Wednesday, June 17, 2009

Ketika Kehidupan Masih Sederhana

Jika kita mengingat-ingat kembali kehidupan kita di masa silam, segala yang terbayang sering membuat kita tak kuasa menahan senyum. Begitu banyak hal di sekitar kita telah berubah. Berbagai peralatan yang menyertai keseharian kita mengalami perkembangan yang sangat jauh, pun jalan pemikiran dan perilaku manusia berubah banyak dalam waktu, yang boleh dikatakan, cukup singkat.

NONTON TV JADUL
Hingga sekitar awal 1990-an, kita di Indonesia umumnya sudah cukup puas dengan televisi siaran tunggal, Televisi Republik Indonesia (TVRI). Selama beberapa dekade, tidak terjadi banyak perubahan yang berarti, mungkin hanya logo dan animasi pembuka berita yang terus diperbaharui. Saya sendiri tentu tidak melihat yang terjadi pada kurun waktu antara tahun 1961 (tahun pendirian TVRI) hingga paruh akhir tahun 1970-an karena saya baru lahir pada pertengahan 1970. Pada tahun 1980-an, yang bisa kita saksikan hanya siaran TVRI pkl.17.00 - 00.00 WIB pada hari Senin sampai Sabtu, sedangkan di hari Minggu siaran dimulai pada pkl.07.00. Jadwal siarannya jelas (karena memang bertahun-tahun tidak banyak berubah), dan juga terdapat beberapa iklan yang (boleh dikatakan) oligopolis, hanya ada beberapa produk yang bisa dihitung dengan jari. Jadwal tayang dan materi iklan pun selama bertahun-tahun tidak berubah. Yang membuat geli, sering kali terjadi, ketika kita berada di puncak ketegangan tontonan tiba-tiba layar tv menyempit, perlahan-lahan terus menyempit dan mati… Aki habis! Maklumlah saat itu jaringan listrik masih sangat terbatas.

Yang paling lekat di pikiran kita tentu 2 iklan produk perintis, yaitu pasta gigi Pepsodent dan anggur cap Orang Tua. Setiap pukul setengah 8 malam sebentuk bibir akan muncul di layar tv yang masa itu kebanyakan masih hitam-putih (color tv masih jarang ditemui). Pelan namun pasti, bibir itu akan menebar senyum hingga baris-baris gigi yang putih dan rapi akan terpapar memenuhi layar tv. Visual klan tersebut diakhiri dengan kilauan sinar kecil dari satu sudut gigi. Tak mau kalah, Mbak Ira Maya Sopha pun secara rutin menceriakan suasana dengan mendendangkan sebuah lagu sambil menawarkan barang dagangan berlabel “Supermie”. Seingat saya ketika itu belum ada lahir kata “Indomie”, brand product mie instan itu tampaknya belum lahir. "Orang Tua" lebih sering “menyapa” di hari Minggu siang. Langgam Jamu yang dipopulerkan Bu Waljinah akan menebarkan kesejukan di hati kita menyertai kemunculan si "Orang Tua". Biasanya, lantunan lagu merdu itu menjadi pertanda bahwa film bagus akan segera muncul di layar kaca. Dalam ingatan saya, sekuel The Six Million Dollar Man adalah film yang paling lama menghiasi layar kaca kita di masa itu.

ANAK TAHUN 70-AN
 
Sebagai anak prasekolah, saya pribadi lebih menyukai film kartun (misalnya Defenders of The Earth, atau Si Huma, produk lokal yang kemudian mengikuti), atau film boneka seperti The Puppet Show (Peggy & Kermit) atau Si Unyil (Unyil, Ucrit, & Usro’), dan kurang menyukai film-film "dewasa". Jadi ketika tv menayangkan film selain yang saya sukai, saya lebih suka keluar rumah untuk bermain kelereng, lempar uang, atau tiup karet gelang. Sesekali pergi ke sungai-sungai sekitar rumah untuk memancing atau mengail belut. Sungai-sungai kecil pun di tahun-tahun itu masih selalu mengalirkan air jernih dan "kaya ikan". Perang-perangan juga sering digelar, dengan perlengkapan tempur senapan pelepah pisang dan granat dari bentukan tanah liat, serta pakaian ghillie suit ala sniper modern yang dirangkai dari dedaunan kering. Jika pertempuran begitu sengit, begitu banyak lemparan "granat", rengek tangis pun kadang terdengar dari tengah-tengah kerumunan "pasukan". Indah, lucu, mendebarkan, dan tanpa kita sadari hal itu membentuk jiwa dan kedewasaan.

Kehidupan memang masih begitu sederhana, begitu pula yang tampak pada jalan pikiran manusia Indonesia pada umumnya. Rumah-rumah masih banyak yang berdinding gedhek, anyaman bambu belah, kebun dan pekarangan masih terbentang luas penuh pepohonan. Anak-anak kapan saja dengan leluasa dapat menyelinap masuk kebun dan bermain-main di antara semak belukar dan pepohonan tanpa terlihat. Namun siapa pun yang bermain di sana harus ekstra hati-hati, binatang liar seperti ular dan kucing kebun (blacan) masih banyak berkeliaran. Makhluk angkasa seperti burung rajawali besar & kalong, kelelawar buah, raksasa (kendho) masih sering terlihat. Kalau anak-anak sekarang bermain anak itik imitasi dari karet berwarna kuning dan berparuh oranye, anak-anak 70-an bermain langsung dengan anak itik sungguhan! Biasanya anak-anak itik tersebut sengaja dibeli dan diternakkan hingga besar dan menghasilkan telur.

Konflik di antara anak-anak di tahun-tahun itu tentu juga terjadi, namun tidak pernah menjadikannya bibit permusuhan dan dendam. Tampaknya semua konflik anak-anak akan terselesaikan dalam waktu singkat tanpa menyulut masalah yang lebih luas. Hampir semua konflik berpangkal pada permainan. Mungkin sebatas kecurangan dalam perang-perangan, atau jatuh tersungkur akibat jegalan kaki tanpa sengaja ketika bermain bentheng. Wujud konflik hanya sebatas menjaga jarak, mengejek fisik, atau saling adu-ejek nama orang tua! Setelah beberapa waktu semua itu pun akan padam seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Sangat disayangkan bahwa pada dekade ini semua konflik sederhana semacam itu dapat melahirkan tindak pidana.

MUSIK
Bagaimana dengan musik, adakah band seperti saat ini? Ya, ada. Grup musik pop seperti saat ini memang hanya mudah dijumpai di kota-kota besar, namun tidak berarti tak ada kelompok musik di daerah-daerah kecil. Di sana-sini ada grup musik yang sebagian besar adalah grup orkes gambus! Gendang melayu, seruling bambu, tamborin, dan bas dari rajikan ban bekas dan tong kayu atau tempayan kecil (buyung) sudah mampu menciptakan alunan musik yang mengagumkan. Di masa itu saya sering menikmati musik yang dimainkan kakak laki-laki saya bersama band-nya. Di malam hari ketika sebagian besar anak-anak dan muda-mudi bermain gobak sodor, bentheng, ataupun ndhog-ndhogan, mereka berdendang menyemarakkan suasana malam. Sederhana, sesederhana hidup kami di masa itu. Kendatipun demikian, di antara suara-suara binatang malam, semua itu terdengar begitu nikmat dan indah di telinga…
Always have faith in yourself. It is not easy to live life sometimes and face the world with a smile when you're crying inside. It takes a lot of courage to reach down inside yourself. Hold on to that strength that's still there and know that tomorrow is a new day with new possibilities. If you can just hold on long enough to see this through, you'll come out a new person - stronger, with more understanding and with a new pride in yourself from knowing you made it.
[Kathy Obara]

(mungkin) bersambung...


No comments: