Thursday, July 7, 2011

TENTANG MENJADI SEORANG KSATRIA :
Sebuah Nilai Kehidupan Dalam Cerita Wayang



Beberapa tahun silam, saya menjadi bagian dari kepanitiaan seleksi beasiswa untuk para pegawai instansi tempat saya bekerja. Ada satu pertanyaan menarik pada sesi wawancara yang disodorkan oleh para interviewer kepada para calon penerima beasiswa dimaksud. “Bagaimana pendapat Anda tentang para pegawai yang pindah ke instansi lain setelah menyelesaikan pendidikan yang lebih tinggi?”, kurang lebih demikian isi pertanyaan tersebut.
Pertanyaan di atas didasari kenyataan atas kenaikan trend perpindahan pegawai ke instansi lain, terutama para pegawai yang baru menyelesaikan pendidikan, khususnya melalui program beasiswa. Pertanyaan ini melahirkan jawaban-jawaban kontroversial, dan dari sekian puluh calon penerima beasiswa, hanya satu jawaban seorang calon yang dianggap paling memuaskan. Jawaban awal mereka kebanyakan adalah, “Menurut saya sah-sah saja, itu hak mereka…”. Ya, apapun tindakan mereka memang sah-sah saja, tentang pilihan dalam hidup. Tapi yang diminta bukan sekadar jawaban, namun respons, dan hal itu mendorong jawaban berikutnya yang tidak konsisten, respons yang jelas tidak menguntungkan untuk mereka sendiri.


KSATRIA KURAWA

Salah satu konflik terbesar dalam kisah Mahabharata yang telah di-getoktular-kan dari generasi ke generasi selama berabad-abad itu adalah konflik seorang Adhipati Karna. Karna atau Basukarna, raja Awangga, negara kecil di bawah kekuasaan Astina, sejatinya adalah kakak dari Pandawa Bros (Pandawa bersaudara), namun ia menjadi tulang punggung Kurawa. Bagi YudhistiraBima, dan Arjuna, Karna adalah kakak kandung satu ibu (Dewi Kunthi), sedangkan Nakula dan Sadewa adalah adik-adik satu Bapak (Sri Pandhu) dari ibu Dewi Madrim. Karna adalah anak dari “suami” Kunthi pertama yaitu Bathara Surya, makna harfiahnya Dewa (Penjaga) Matahari, dan dilahirkan melalui telinga sang Dewi.

Mendapati kenyataan pahit akan meletusnya perang dahsyat antara dua kekuatan besar yang notabene adalah keluarga, dengan berbagai cara Kunthi berusaha mendamaikan anak-anaknya di pihak Pandawa dan Karna yang berada di pihak Kurawa. Dengan berlinang air mata, Kunthi membujuk putera-puteranya. Ia berusaha menyadarkan Karna bahwa yang akan dihadapinya adalah adik-adiknya sendiri. Memang sangat dilematis dan menguras emosi, dan pergumulan bathin pun menyelimuti diri Karna. Baginya sifat ksatria adalah membela negaranya, membela orang-orang yang pernah menyelamatkan diri dan harga dirinya. Ia dibesarkan oleh keluarga sais/kusir sederhana bangsa Kurawa, ia menjadi raja di wilayah Kurawa karena diangkat oleh keluarga Kurawa, dan derajatnya sebagai anak pungut keluarga sederhana pun kemudian naik karena Kurawa. Namun bagaimanapun keluarga juga tetap keluarga, tidak pernah ada istilah bekas keluarga… Hujan tangis menghiasi pertemuan ibu-anak yang telah berpisah sekian lama. Keputusan Karna bulat dan akan sulit dimengerti dan diterima oleh banyak pihak. Pembelaannya akan tetap ia berikan kepada pihak Kurawa. Bhaktinya ia serahkan kepada keluarga yang oleh khalayak ramai dinyatakan sebagai pihak antagonis itu.

PILIHAN SULIT

Selain Ibunda Kunthi, Sri Kresna dan Bisma juga berusaha mendamaikan Pandawa dan Karna dengan caranya masing-masing. Banyak sifat tokoh yang sangat kontroversial muncul dalam kisah perang Mahabharata, semua itu terjadi karena mereka memiliki derajat kepribadian yang teramat tinggi. Misalnya dua tokoh pendamai tersebut. Kresna, memutuskan Pihak Pandawa dan Kurawa memilih dirinya, atau pasukannya sebagai sekutu. Kurawa memilih pasukan Kresna yang jumlahnya cukup besar, sedangkan Pandawa memilih Kresna sebagai penasihat militer dan spiritual. Dalam perang itu, Kresna maju sebagai sais kereta perang Arjuna, tanpa senjata. Sedangkan Bisma selaku Panglima Perang Kurawa, terlepas dari perbedaan versi cerita, meskipun satu pasukan dengan Karna (kelak akan menggantikan Bisma sebagai Komandan Lapangan setelah Bisma jatuh) namun tak menginginkan Karna ikut memerangi Pandawa, ia sendiripun demikian. Begitu juga ketika ia bertemu dengan divisi pasukan yang dipimpin olehSrikandi, Bisma menghindar, menolak bertempur karena aturan perang tidak mengizinkan pembunuhan terhadap wanita.

GUGURNYA PARA KSATRIA

Pertempuran besar yang menurut penelitian beberapa orang ahli benar terjadi sekitar tahun 1000 hingga 5000 sebelum masehi itupun pecah selama 18 hari. Dalam perang yang berlangsung di darat dan udara itu banyak ksatria utama dari kedua belah pihak gugur satu-persatu. Konon, di hari kesepuluh pertempuran, Bisma sang Komandan Lapangan Kurawa jatuh dihujani anak panah Arjuna dan pasukannya karena menghindari pertempuran dengan Srikandi. Meski tumbang, tubuhnya tidak menyentuh tanah karena ditopang berpuluh anak panah. Ia masih hidup beberapa hari kemudian untuk menyaksikan kekalahan Kurawa.

Adhipati Karna sendiri konon gugur pada hari ke-17 di ujung panah Pasopati milik Arjuna, adik kandungnya sendiri. Ia sebenarnya telah mengalahkan 4 orang Pandawa yang lain, namun sesuai janjinya kepada ibunda Kunthi, ia tidak membunuh mereka. Pertarungan melawan Arjuna pun beberapa kali terjadi, namun hasil akhir tertunda karena matahari terbenam dan pertempuran hari itu harus berakhir. Sebelum berangkat ke medan laga, ia meninggalkan sepucuk surat perpisahan untuk istrinya, Surtikanthi. “Jangan engkau bersedih. Aku memang mengulang kegetiranku. Di dunia kita yang telah dinubuat ini, Istriku, seseorang hanya mendapatkan dirinya tak jauh dari pintunya berangkat. Betapa menyesakkan! Sebab itu, Istriku, aku harus membuktikan bahwa seseorang ada, seseorang menjadi, karena tindakannya, karena pilihannya – bukan karena ia telah selesai dirumuskan”, demikian salah satu penggalan isi suratnya.

Menurut sebuah versi, kematian Karna memang sangat elegan. Hari itu ia berangkat ke medan laga padang Kurusetra dengan mengenakan pakaian serba putih, seperti bersiap menjemput kematian. Begitu banyak ksatria yang telah gugur, dan kini gilirannya untuk menghadapi Arjuna. Karna dan Arjuna sama-sama jawara panah, keduanya pernah mendapat ilmu dari guru yang sama dengan cara yang berbeda. Namun kini panah sakti Kuntho miliknya telah lebur dalam jenazah Gatotkaca, ia menggunakan panah lain Nagasatra. Di samping semua kutukan dari orang-orang suci, Karna memutuskan untuk tidak membunuh adiknya sendiri, lebih baik ia yang gugur.

SEORANG KSATRIA

Yang ditunjukkan oleh Karna adalah rasa terima kasih, rasa syukur, yang menurutnya demikianlah sifat ksatria. Begitu berartinya makna sebuah pemberian dari orang lain sehingga bagaimanapun caranya harus selalu dibela. Ia dibuang oleh ibunya begitu ia lahir, mengalami berbagai penderitaan hidup sebagai rakyat jelata, menerima berbagai penolakan dari para bangsawan bahkan wanita pujaan, dan pelecehan harga diri karena ia hanya anak seorang sais. Karna memang kontroversial. Ia adalah seorang yang “punya gengsi”, namun juga bersumpah akan selalu menjadi orang yang dermawan. Apapun yang diminta orang yang tak perpunya, akan selalu ia berikan, bahkan tatkala harus menyayat kulitnya untuk melepas baju perang.

Sebagai tokoh yang digembleng oleh pahitnya kehidupan, ia adalah seorang yang kuat menahan rasa sakit. Suatu hari ketika ia sedang berguru, Parasurama gurunya tidur di atas pangkuannya. Tiba-tiba muncul serangga menggigiti paha Karna. Demi menjaga agar gurunya tidak terbangun, dibiarkan pahanya terluka agar dirinya tidak bergerak sedikit pun. Ketika Parasurama bangun dari tidur, ia terkejut melihat Karna berlumuran darah. Kemampuan Karna menahan rasa sakit telah menyadarkan Parasurama bahwa muridnya itu ternyata bukan dari golongan brahmana, melainkan seorang ksatriai, yang jelas tidak ia sukai. Karnapun diusir dan dikutuk!

Ia gugur di medan perang sebagai seorang ksatria yang dikagumi banyak pihak. Ia adalah tokoh dengan kepribadian yang kompleks, namun pada dasarnya berhati lembut dan tulus. “Rasanya akulah salah satu batu gunung itu, Surtikanthi, yang menerbitkan perciknya sendiri. Inilah kemerdekaanku. Arjuna memilih pihaknya karena darah yang mengalir di tubuhnya, aku memilih pihakku karena kehendakku sendiri. Arjuna berperang untuk sebidang kerajaan yang dulu haknya, aku berperang bukan untuk memperoleh. Maka, jika aku esok mati, istriku, kenanglah kebahagiaan itu. Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu, ketika kau memandangku…”

SEKADAR PENGINGAT

Negara ini tidak sekadar membutuhkan orang-orang yang pintar, namun juga orang-orang yang benar. Orang yang sekadar pintar hanya akan melahirkan jiwa-jiwa penghasut seperti ditunjukkan oleh Patih Shakuni (Sengkuni). Kemerdekaan sejati adalah hilangnya rasa takut dalam diri terhadap suatu apapun, kecuali kepada Sang Khalik. Jadikan puasa ini ajang untuk mengasah kepekaan bathin tentang penderitaan orang-orang yang “kurang beruntung” di sekitar kita. Rasa syukur dan terima kasih adalah sebuah wujud sifat ksatria. Berterima kasihlah kepada sesama, dan bersyukurlah kepada Sang Kuasa yang telah memberikan berbagai anugerah yang takkan mungkin dapat kita hitung kuantitas dan kualitasnya. Semoga kita mampu mencapai derajat takwa… Amiin…  Selamat menyambut bulan suci Ramadhan! [SP]



No comments: