Tuesday, November 25, 2014

Tentang Visi - Talk is Cheap

Setiap hari kita melihat betapa dahsyat arus pemikiran umat manusia menggeliat dengan berbagai aroma dari yang positif inspiratif motivatif, maupun yang negatif provokatif destruktif. Melihatnya, tampak begitu cerdas bangsa kita, begitu majunya bangsa tercinta ini. Berbagai pendapat malang-melintang setiap hari di sekitar kita, yang kita dengar langsung dari orang-orang, yang kita lihat di televisi, yang kita baca di surat kabar, maupun yang kita temui di dunia maya, khusunya memaui jejaring sosial. Ketika kita melihat, mendengar, atau membaca, sebuah pendapat  dari seseorang, ada kalanya kita merasa tak rela, merasa bahwa buah pemikiran tersebut harus diuji kembali. Lebih jauh lagi, kadang kala kita mempertanyakan seberapa berhak mereka mengeluarkan pernyataan atau opini tersebut.

Saya tergelitik untuk menguji keberhakan itu dalam sebuah pertemuan kemarin. Sebuah pertemuan para penghuni ruang birokrasi, para pegawai negeri, tempat paling cocok untuk menguji wawasan kebangsaan warga negara. Saya yakin akan "menang" dalam pengertian dapat membuktikan hipotesis bahwa sebagian besar orang hanya pandai berbicara tanpa dasar yang kuat, atau memang hanya suka berdebat, atau bahkan menyukai perselisihan. Pada prinsipnya, sebagian besar orang memiliki dorongan yang kuat untuk diakui kepandaiannya, atau ingin disebut cerdas. Pertanyaan pertama saya mudah saja, "apa visi Indonesia saat ini?". Terlepas dari derasnya perdebatan tiap hari tentang pemerintahan dan kebijakan pemerintah, hari itu, dalam ruang pertemuan itu tak ada satu orang pun yang mampu menjawab. Bahkan dengan iming-iming bingkisan coklat batangan kecil yang saya siapkan sebelumnya, tak seorang pun berani mengangkat jari untu menjawab.

Itulah gambaran kecil kita, bangsa Indonesia hari ini. Bagaimana mungkin kita berpendapat tentang pemerintahan ini, ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita, ketika kita sendiri tidak menyadari apa gerangan yang ingin kita capai dalam beberapa waktu ke depan. Artinya, kebanyakan kita memang asal ngomong, asal ngotot, asal terlihat pintar, ketika kita mempermasalahkan sesuatu yang arahnya pun kita tak tahu. Mengapa saya pertanyakan visi kita? Karena setiap proses membutuhkan arah, begitu pun proses bernegara. Burt Nanus pernah menyatakan visi dalam kaitannya dengan organisasi dalam Visionary Leadership : Creating a Compelling Sense of Direction for Your Organization sebagai "a signpost pointing the way for all who need to understand what the organization is and where it intends to go" (Nanus, 1992). Visi ibarat (dan memang) adalah penunjuk arah, yang mencerahkan semua orang tentang posisi kita dan arah yang akan dituju selanjutnya.Bagaimana mungkin kita melakukan perdebatan yang panjang tentang sebuah (proses) perjalanan ketika kita buta akan posisi kita dan arah yang hendak kita tuju?

Hari itu dengan lancar saya ungkapkan visi Indonesia di depan audiens, visi negara yang kita cintai ini dengan berbagai hiasan penjelasan, definisi, pilar-pilar bernegara, dan seterusnya. Mungkin lebih cocok hal seperti itu saya bawakan di depan anggota kursus LEMHANAS, mengingatkan kita pada Penataran P4 yang pernah ada beberapa dasawarsa lalu. Saya ingin audiens hari itu menyadari bahwa ngomong memang gampang, tapi ngomong yang bener yang bisa dipertanggungjawabkan itu susah. Berkata-kata memang mudah, tetapi mampukah kita menepati ucapan-ucapan kita, bisakah kita meletakkan dasar yang kokoh untuk setiap perkataan kita? Pada akhirnya kita juga harus bertanya pada diri kita apakah perkataan-perkataan yang kita keluarkan bermanfaat untuk orang lain? Hari itu saya juga bermaksud menanamkan nilai patriotisme dalam diri mereka, seberapa pun kecilnya. Saya ingin meyakinkan mereka bahwa apa pun perasaan kita tentang bangsa dan negara ini, kita harus tetap membela dan memperjuangkan nasibnya. Ya, hari itu saya memang menang, bukan hal yang mengherankan, meskipun juga prihatin atas pemahaman bangsa tercinta ini atas negerinya.

........
Saat saya menulis artikel ini, sebuah panggilan rapat mendesak saya terima. Saya menuju ke ruang yang dimaksud selekas mungkin. Hal "bangsa Indonesia hari ini" pun kembali terjadi ketika kami membahas sebuah topik mengenai penggajian yang disebut-sebut bermasalah di sebuah kantor. Selama sekitar 5 tahun terakhir saya mengikuti berbagai perkembangan hal-ikhwal gaji ini, terlibat di dalamnya, hampir jungkir-balik menopang kehendak peraturan lama yang kemudian diperbaharui pada tahun-tahun terakhir. Ketika saya menjelaskan analisis saya sebagai praktisi, suara ngotot dari sebelah saya terdengar. Secara pribadi saya ingin menonjok sumber suara itu, bukan sekadar karena selama 5 tahun terakhir saya mengikuti perkembangan hal-ikhwal ini, tetapi juga karena saat ini saya merupakan person in charge untuk urusan gaji-menggaji dengan berbagai kendala aplikasi dan prosedurnya. Sedangkan yang mencoba berpolemik dengan saya setidaknya (kalaupun pernah duduk sebagai PIC) sudah 3 tahun terakhir tidak mengikuti perkembangan itu. Duh, beginilah bangsa kita hari ini; menyukai polemik, menggemari perdebatan, dan suka berkonfrontasi. Kalau kita tak mampu berubah, kapan kita bisa menjadi bangsa yang unggul??? Indeed, talk is cheap...!!! Hopefully, it's not of me.



Friday, November 21, 2014

Kembalikan SPM itu!

Akhir tahun ini pola kerja kami mulai terasa berbeda. Kabinet baru yang menghendaki penekanan pengeluaran negara membuat kedatangan instruksi ini dan itu yang intinya penekanan biaya makin kerap. Secara pribadi aku pun setuju dengan penekanan biaya, meskipun penjabaran yang sepotong-sepotong membuat sebagian kalangan ragu untuk mengambil tindakan.

Sebagai orang yang diberi wewenang approval Surat Perintah Membayar untuk 2 kabupaten ini, aku mulai lebih sering me-reject perintah-perintah tersebut. "Jangan pikirkan lagi penyerapan anggaran", kata Bapak-bapak kami di Rapat Pimpinan yang baru lalu. Ok, kita akan lebih selektif, lebih letterlijk dalam memverifikasi Surat Perintah Membayar. Alhasil, Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) dan Surat Persetujuan Pembayaran Tagihan (SPPT) yang keluar dari tanganku akan semakin sedikit.

Aku pun meminta teman-teman Validator dan Reviewer-ku untuk bekerja lebih selektif dan cermat. Kalau bisa, tak ada satu pun surat yang naik ke mejaku yang harus ku-reject lagi. Ini adalah pembelajaran untuk para mitra kerja kita. Mungkin sebelum kehadiranku mereka lebih manja dan/atau dimanja. Bukankah sudah 11 tahun kita mengajari mereka? Jadi pilihan bagi mereka hanya 2 : belajar dan berubah, atau diganti dengan orang lain yang lebih kompeten!

Haruskah kita mengutamakan tuntutan Indeks Kinerja Utama (IKU) yang telah disusun sebelumnya, atau instruksi (Presiden) yang baru? Mudah-mudahan Presiden dan kabinet baru kita benar-benar mengetahui konsekuensi keputusan yang diambil, dan mudah-mudahan juga kompensasinya. Semoga bangsa ini lekas dapat menjadi bangsa yang lebih sehat dan bermartabat. Ya, mudah-mudahan, dan aku tak harus lagi berkata : "Kembalikan SPM itu!".




Saturday, November 15, 2014

KEPEMIMPINAN (II)

Saat ini ada 2 keresahan ketika 'ku berpikir tentang kantor, kantor yang baru saja kutinggalkan dan kantor yang baru kutempati.

Jika berpikir tentang kantor lama, ketidakyakinan muncul ketika melihat kepemimpinan yang ada. Di saat-saat terakhir aku berada di sana, kulihat kecenderungan yang tidak semestinya. Yang kuharap dari setiap pimpinan baru adalah hal-hal seperti ini :
  1. bertanya tentang gagasan-gagasan yang sebelumnya muncul dan belum terealisasi;
  2. menganggap kantornya adalah rumahnya, rumah bagi dirinya & keluarganya (yaitu pasukannya, orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya);
  3. mencintai kantor dan isinya, tidak terlalu sering meninggalkan kantor dan pasukannya, memperhatikan kesejahteraan setiap orang;
  4. fokus terhadap orang-orang di sekitarnya, pasukannya, kantornya, bukan fokus pada pihak-pihak di luar lingkaran itu;
  5. menerima masukan setiap orang dengan hati terbuka, sebagai keluarga, tanpa prasangka buruk, apalagi sampai menyakiti hati mereka.
Teringat kembali masa-masa kejayaan KPPN Marisa dulu ketika Bapak kita, Direktur Jenderal Perbendaharaan, pun sudi mengunjungi kami di tahun 2009. Memang kami saat itu bekerja keras, pimpinan kantor sangat menghargai kantor sebagai rumah kami semua, rumah yang juga terbuka untuk siapa saja. Kualitas-kualitas seperti tertulis di atas telah beliau praktikkan dengan penuh semangat dan tulus. Dan ketika beliau harus meninggalkan rumah kami itu pun isak tangis pecah. Tidak perlu banyak orang untuk melakukan perubahan. Cukup dimulai dengan 3 orang visioner yang akan mengajak semua orang bergerak, dan saat itu memang demikian keadaannya. Sekarang, ketika pikiranku kembali ke kantor itu, keprihatinanku selalu muncul, bertanya-tanya tentang nasib kawan-kawan di sana, dan nasib kantor yang telah kutinggalkan.

Ketika berpikir tentang kantor yang baru kutempati, ketidakyakinan yang sama juga muncul. Seperti flashback ke masa silam di kantor lama sebelum tahun 2009. Semua harus dibangun kembali, semua harus ditata kembali, semua harus diinjeksi dengan serum semangat dan harapan. Suatu saat kantor ini akan melesat menjadi Kantor Juara, seperti kantor lama di masa kejayaannya, itulah harapanku. Kini, aku pun telah menjadi bagian dari kepemimpinan yang ada. Semoga Sang Kuasa senantiasa menganugerahkan kepadaku kekuatan lahir dan batin.




Friday, November 14, 2014

Surat Untuk Anak-anakku Tersayang
[Setiap Kita Hidup Untuk Sebuah Misi]

Dear anak-anakku sayang,
Papi sangat merindukan kalian. Jika kalian mengerti, betapa papi setiap saat ingin melihat wajah-wajah kalian. Betapa hati papi begitu sedih setiap mengenang kelahiran kalian. Tak satu pun dari kalian yang lahir dengan kehadiran papi. Padahal kalian adalah pelengkap hidup papi, penyejuk pandangan papi. Papi sadar kalian pun belum pernah puas mengarungi hari bersama papi. Kalian hadir ketika papi harus mengarungi negeri ini, melayani negeri ini, melayani bangsa kita ini. Peran papi mungkin begitu kecil, begitu remeh, bahkan tak pernah dihiraukan oleh siapa pun. Bagaimana pun ingin papi sampaikan kepada kalian, anak-anakku, bahwa sudut-sudut negeri kita berkembang seperti hari ini juga karena kehadiran papi di situ. Peran papi memang kecil, dan papi selalu berusaha memberikan buah pikiran papi agar semua hal yang ada di sekitar papi dapat berjalan dengan lebih baik. Papi hanya percaya bahwa setiap kita hadir ke dunia ini untuk sebuah misi. Terus terang anak-anakku, dengan hidup seperti ini ribuan mimpi papi telah mati. Mungkin ini takdir papi, hanya menjadi seorang biasa. 

Sekarang papi hanya berpikir untuk menjadikan kalian orang-orang yang lebih baik daripada papi. Papi ingin kalian menjadi orang-orang yang memiliki peran lebih besar untuk bangsa ini. Papi berusaha mengumpulkan dana untuk pendidikan kalian. Kalian harus lebih daripada papi. Jika papi seorang sarjana, kalian harus menjadi master. Jika papi suatu saat menjadi master, kalian harus berhasil menjadi doktor. Jangan pernah putus asa Sayangku, darah papi mengalir di tubuh kalian. Papi yakin apapun kemampuan yang diberikan Sang Kuasa kepada Papi, akan DIA turunkan pula kepada kalian, dan papi sudah melihat itu pada diri kalian. Kalian cantik-cantik dan cerdas. Kualitas kalian berbeda dengan kualitas anak-anak lain yang papi temui. Jangan pernah rendah diri, Sayangku, kalian memiliki hal-hal yang tak dimiliki siapa pun. Memang ada saat-saat di mana papi hampir putus asa, tapi papi terus berusaha, kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak?

Anak-anakku Sayang, ingatlah suatu saat ketika kalian sudah menjadi seseorang, apapun yang kalian lakukan akan sangat berarti buat orang lain. Apapun pekerjaan kalian kelak, kalian akan membuat hidup orang lain menjadi lebih mudah. Jadi, lakukanlah pekerjaan kalian dengan sepenuh hati. Cobalah kalian lihat para penyapu jalanan. Jika mereka melakukan pekerjaan mereka dengan baik, orang-orang dapat melalui jalanan dengan nyaman, dengan melalui jalanan itu saja rasa depresi mereka menjadi berkurang. Apalagi ketika para penyiram bunga juga menyirami bunga sepanjang jalan itu dengan sungguh-sungguh, jalanan itu kan membuat pikiran orang-orang yang melaluinya menjadi semakin sejuk & segar. Mungkin sebagian dari mereka tidak menyadari itu, Sayangku, bahwa pekerjaan mereka juga sesuatu yang sangat mulya dan bermanfaat bagi orang banyak. Jadi anak-anakku, cintailah apapun pekerjaan kalian kelak. Sang Pencipta telah menyiapkan misi untuk kalian semua, jalanilah misi yang harus kalian emban dengan sungguh-sungguh. 

Sayangku, kita semua adalah agen perubahan, kita semua adalah subjek yang mengubah dunia. Ingatlah Sayangku, bukankah kita telah ditunjuk Sang Kuasa sebagai pewaris bumi ini? Nasib dunia ini suatu saat nanti akan bergantung pada kalian. Jadikanlah bumi ini tempat yang nyaman untuk ditinggali. Sayangku, sesungguhnya papi tak tahu bagaimana teman-teman sejawat papi memandang pekerjaan kami ini. Entah seberapa banyak orang yang memiliki komitmen perubahan seperti papi. Di mana pun papi berada, papi ingin tempat itu menjadi tempat yang lebih baik daripada masa-masa sebelumnya. Kini papi sudah menjadi pemimpin di tingkat pertama, dan semakin banyak papi melihat perbedaan-perbedaan pada lebih banyak orang. Menjadi pimpinan adalah sesuatu yang mudah, Sayangku, namun memimpin adalah proses tiada akhir. Di antara komitmen papi untuk memperbaiki keadaan, papi menghadapi banyak kendala dari orang-orang. Tidak semua memiliki persepsi yang sama, tidak semua memiliki komitmen yang sama. Thus, managing people adalah tantangan terbesar dalam kehidupan karier papi saat ini. 

Anak-anakku, papi mengerti kalian pun merindukan kehadiran papi. Kalian masih belum puas duduk di pangkuan papi, belum puas berdiskusi dengan papi, belum puas curhat, belum puas jalan-jalan, belum pernah menikmati hasil masakan papi, atau bahkan juga mungkin belum merasakan bahwa sosok papi ada untuk kalian. Dengan jarak yang terentang ini kalian harus menjadi orang-orang yang kuat, Sayangku, kalian harus mampu hidup mandiri, kalian harus menjadi para pemberani, kalian harus pandai mengambil pelajaran dari setiap kisah perjalanan hidup kita. Papi selalu berdoa untuk kalian, sebagaimana papi juga selalu berharap doa dari kalian. Papi sangat mencintai kalian. 

Love you always, 
Papi




Sunday, November 2, 2014

SALING MENGISI DI SUDUT NEGERI
Gelar Peringatan Hari Oeang Ke-68 di Larantuka

Luar biasa!!! Ucapan itu memang pantas diterima panitia Hari Oeang Ke-68 di Larantuka. Berhasil menggelar rangkaian kegiatan selama 2 minggu penuh dengan persiapan singkat merupakan prestasi bersama yang membanggakan. Berlangsung dari tanggal 20 Oktober hingga 1 November yang baru lalu, kegiatan tersebut ditangani oleh orang-orang yang sehari-hari terkait langsung dengan hal-ikhwal pengelolaan keuangan negara.

Seluruh kegiatan dimaksud melibatkan kurang lebih 350 orang yang berasal dari KPPN Larantuka, KP2KP Larantuka, lembaga keuangan bank (Bank NTT, BRI, BNI, Mandiri, BPR BUD), dan non-bank (Pegadaian dan Posindo), Polres Flores Timur, serta Sekolah Menengah Umum dan Sekolah Menengah Kejuruan di Larantuka. Selama 2 minggu panitia berhasil menggelar 16 pertandingan bola voli dan futsal. Pada tanggal 29 Oktober, bekerja sama dengan unit transfusi darah RSUD Larantuka, panitia berhasil menghimpun 32 kantung darah dalam aksi Donor Darah ORI. Selain itu, pada Hari Oeang tanggal 30 Oktober juga disalurkan 1 paket bantuan material bangunan dan 1 paket keperluan sehari-hari kepada yayasan panti asuhan acamister.

Puncak acara peringatan Hari Oeang Ke-68 tanggal 30 Oktober 2014 ditandai dengan upacara pengibaran bendera. Bertidak sebagai pembina upacara adalah Kepala KPPN Larantuka. Upacara yang digelar di halaman KPPN Larantuka tersebut melibatkan petugas gabungan yang dipilih dari seluruh instansi terkait. Hari Oeang merupakan peringatan tahunan untuk mengenang kembali detik-detik beredarnya Oeang Republik Indonesia (ORI) pada tahun 1946. Mata uang tersebut hingga saat ini kita gunakan sebagai alat pembayaran yang sah dengan satuan Rupiah.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan tahun ini memiliki nuansa yang berbeda. Di luar dugaan, pihak-pihak terkait yang tergabung dalam kepanitiaan menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Ajang silaturahmi di antara pihak-pihak yang terkait dengan pengelolaan keuangan negara di Larantuka pun akhirnya terwujud. Lokasi yang jauh dari kota besar tidak menyurutkan semangat para punggawa keuangan di Larantuka untuk berprestasi. 

“Mempererat jalinan silaturahmi antara Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Larantuka dan stakeholders, yaitu mitra kerja perbankan maupun mitra kerja non-bank,” demikian Kepala KPPN Larantuka Zulkarnaen Siregar, selaku Ketua Panitia mengungkapkan maksud dan tujuan kegiatan ini. Dalam sambutannya di hadapan Plh. Bupati Flores Timur, dan segenap keluarga besar keuangan di Larantuka, Kepala KPPN Larantuka menjelaskan bahwa KPPN Larantuka dengan mitra kerja yang tergabung dalam kegiatan ini merupakan sebuah keluarga besar pengelola keuangan negara di daerah, yang setiap saat berinteraksi dan bekerja sama dalam rangka menunjang pembangunan nasional. Oleh karena itu, sudah selazimnya memiliki ikatan silaturahmi dan komunikasi yang erat untuk menunjang kerja sama yang telah terjalin.

Kedua, lanjutnya, tujuan rangkaian kegiatan Hari Oeang ini adalah untuk meningkatkan kinerja para pegawai instansi terkait. Hal ini dilakukan melalui penanaman nilai teamwork atau kerja sama tim sebagaimana tergambar dalam kegiatan olahraga yang digelar. “Menang dan kalah adalah hal yang harus terjadi dalam setiap pertandingan, bukan merupakan tujuan akhir kita, namun sejauh mana nilai-nilai sportivitas dan kerja sama dapat menginspirasi peningkatan kinerja personal, yang pada gilirannya akan meningkatkan kinerja institusional dalam rangka mencapai tujuan organisasi,” lanjut Kepala KPPN Larantuka. 

Ketiga, untuk menumbuhkembangkan kepedulian sosial, mengasah kepekaan untuk membantu sesama, utamanya bagi yang kurang mampu maupun yang membutuhkan di sekitar kita. “Beberapa hari lalu kita telah menunjukkan kepedulian tersebut melalui kegiatan donor darah kolektif dan anjangsana ke yayasan yatim piatu,” demikian Kepala KPPN Larantuka dalam laporannya, merujuk yayasan Acamister (anak cacat, miskin, dan terlantar) Duli Onan di Larantuka. 

Sebagai penutup rangkaian acara Hari Oeang Ke-68 tersebut digelar kegiatan jalan santai pada hari Sabtu 1 November 2014. Acara ini melibatkan lebih kurang 200 orang partisipan . Selain diwarnai aneka lomba dan penyerahan piala bagi juara bola voli, futsal, dan tarik tambang, dalam acara penutup ini juga dibagikan berbagai doorprize menarik yang disediakan oleh institusi perbankan di Larantuka. Semua pihak berharap agar kegiatan ini digelar lagi tahun depan dengan skala yang lebih besar. [SP]