pelengkap hidup papi, penyejuk pandangan papi. Papi sadar kalian pun belum pernah puas mengarungi hari bersama papi. Kalian hadir ketika papi harus mengarungi negeri ini, melayani negeri ini, melayani bangsa kita ini. Peran papi mungkin begitu kecil, begitu remeh, bahkan tak pernah dihiraukan oleh siapa pun. Bagaimana pun ingin papi sampaikan kepada kalian, anak-anakku, bahwa sudut-sudut negeri kita berkembang seperti hari ini juga karena kehadiran papi di situ. Peran papi memang kecil, dan papi selalu berusaha memberikan buah pikiran papi agar semua hal yang ada di sekitar papi dapat berjalan dengan lebih baik. Papi hanya percaya bahwa setiap kita hadir ke dunia ini untuk sebuah misi. Terus terang anak-anakku, dengan hidup seperti ini ribuan mimpi papi telah mati. Mungkin ini takdir papi, hanya menjadi seorang biasa. 

Sekarang papi hanya berpikir untuk menjadikan kalian orang-orang yang lebih baik daripada papi. Papi ingin kalian menjadi orang-orang yang memiliki peran lebih besar untuk bangsa ini. Papi berusaha mengumpulkan dana untuk pendidikan kalian. Kalian harus lebih daripada papi. Jika papi seorang sarjana, kalian harus menjadi master. Jika papi suatu saat menjadi master, kalian harus berhasil menjadi doktor. Jangan pernah putus asa Sayangku, darah papi mengalir di tubuh kalian. Papi yakin apapun kemampuan yang diberikan Sang Kuasa kepada Papi, akan DIA turunkan pula kepada kalian, dan papi sudah melihat itu pada diri kalian. Kalian cantik-cantik dan cerdas. Kualitas kalian berbeda dengan kualitas anak-anak lain yang papi temui. Jangan pernah rendah diri, Sayangku, kalian memiliki hal-hal yang tak dimiliki siapa pun. Memang ada saat-saat di mana papi hampir putus asa, tapi papi terus berusaha, kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak?

Anak-anakku Sayang, ingatlah suatu saat ketika kalian sudah menjadi seseorang, apapun yang kalian lakukan akan sangat berarti buat orang lain. Apapun pekerjaan kalian kelak, kalian akan membuat hidup orang lain menjadi lebih mudah. Jadi, lakukanlah pekerjaan kalian dengan sepenuh hati. Cobalah kalian lihat para penyapu jalanan. Jika mereka melakukan pekerjaan mereka dengan baik, orang-orang dapat melalui jalanan dengan nyaman, dengan melalui jalanan itu saja rasa depresi mereka menjadi berkurang. Apalagi ketika para penyiram bunga juga menyirami bunga sepanjang jalan itu dengan sungguh-sungguh, jalanan itu kan membuat pikiran orang-orang yang melaluinya menjadi semakin sejuk & segar. Mungkin sebagian dari mereka tidak menyadari itu, Sayangku, bahwa pekerjaan mereka juga sesuatu yang sangat mulya dan bermanfaat bagi orang banyak. Jadi anak-anakku, cintailah apapun pekerjaan kalian kelak. Sang Pencipta telah menyiapkan misi untuk kalian semua, jalanilah misi yang harus kalian emban dengan sungguh-sungguh. 

Sayangku, kita semua adalah agen perubahan, kita semua adalah subjek yang mengubah dunia. Ingatlah Sayangku, bukankah kita telah ditunjuk Sang Kuasa sebagai pewaris bumi ini? Nasib dunia ini suatu saat nanti akan bergantung pada kalian. Jadikanlah bumi ini tempat yang nyaman untuk ditinggali. Sayangku, sesungguhnya papi tak tahu bagaimana teman-teman sejawat papi memandang pekerjaan kami ini. Entah seberapa banyak orang yang memiliki komitmen perubahan seperti papi. Di mana pun papi berada, papi ingin tempat itu menjadi tempat yang lebih baik daripada masa-masa sebelumnya. Kini papi sudah menjadi pemimpin di tingkat pertama, dan semakin banyak papi melihat perbedaan-perbedaan pada lebih banyak orang. Menjadi pimpinan adalah sesuatu yang mudah, Sayangku, namun memimpin adalah proses tiada akhir. Di antara komitmen papi untuk memperbaiki keadaan, papi menghadapi banyak kendala dari orang-orang. Tidak semua memiliki persepsi yang sama, tidak semua memiliki komitmen yang sama. Thus, managing people adalah tantangan terbesar dalam kehidupan karier papi saat ini. 

Anak-anakku, papi mengerti kalian pun merindukan kehadiran papi. Kalian masih belum puas duduk di pangkuan papi, belum puas berdiskusi dengan papi, belum puas curhat, belum puas jalan-jalan, belum pernah menikmati hasil masakan papi, atau bahkan juga mungkin belum merasakan bahwa sosok papi ada untuk kalian. Dengan jarak yang terentang ini kalian harus menjadi orang-orang yang kuat, Sayangku, kalian harus mampu hidup mandiri, kalian harus menjadi para pemberani, kalian harus pandai mengambil pelajaran dari setiap kisah perjalanan hidup kita. Papi selalu berdoa untuk kalian, sebagaimana papi juga selalu berharap doa dari kalian. Papi sangat mencintai kalian. 

Love you always, 
Papi




Sunday, November 2, 2014

SALING MENGISI DI SUDUT NEGERI
Gelar Peringatan Hari Oeang Ke-68 di Larantuka

Luar biasa!!! Ucapan itu memang pantas diterima panitia Hari Oeang Ke-68 di Larantuka. Berhasil menggelar rangkaian kegiatan selama 2 minggu penuh dengan persiapan singkat merupakan prestasi bersama yang membanggakan. Berlangsung dari tanggal 20 Oktober hingga 1 November yang baru lalu, kegiatan tersebut ditangani oleh orang-orang yang sehari-hari terkait langsung dengan hal-ikhwal pengelolaan keuangan negara.

Seluruh kegiatan dimaksud melibatkan kurang lebih 350 orang yang berasal dari KPPN Larantuka, KP2KP Larantuka, lembaga keuangan bank (Bank NTT, BRI, BNI, Mandiri, BPR BUD), dan non-bank (Pegadaian dan Posindo), Polres Flores Timur, serta Sekolah Menengah Umum dan Sekolah Menengah Kejuruan di Larantuka. Selama 2 minggu panitia berhasil menggelar 16 pertandingan bola voli dan futsal. Pada tanggal 29 Oktober, bekerja sama dengan unit transfusi darah RSUD Larantuka, panitia berhasil menghimpun 32 kantung darah dalam aksi Donor Darah ORI. Selain itu, pada Hari Oeang tanggal 30 Oktober juga disalurkan 1 paket bantuan material bangunan dan 1 paket keperluan sehari-hari kepada yayasan panti asuhan acamister.

Puncak acara peringatan Hari Oeang Ke-68 tanggal 30 Oktober 2014 ditandai dengan upacara pengibaran bendera. Bertidak sebagai pembina upacara adalah Kepala KPPN Larantuka. Upacara yang digelar di halaman KPPN Larantuka tersebut melibatkan petugas gabungan yang dipilih dari seluruh instansi terkait. Hari Oeang merupakan peringatan tahunan untuk mengenang kembali detik-detik beredarnya Oeang Republik Indonesia (ORI) pada tahun 1946. Mata uang tersebut hingga saat ini kita gunakan sebagai alat pembayaran yang sah dengan satuan Rupiah.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan tahun ini memiliki nuansa yang berbeda. Di luar dugaan, pihak-pihak terkait yang tergabung dalam kepanitiaan menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Ajang silaturahmi di antara pihak-pihak yang terkait dengan pengelolaan keuangan negara di Larantuka pun akhirnya terwujud. Lokasi yang jauh dari kota besar tidak menyurutkan semangat para punggawa keuangan di Larantuka untuk berprestasi. 

“Mempererat jalinan silaturahmi antara Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Larantuka dan stakeholders, yaitu mitra kerja perbankan maupun mitra kerja non-bank,” demikian Kepala KPPN Larantuka Zulkarnaen Siregar, selaku Ketua Panitia mengungkapkan maksud dan tujuan kegiatan ini. Dalam sambutannya di hadapan Plh. Bupati Flores Timur, dan segenap keluarga besar keuangan di Larantuka, Kepala KPPN Larantuka menjelaskan bahwa KPPN Larantuka dengan mitra kerja yang tergabung dalam kegiatan ini merupakan sebuah keluarga besar pengelola keuangan negara di daerah, yang setiap saat berinteraksi dan bekerja sama dalam rangka menunjang pembangunan nasional. Oleh karena itu, sudah selazimnya memiliki ikatan silaturahmi dan komunikasi yang erat untuk menunjang kerja sama yang telah terjalin.

Kedua, lanjutnya, tujuan rangkaian kegiatan Hari Oeang ini adalah untuk meningkatkan kinerja para pegawai instansi terkait. Hal ini dilakukan melalui penanaman nilai teamwork atau kerja sama tim sebagaimana tergambar dalam kegiatan olahraga yang digelar. “Menang dan kalah adalah hal yang harus terjadi dalam setiap pertandingan, bukan merupakan tujuan akhir kita, namun sejauh mana nilai-nilai sportivitas dan kerja sama dapat menginspirasi peningkatan kinerja personal, yang pada gilirannya akan meningkatkan kinerja institusional dalam rangka mencapai tujuan organisasi,” lanjut Kepala KPPN Larantuka. 

Ketiga, untuk menumbuhkembangkan kepedulian sosial, mengasah kepekaan untuk membantu sesama, utamanya bagi yang kurang mampu maupun yang membutuhkan di sekitar kita. “Beberapa hari lalu kita telah menunjukkan kepedulian tersebut melalui kegiatan donor darah kolektif dan anjangsana ke yayasan yatim piatu,” demikian Kepala KPPN Larantuka dalam laporannya, merujuk yayasan Acamister (anak cacat, miskin, dan terlantar) Duli Onan di Larantuka. 

Sebagai penutup rangkaian acara Hari Oeang Ke-68 tersebut digelar kegiatan jalan santai pada hari Sabtu 1 November 2014. Acara ini melibatkan lebih kurang 200 orang partisipan . Selain diwarnai aneka lomba dan penyerahan piala bagi juara bola voli, futsal, dan tarik tambang, dalam acara penutup ini juga dibagikan berbagai doorprize menarik yang disediakan oleh institusi perbankan di Larantuka. Semua pihak berharap agar kegiatan ini digelar lagi tahun depan dengan skala yang lebih besar. [SP]




Thursday, October 30, 2014

OLAHRAGA!!! (Sambutan Menteri Keuangan 2014)

Atas nama Kementerian Keuangan dan pribadi, saya juga memberikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pegawai yang telah bekerja keras dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai punggawa keuangan negara. Terus jalin erat persatuan dan kesatuan di antara pegawai, baik melalui kegiatan formal di tempat kerja, maupun melalui wahana informal seperti kegiatan olahraga. Ragam kegiatan tersebut memiliki daya rekat yang tinggi untuk menciptakan kekuatan Kementerian Keuangan sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif di abad 21.

(Sambutan Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro pada Peringatan Hari Oeang Ke-68 Tahun 2014)




SAMBUTAN MENTERI KEUANGAN
PADA PERINGATAN KE-68 HARI OEANG

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera untuk kita semua,

Saudara-saudara yang berbahagia,
Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga pada hari ini kita masih diberi kesempatan untuk merayakan peringatan ke-68 Hari Oeang, serta masih dapat menjalankan tugas dan pengabdian kepada bangsa tercinta.

Menengok ke catatan sejarah bangsa Indonesia, sebuah peristiwa penting terjadi pada tanggal 30 Oktober 1946. Hari itu, Pemerintah Indonesia mengedarkan Oeang Republik Indonesia (ORI) untuk pertama kalinya, serta menyatakan bahwa uang Jepang, uang NICA, dan uang Javasche Bank sudah tidak berlaku lagi. ORI diterima dengan penuh rasa bangga oleh seluruh rakyat Indonesia. Mata uang ini menjadi lambang kedaulatan bangsa Indonesia, wujud rasa percaya diri akan keberadaan sebuah negara yang baru berdiri.

Kelahiran ORI menginspirasi kita untuk meneladani tindakan kepahlawanan di masa lalu. Semangat dan perjuangan untuk menjaga dan mempertahankan kedaulatan bangsa itu nyata adanya. Peristiwa besar tersebut juga mengilhami kita untuk menciptakan peristiwa gemilang di masa kini dalam bentuk perjuangan yang berbeda. Untuk itu, melalui peringatan Hari Oeang, saya mengajak seluruh keluarga besar Kementerian Keuangan, mari kita gelorakan semangat di dada masing-masing dalam perjuangan mengawal keuangan negara menuju Indonesia jaya.

Saudara-saudara,
Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, pada tanggal 17 Agustus 2014, Pemerintah Indonesia secara resmi menerbitkan mata uang rupiah berfrasa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peluncuran uang NKRI tersebut merupakan salah satu peristiwa penting hasil kerja keras bertahun-tahun. Proses pembahasan Undang-Undang tersebut telah dirintis sejak tahun 2006, dan penetapannya baru dilakukan pada tahun 2011.

Selain menunaikan amanat undang-undang, penerbitan uang NKRI juga memiliki filosofi tersendiri. Uang NKRI merupakan manifestasi Pemerintah yang diwakili oleh Menteri Keuangan dan Bank Indonesia. Lambang Garuda Pancasila, frasa NKRI, dan tanda tangan dua pejabat Pemerintah mempertegas posisi mata uang rupiah sebagai milik NKRI. Peluncuran uang NKRI juga menjadi momentum yang sangat baik bagi negara kita untuk menjadikan rupiah sebagai tuan rumah di negeri sendiri.

Selain itu, uang NKRI akan semakin dihargai dan dihormati mengingat bahwa setiap transaksi yang mempunyai tujuan pembayaran, penyelesaian kewajiban lainnya yang harus dipenuhi dengan uang, dan/atau transaksi keuangan lainnya yang dilakukan di seluruh wilayah NKRI wajib menggunakan rupiah dengan konsekuensi hukum pidana bagi yang tidak mematuhinya. Dengan uang NKRI ini, kita jadikan kedudukan rupiah semakin kuat sebagai alat pembayaran yang sah dalam kegiatan perekonomian nasional dan internasional guna mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Saudara sekalian,
Peringatan Hari Oeang tahun 2014 berdekatan waktunya dengan terbentuknya pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Oleh karena itu, tepatlah kiranya jika peringatan Hari Oeang tahun ini mengangkat tema "Dengan Semangat Baru, Kita Selaraskan Gerak Kerja Kemenkeu untuk Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan".

Semangat baru dalam kabinet baru diharapkan dapat membawa tambahan energi untuk membangun negeri. Pilihan tema dimaksud juga menunjukkan tekad Kementerian Keuangan untuk dapat bekerja dalam sinergi dan kerja tim yang solid, baik di dalam internal organisasi, maupun dengan kementerian/lembaga lain. Bersama seluruh elemen pemerintahan lainnya, Kementerian Keuangan akan berkoordinasi dalam keselarasan gerak langkah menuju peningkatan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan.

Meningkatkan daya saing, meningkatkan ketahanan ekonomi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif adalah beberapa upaya Pemerintah untuk memantapkan perekonomian nasional. Sementara itu, untuk mewujudkan peningkatan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan, Pemerintah telah dan akan terus memperjuangkan pembangunan sumber daya manusia (SOM) berkualitas, penurunan kemiskinan dan pengangguran, mitigasi bencana, dan program peningkatan kesejahteraan rakyat lainnya.

Hadirin yang berbahagia,
Pada tanggal 28 Oktober 2014 kemarin, seluruh bangsa Indonesia juga memperingati Hari Sumpah Pemuda, yaitu momentum historis yang kental dengan heroisme. Melalui Sumpah Pemuda, para pemuda memperjuangkan gagasan tentang negara Indonesia. Sumpah Pemuda juga merupakan pengejawantahan dari upaya mengangkat harkat dan martabat negara Indonesia agar menjadi bangsa yang mandiri dan sejajar dengan bangsa lain.

Dengan peringatan tersebut, para pemuda yang merupakan generasi penerus bangsa diharapkan dapat meningkatkan kualitas dirinya menjadi  SDM yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing sehingga dapat berkompetisi dalam persaingan global. Apalagi sesaat lagi, kita akan menghadapi ASEAN Economic Community 2015. Negara kita harus memiliki strategi jitu untuk meningkatkan daya saing nasional secara keseluruhan. Waktu yang tersisa menjelang ASEAN Economic Community 2015 harus dihadapi dengan melakukan berbagai aksi nyata, utamanya yaitu dengan menyiapkan SOM yang mampu bersaing dengan SOM dari negara ASEAN lainnya.

Saudara-saudara,
Beberapa waktu lalu, Presiden Republik Indonesia telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk memimpin Kementerian Keuangan. Saya bertekad akan memimpin Kementerian Keuangan dengan segenap jiwa dan kemampuan saya. Akan tetapi, dalam menunaikan amanah ini, saya sangat membutuhkan dukungan, bantuan, dan kerja sama dari segenap pejabat dan pegawai Kementerian Keuangan. Ke depannya, kita akan melanjutkan program-program berjalan, dengan melakukan penyempurnaan dan inovasi supaya tercapai solusi dari berbagai persoalan. Fundamental perekonomian nasional harus semakin kita perkuat supaya tangguh dalam menghadapi tantangan ekonomi ke depan.

Melalui sambutan ini, saya ingin mengajak seluruh elemen Kementerian Keuangan untuk bekerja keras dalam menunaikan tugas dan pekerjaan yang telah dipercayakan kepadanya. Saya optimis, bahwa ekonomi kita dapat tumbuh tinggi, jika kita mampu tetap menjaga, mengembangkan, dan menjalankan kebijakan fiskal yang prudent dan sehat. Ke depannya kita juga mampu menyusun kebijakan yang mendukung peningkatan investasi di Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, investasi merupakan sumber pertumbuhan, selain konsumsi dan ekspor yang kuat. Investasi yang baik akan mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dengan ekonomi yang kuat, negara kita akan lebih kuat menghadapi gejolak ekonomi, baik akibat pengaruh domestik, maupun pengaruh global. Untuk itu, saya mengharapkan sumbangsih waktu, tenaga, dan pikiran Saudara sekalian untuk mewujudkan hal tersebut.

Saya juga berharap kepada segenap pimpinan Kementerian Keuangan untuk menyempurnakan pelayanan di unit masing-masing yang dipimpinnya. Kita harus bisa memastikan bahwa .masyarakat merasakan manfaat dan kehadiran dari unit-unit pelayanan Kementerian Keuangan. Kita ada untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat.

Saudara-saudara,
Pada kesempatan kali ini, saya ucapkan selamat kepada Saudara-saudara yang hari ini memperaleh penghargaan Satyalencana Karya Satya dan Piagam Penghargaan Pensiun. Loyalitas dan integritas yang Saudara-saudara tunjukkan patut diteladani oleh para pegawai lainnya. Saya juga menyampaikan selamat kepada para pemenang lomba Kantor Pelayanan Percontohan Tahun 2014. Menyuguhkan pelayanan prima kepada masyarakat bukanlah perkara mudah. Untuk menuju bentuk pelayanan ideal yang prafesional, efisien, efektif, dan optimal, diperlukan SDM berkualitas, lingkungan yang mendukung, dan waktu. Kesempurnaan layanan tidak dapat terwujud secara instan, sehingga perbaikan sektor pelayanan secara terus menerus adalah hal yang mutlak. Oleh karena itu, jangan terlena dengan prestasi yang telah dicapai, justru terus tingkatkan dan sempurnakan.

Atas nama Kementerian Keuangan dan pribadi, saya juga memberikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pegawai yang telah bekerja keras dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai punggawa keuangan negara. Terus jalin erat persatuan dan kesatuan di antara pegawai, baik melalui kegiatan formal di tempat kerja, maupun melalui wahana informal seperti kegiatan olahraga. Ragam kegiatan tersebut memiliki daya rekat yang tinggi untuk menciptakan kekuatan Kementerian Keuangan sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif di abad 21.

Mengakhiri sambutan ini, saya ucapkan selamat memperingati Hari Oeang. Sekali lagi, dengan gelora semangat baru, mari kita selaraskan gerak kerja Kementerian Keuangan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan. Mari berjuang bersama menuju Indonesia yang lebih baik. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan petunjuk kepada kita semua dalam melaksanakan pengabdian kepada bangsa dan negara.

Sekian dan terima kasih.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jakarta, 30 Oktober 2014

Menteri Keuangan
Bambang P.S. Brodjonegoro


Tuesday, October 14, 2014

KEPEMIMPINAN (I)

In my humble opinion,
Gak perlu jauh-jauh lah mencari kualitas kepemimpinan terbaik, agama kita sudah mengajarkannya sejak kecil.

Pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang sidiq (benar), amanah (dapat dipercaya), fathonah (cerdas), dan tabligh (mampu menyampaikan/melahirkan sesuatu). Kalo yang Anda cari adalah pemimpin yang terbaik, tambahkan 1 kualitas lagi, yaitu 'itsar (altruistm, mengutamakan pihak lain utamanya orang-orang yang dipimpinnya).

Saat ini mungkin pemimpin yang banyak Anda jumpai adalah orang-orang yang hanya kualitas "fathonah"nya yang unggul. Shame on us! [SP]


Saturday, June 28, 2014

Melestarikan Warisan Budaya Nusantara Melalui “Dolanan”


Permainan anak-anak yang disebut Gelathik atau Benthik, atau Pathil Lele, atau sebutan lain di berbagai daerah masih cukup populer di era 1980-an. Dolanan sederhana yang menghadapkan 2 tim ini biasanya dimainkan oleh anak laki-laki. Terdapat unsur olahraga dan keterampilan, mengajarkan keberanian, survival, dan kompetisi.Kini dolanan ini sangat jarang ditemui lagi. Menurut penuturan para ahli, setidaknya ada 3 alasan yang menyebabkan dolanan ini menjadi langka. Pertama adalah keterbatasan lahan permainan khususnya di kota-kota besar. Kedua, generasi muda saat ini lebih akrab dengan teknologi (gadget dan game-player). Ketiga, tidak adanya dukungan pemerintah khususnya dalam hubungannya dengan integrasi dunia pendidikan. Konon hal ini kiranya dapat dimaklumi karena kini Kementerian Pendidikan tidak lagi turut menangani aspek Kebudayaan. Benarkah demikian? Masihkah Anda mampu memainkan dolanan ini? Jika saat kanak-kanak Anda pernah memainkan dolanan ini, dapat disimpulkan masa kecil Anda sangat bahagia (ha ha ha…).


Untuk melestarikan permainan yang selalu membuat para pemain antusias tersebut, KPPN Marisa memainkan kembali dolanan ini dalam 2 acara Family Gathering terakhir. Yang pertama adalah pada tahun 2013 pada masa kepemimpinan Bapak Riyadi. Permainan kedua dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 2014 di bawah kepemimpinan Kepala KPPN Marisa sat ini yaitu Bapak Doddy Handaryadi. Cukup mengesankan bahwa para punggawa KPPN Marisa rata-rata lihai memainkan dolanan yang nyaris punah tersebut.


Tidak sulit untuk memainkan dolanan ini asal Anda menemukan tanah lapang dan memiliki beberapa kawan untuk dibagi menjadi 2 tim yang berlawanan. Selain itu, Anda tinggal mencari sepotong kayu kira-kira sepanjang 2 jengkal. Dari 2 jengkal itu seperempat bagiannya harus dipotong sebagai anak (patah, jawa) yang selanjutnya dalam permainan akan dipukul dengan bagian panjangnya. Kemampuan memukul patah maupun mengarahkan lemparan ke base permainan adalah modal utama untuk dapat unggul dalam setiap permainan ini. Dolanan apa yang masih Anda mainkan saat ini? Atau Anda juga lebih suka tenggelam dalam gadget yang berkembang semakin pesat dan takkan berhenti? [SP]