Saturday, December 31, 2011

DREAM : A Mental Projection of The Muscles
(A Flash of Thought on Psychology)

SUMBER MIMPI
Mimpi bisa jadi merupakan sebuah cerminan batini dari otot-otot tubuh. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits bahwa mimpi dapat bersumber dari Sang Pencipta (mimpi baik) maupun syetan (mimpi buruk) maka mimpi yang tidak mengandung nilai baik maupun buruk (atau yang sekadar merupakan bunga tidur), memiliki kemungkinan terbesar sebagai cermin batin dari laku otot-otot tubuh ini (Silakan baca kodifikasi hadits dalam Shahih Muslim). Kata "mental/batin" di sini dipakai untuk menegaskan ketidakhadiran kesadaran (the absence of consciousness), tingkat atau state yang dilalui orang-orang ketika dalam keadaan tidur. Sigmund Freud menggolongkan mimpi berdasarkan sumbernya menjadi 4, yaitu external (objective) sensory stimuli, internal (subjective) sensory stimuli, internal (organic) physical stimuli, dan Purely psychical sources of excitation

Tulisan Sigmund Freud tentang mimpi "The Interpretation of Dreams" tidak menjawab keingintahuan kita tentang hal-ikhwal mimpi ini. Freud memang menyajikan sebuah hipotesis mengenai sebuah makna. Sedangkan interpretasinya "mimpi merupakan keinginan yang terepresi", tidak pula memberi kita banyak hal untuk menjawab pertanyaan tentang apa yang sesungguhnya terjadi ketika kita bermimpi. Pertanyaan ini memang sangat sulit dijawab bahkan oleh orang-orang yang mengkhususkan hidup untuk ilmu pengetahuan dan menjauhkan diri dari ikatan transendental dengan Sang Pencipta. Sayangnya, mereka tidak menyadari bahwa justru ikatan transendental itulah yang sesungguhnya memberikan benang merah jawaban atas pertanyaan tentang mimpi tersebut.

MEKANISME DAN KOORDINASI
Mengenai mekanisme mimpi baik dan buruk yang sepenuhnya bersumber dari Sang Pencipta dan bisikan syetan, sepenuhnya menjadi kehendak dan izin Sang Khalik. Kedua wujud mimpi ini bisa jadi berpengaruh secara fisik dalam pengertian gerakan otot-otot tubuh, namun tidak selalu demikian. Sedangkan mimpi yang merupakan cerminan batin otot-otot tubuh sepenuhnya tidak mengandung makna apa pun selain merupakan sebuah peringatan bagi tubuh, misalnya untuk mengubah posisi tubuh karena sebuah organ dalam posisi terjepit.

Kita mungkin pernah bermimpi lumpuh dan ketika kita terbangun rupanya otot kaki kita merasakan sakit dan kesemutan. Pada saat kaki kita terlipat, misalnya, dan menimbulkan rasa sakit, dalam posisi tubuh tertidur, otot-otot kaki yang sakit akan mengirimkan sinyal "sakit" ke otak. Para ahli sependapat bahwa sebagai pusat koordinasi, otak menerima banyak sinyal dari berbagai organ dan panca indera. Kendatipun demikian, kita hampir tidak pernah mengetahui penjelasan lebih lanjut mengenai kemampuan pengiriman sinyal oleh organ-organ ini.

Apakah ketika organ tubuh kita mendapati sesuatu keadaan maka ia akan selalu menyampaikan pertanyaan ke otak untuk memperoleh jawabannya, ataukah organ kita akan langsung mengetahuinya dan menyampaikan informasi tersebut ke otak? Jika pernyataan pertama yang benar maka dapat disimpulkan bahwa kita adalah makhluk yang lambat. Jika pernyataan kedua yang benar maka itu mengandung arti bahwa organ-organ tubuh kita secara sendiri-sendiri memiliki kemampuan mengetahui bahkan berpikir (intelligence).

SEL DAN INTELEGENSI
Terlepas dari kedua hipotesis tersebut, ketika sebuah organ kita contohkan sakit pada saat kita tidur, informasi ini akan membentuk sebuah citra mimpi sedemikian rupa sehingga pada akhirnya kita terbangun (dan mendapati sakit pada organ yang sesungguhnya). Dari sini kita mendapati banyak pertanyaan yang signifikan, antara lain :
  1. Jika otak memang satu-satunya pusat pengolah intelegensi, mengapa otak tidak langsung menyajikan informasi ke seluruh tubuh seperti : 'kaki sakit karena terjepit'?
  2. Bagaimana mekanisme penyampaian informasi 'kaki sakit' ke alam mimpi?
  3. Bagaimana mekanisme mimpi membangunkan tubuh, atau bagaimana mekanisme otak memperoleh kesadarannya kembali?
  4. Bagaimana sesungguhnya mekanisme koordinasi otak dan organ-organ tubuh dalam hubungannya dengan keadaan sadar dan tidak sadar?
Ketika lidah kita mengecap sesuatu, apakah lidah kita mengidentifikasi rasa sebagai 'manis' dan menyampaikan informasi ke otak sebagai 'manis', kemudian otak menyimpulkannya sebagai 'gula'? Ataukah lidah kita secara independen mengidentifikasi 'manis', dan menyimpulkan 'manis dari gula', kemudian menyampaikannya ke otak? Tugas siapakah untuk menyimpulkan? Kita sekarangmempunyai hipotesis bahwa "organ-organ kita (atau lebih khusunya sel-sel tubuh kita) memiliki intelegensi masing-masing".


Hal tersebut dapat kita pahami ketika kita mengalihkan perhatian pada pertumbuhan sel. Ambillah sebuah contoh ketika kulit kita tersayat benda tajam. Dalam waktu tertentu luka sayat tersebut akan kembali ke posisi semula dengan regenerasi sel. Apakah regenerasi ini semata-mata merupakan perintah otak, dengan kata lain sel membelah atau melakukan regenerasi sesuai perintah otak, ataukah dengan intelegensinya sendiri sel beregenerasi dan menyembuhkan luka (berdasarkan hukum alam)? Bagaimana otak memerintahkan sel untuk membelah atau beregenerasi padahal otak sendiri secara fisikal juga (sekadar) merupakan kumpulan sel?

[bersambung, mungkin...]

No comments: