Saturday, June 27, 2009

IF LIFE GIVES YOU A LEMON, THEN MAKE LEMONADE!



Kurang lebih demikian tulisan di selembar kartu dalam sebuah film yang saya lihat sekilas beberapa waktu lalu. Jika kehidupan hanya memberi Anda buah lemon, buatlah minuman limun. Atau sering juga kita dengar orang di sekitar kita mengatakan “Nasi sudah jadi bubur, jadi bikin aja bubur ayam yang enak…”. Muatan kedua kalimat itu mungkin kurang lebih sama, bahwa tidak ada yang perlu disesali dari kehidupan dan masa lalu. Yang bisa senantiasa membuat diri kita tegar adalah kita tidak meratapi hal-hal yang tidak sesuai harapan dalam perjalanan hidup ini.

Duka dan kesedihan memang tidak akan dapat kita hindari dalam arus kehidupan. Namun, kita selalu dihadapkan pada dua pilihan; meratapi hal itu hingga menghancurkan diri kita, atau kita akan belajar darinya, mengambil hikmah, dan terus melangkah maju dengan bekal yang lebih banyak. Orang bijak mengatakan, bahwa ketika kita gagal pada suatu hal sesungguhnya secara simultan kita telah berhasil pada satu hal lain; yaitu bahwa kita mengetahui satu lagi cara untuk menghindari kegagalan. Maka cobalah untuk selalu memilih jalan kegembiraan daripada larut dalam arus kesedihan karena jalan itu akan mendekatkan diri kita ke arah kebahagiaan.


Hal lain yang tersirat dari tajuk catatan ini adalah bahwa penerimaan yang baik, penerimaan dengan pikiran positif, atas sebuah ketentuan Sang Kuasa merupakan jalan terbaik untuk terhindar dari masalah dan membuat kehidupan lebih bermakna. Artinya, ketika kehidupan hanya memberi kita buah jeruk, kita tidak layak menuntut buah apel, alpukat, atau lainnya. Mimpi dan harapan tentu sah-sah saja, namun sikap menerima apa yang ada pada saat itu merupakan sebuah kemuliaan. Bayangkan bahwa kita adalah anak-anak yang akan melakukan suatu perjalanan, dan orang tua kita membekali diri kita masing-masing dengan satu buah segar. Ketika giliran kita tiba untuk menerima buah dari tangan beliau, bukannya kata terima kasih yang keluar dari bibir kita, malah kata-kata protes. Kira-kira penilaian apa yang akan beliau berikan? Bagaimana jadinya skenario pembagian buah yang telah beliau rencanakan dan susun sebelumnya? Kiasan tersebut mungkin tidak sepenuhnya tepat untuk menggambarkan pemberian dalam kehidupan, namun tetap ada esensi yang sama.

Cerita akan menjadi lain jika kita mengungkapkan ketidakcocokan atas bagian buah itu dengan lemah lembut, penuh penghormatan, dan argumen yang logis. Orang tua kita tentu cukup bijak untuk menerima argumen logis kita dengan lapang dada. Dalam kehidupan, hal itu diejawantahkan melalui berbagai doa. Namun kehidupan tidak selalu ramah, dan yang terbaik bagi kita akhirnya adalah membuat limun segar dari buah lemon masam yang telah kita terima. Yang kita perlukan hanya memberi sedikit “bumbu” yang akan membuat air masam itu berubah menjadi manis menyegarkan!

Didedikasikan untuk Anda yang selalu berusaha berpikir positif, tidak mengeluh, selalu tegar dan tabah dalam mengarungi arus kehidupan. TTSM, McPrie [SP]


No comments: